Lombok Post
Metropolis

Tolong, Longsor… Longsor!

longsor
HARUS DITANGANI : Wali Kota Mataram (bertopi) bersama seorang warga meninjau bangunan Kandang Kumpul yang terkena longsor, kemarin (4/12).

MATARAM – Hujan yang melanda Kota Mataram Sabtu (3/12) dan Minggu kemarin (4/12) menyebabkan banjir dan pohon tumbang. Tidak itu saja, hujan juga menyebabkan longsoran di perbatasan Kota Mataram dan Lombok Barat, tepatnya di tebing Sungai Midang, Rembiga. Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun separuh tembok bangunan semipermanen kandang kumpul warga dan tembok rumah di bawah tebing, hancur.

Longsor ini terjadi pada Sabtu sore. Kemarin, setelah mendapat laporan warga, wali kota, di dampingi sekda, asisten II, dan kadis Pekerjaan Umum (PU) meninjau lokasi. a�?Panjang longsor sekitar 20 meter,a�? ungkap Kadis PU Kota Mataram Mahmuddin Tura.

Longsor diduga akibat kawasan itu berubah menjadi kawasan resapan air. Sementara, kandang kumpul dibangun persis di bibir tebing sungai. Tidak adanya talud di bibir tebing membuat kontur tanah setelah hujan menjadi rapuh.

a�?Sementara di bawah ada rumah warga. Jaraknya hanya 5 meter dari tebing yang longsor,a�? terangnya.

Saat runtuh, tanah longsor menghantam tembok rumah warga. Dikatakan, penghuni rumah sempat panik. Untungnya mereka dapat menyelamatkan diri. Sementara, ternak-ternak dievakuasi warga ke tempat yang lebih aman.

a�?Akan ditangani BPBD dengan dana tanggap darurat. Sedangkan PU mendampingi secara teknis,a�? jawab Tura. Tura menaksir, anggaran yang dibutuhkan untuk memperbaiki talud sekitar Rp 100 juta.

Untuk kasus longsor ini lanjut dia, sebenarnya tidak hanya terjadi di Rembiga. Kasus serupa juga menimpa kawasan tebing tepi sungai di Bertais. Di sana kondisinya, bahkan lebih parah dari kasus di rembiga. Hanya saja untuk penanganan longsor di tempat ini, belum diputuskan siapa yang mendanai. Apakah menggunakan anggaran dari PU atau BPBD Kota Mataram.

a�?Besok (hari ini, Red), kita bahas siapa yang akan menangani. Di Bertais juga paling tidak butuh anggaran Rp 100 juta untuk talud,a�? jelasnya.

Penyebab longsor di dua tempat ini persis sama. Tempat itu berubah jadi daerah resapan air sehingga membuat kontur tanah menjadi rapuh. Tidak adanya talud untuk menahan tebing, membuat tanah menjadi rapuh.

a�?Keduanya memang harus segera ditangani. Apalagi, sekarang hujan sepertinya gak berhenti-berhenti. Khawatirnya, longsor lebih parah bisa saja terjadi sewaktu-waktu,a�? ujarnya.

Sementara itu BMKG Stasiun BIL memprediksi cuaca ekstrim ini masih akan terjadi beberapa hari ke depan. a�?Hampir setiap hari akan terjadi hujan disertai petir,a�? ujar Kepala BMKG Stasiun BIL Oral Sem Wilar, kemarin.

Hujan disertai angin kencang juga sangat mungkin terjadi. Bahkan kalkulasi Stasiun Meteorologi BIL, hari ini potensi hujan lebat akan terjadi dibarengi adanya potensi thunderstorm atau badai petir. Hal tersebut bisa saja memicu bencana alam, sehingga harus diwaspadai.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Dedy Supriadi mengatakan, ada sejumlah potensi bencana yang mungkin mengancam. Di antaranya banjir, pohon tumbang akibat angin kencang, dan longsor.

Kenyataannya akhir pekan kemarin, ketiga bencana yang dikhawatirkan itu benar-benar terjadi. Yang pertama, banjir melanda Jempong. Di sana, sejumlah rumah tergenang karena saluran yang mapet tertutup sedimentasi tanah dan pasir, juga sampah. Siang harinya sebuah pohon di dekat Masjid Raya tumbang akibat angin yang menerjang saat hujan deras turun. Disusul longsor yang terjadi di bantaran sungai di perbatasan Kota Mataram dan Rembiga.

a�?Tim Reaksi Cepat (TRC) langsung turun ke tiga lokasi tersebut,a�? jelasnya.

Tidak ada korban jiwa dalam tiga kejadian itu. namun ketiga bencana tersebut menjadi gambaran potensi musibah yang mungkin saja terjadi kembali. Karena itu, hingga kini status siaga darurat masih diberlakukan BPBD Kota Mataram 51 personil terus memantau enam kecamatan yang ada selama 24 jam.

a�?Kami bagi menjadi tiga shif, 24 jam penuh berjaga,a�? sambungnya.

Seluruh peralatan untuk mengatasi bencana ada di posko yang dipusatkan di Lingkar Selatan itu. Sedang untuk mempermudah komunikasi, setiap anggota diharuskan terus mengupcate perkembangan di tiap kelurahan dalam rentang waktu tertentu. a�?Terus kami awasi, masyarakat harap waspada juga,a�? pesannya. (yuk/zad/r3)

Berita Lainnya

Bukan Tidak Tahu, tapi Malas Patuh!

Redaksi LombokPost

Uang Nomor Dua, Paling Penting Lingkungan Bebas Sampah

Redaksi LombokPost

Mohan Bikin Kejutan di Mataram Jazz & World Music Festival 2018

Redaksi LombokPost

Setengah Hati Urusi Bisnis “Nakal”

Redaksi LombokPost

Bangunan Tua Itu Perlu Direnovasi

Redaksi Lombok Post

Gempa Lagi, Panik Lagi

Redaksi Lombok Post

Pintu Beasiswa Eropa Terbuka Lebar untuk Pelajar NTB

Redaksi Lombok Post

Gempa Lagi, Lombok Belum Stabil

Redaksi Lombok Post

Akhirnya, Revisi Perda RTRW Sah!

Redaksi Lombok Post