Lombok Post
Headline Metropolis

Si Miskin dari Pesisir

nelayan-pesisir
JARING IKAN: Salah seorang nelayan Amaq Sinim sedang memperbaiki jaring ikan di rumahnya di pesisir Pantai Lawas, Desa Mekar Sari, Praya Lombok Tengah, Sabtu (3/12).

Di laut ikan tinggal ditangkap untuk disantap. Di sawah sayur dan pangan tinggal dipetik. Hutan yang luas menyediakan sumber kehidupan. Tapi kenapa banyak miskin di sekitarnya.

***

AMAQA�Sinim duduk pasrah di teras rumah berlantai tanah. Bau kotoran sapi bercampur rintik hujan tak dihiraukannya. Pandangannya kosong pada hamparan sawah yang tak jauh dari rumah. Teringat olehnya, tanah-tanah itu dulu adalah miliknya. Tapi kini ia hanya bisa melongok dari balik kawat duri pagar rumahnya.

Tiga kali sudah Amaq Sinim mengalami penggusuran. Tapi pria renta ini nampak tenang. Ia menjadi satu-satunya warga yang tetap bertahan. Tahun 2000 silam, 40 kepala keluarga lainnya sudah angkat kaki dari kawasan Pantai Telawas, Desa Mekar Sari, Lombok TengahA� ini. Mereka terpaksa eksodus ke tempat lain karena lahan seluas 125 hektare sudah dikuasai perusahaan.

Kini gubuk bedek milik Amaq Sinim menjadi satu-satunya bangunan di tempat itu. Letaknya di pojok, hanya beberapa meter dari bibir Pantai Telawas. Untungnya, ia masih memiliki sisa lahan satu hektare untuk ditanam. Di samping itu, bila musim kemarau, ia bisa pergi melaut untuk mendapatkan ikan. “Karena dari sini saya bisa makan,a�? kata Amaq Sinim saat ditanya alasannya bertahan di gubuk itu.

Tempat tinggalnya sangat subur, lautnya kaya dengan ikan, pantainya ramai dikunjungi wisatawan. Tapi kehidupan Amaq Sinim tetap saja miskin. Ia hanya menjadi salah satu potret warga pesisir yang hidup miskin meski tinggal di tengah sumber daya alam melimpah. Nasib serupa juga dialami 69 ribu orang nelayan di NTB, banyak diantara mereka hidup miskin.

Provinsi NTB memiliki potensi sumber daya pesisir dan laut yang cukup tinggi, dengan luas laut sekitar 29.159,04 kilometer (km) per segi. Panjang pantai 2.333 km dan perairan karang sekitar 3.601 km per segi. NTB juga memiliki potensi perikanan tangkap dan budi daya luat yang besar. Dari 57.245 hektare luas area budi daya laut yang termanfaatkan hanya 16.715 hektare. Produksi perikanan tangkap sebesar 179.645 ton. Dari 25 ribu hektare areal budi daya rumput laut, baru 30 persen yang dimanfaatkan. Demikian juga dengan mutiara laut selatan merupakan yang terbaik di dunia.

Kepala Dinas Sosial, Kependudukan dan Catatan Sipil (Disosdukcapil) NTB H Ahsanul Khalik mengatakan, persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir sehingga sulit maju, diantaranya pola pikir. Nelayan masih mengikuti pola lama yakni tangkap di laut dan dijual. Sehingga sektor ekonomi produktif tidak tumbuh. Keterbatasan pengetahuan, di mana tingkat pendidikan masyarakat pesisir masih rendah. Hal ini membuat pengetahuan mengenai pengembangan ekonomi pesisir terbatas. Persoalan lain adalah kemiskinan.

Ada beberapa penyebab kemiskinan pada nelayan, diantaranya tingkat pendidikan yang rendah. Hal ini membuat nelayan sulit menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi modern, dan produktivitas hasil tangkap juga rendah, termasuk aktivitas ekonomi lanjutan juga rendah. Padahal mereka bekerja siang malam untuk mendapatkan ikan. Di sisi lain, pola hidup warga pesisir cenderung konsumtif dan boros. Hasil kerja kerasnya sebagian besar digunakan untuk kebutuhan konsumtif.

Di sisi lain, keterbatasan alat dan akses pemasaran menjadi kendala bagi mereka untuk bisa berkembang. Kondisi ini membuat mereka terpaksa menjual hasil tangkapan ke tengkulak dengan harga yang murah. Infrastruktur yang buruk ini membuat nelayan sulit bisa berkembang. Selain itu, kondisi alam yang tidak menentu juga membuat nelayan tidak bisa melaut, atau tangkapannya sedikit. Sementara di sisi lain, kebijakan pemerintah belum efektif untuk memperbaiki nasib kaum pesisir.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Lalu Hamdi mengatakan, penanggulangan kemiskinan pada masyarakat pesisir dilakukan melalui pengembangan perikanan tangkap dan budi daya. Dalam pengembangan budi daya ikan tangkap ini bertujuan untuk pengembangan nilai ekonomi nelayan kecil. Mereka dibantu sarana prasarana penangkapan, selain itu membuat apartemen ikan.

Sementara untuk ekspansi usaha dan daya tangkap nelayan kecil. Mereka dibelikan kapal besar agar bisa melakukan penangkapan ikan di daerah-daerah yang lebih jauh. Bantuan kapal ini sudah diberikan sejak tahun 2010 hingga saat ini.

Untuk budi daya, yang dikembangkan adalah mutiara dan tambak. Masyarakat tambak didorong memelihara udang panama. Kelompok tambak di pesisir diberikan bantuan pinjaman ekskavator untuk memperbaiki infrastruktur tambak.

Jika berbicara masalah kemiskinan, menurutnya banyak faktor dan harus melibatkan banyak instansi untuk menangani kemiskinan. Tapi dari data yang dimiliki, justru ia mendapatkan data bahwa nilai tukar nelayan sudah mencapai 106,11 persen. Nilai tukar ini menjadi salah satu indikator kesejahteraan. Dengan posisi ini, kebutuhan nelayan lebih kecil daripada pendapatan yang diterima. “Apa yang dia perolah sudah lebih besar daripada apa yang dia butuhkan,a�? kata Hamdi.

Kalaupun masyarakat pesisir masih dikategorikan miskin, hal itu tidak saja disebabkan karena faktor pendapatan. Tetapi ada faktor lain seperti kebiasaan, pola hidup, dan lingkungan mereka. Untuk itu, penanggulangan kemiskinan pada masyarakat pesisir tidak hanya dilakukan satu dinas. Tetapi banyak pihak harus dilibatkan, termasuk menyinergikan program kerja pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten dan kota. Sehingga tidak ada lagi tumpang tindih pelaksanaan program di masyarakat. “Di 2017 kita ingin bekerja secara lebih terkoodinir dari semua lembaga,a�? katanya.

Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa saat berkunjung ke NTB, Kamis (1/12) lalu menekankan, untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan solusinya adalah dengan mengubah pola kerja nelayan. Mereka tidak lagi hanya menangkap ikan, tapi tangkap, olah, kemas dan jual. Setelah mengambil ikan dari laut, nelayan harus diajarkan untuk mengolah, jangan sampai ada yang busuk. Hasil ikan itu bisa mereka olah menjadi berbagai kebutuhan pangan, misalnya tepung ikan yang memiliki nilai tambah. Kemudian diajarkan pengemasan yang baik hingga pada pemasarannya. Dengan pola petik, kemas jual menurutnya akan mampu merubah nasib para nelayan. (ili/r7)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost