Lombok Post
Metropolis

Bos Baru di Destinasi Baru Wisata

benner
MILIK MASYARAKAT: Tiga buah perahu milik nelayan Tanjung Luar parkir di Pulau Pasir, Lombok Timur. Boomingnya pariwisata dalam lima tahun terakhir membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Booming pariwisata dan komunitas travelling dalam lima tahun terakhir berdampak positif bagi ekonomi masyarakat di kawasan wisata.A� Usaha baru bermunculan, dan tak sedikit di antara mereka yang bisa menjadi a�?bosa�? berkat pariwisata.

***

PARA backpacker memanggilnya Pak Jef. Tinggal di Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Pak Jef awalnya pekerja salah satu agent travel. Dia bekerja cukup lama. Saat ada tamu agent travel itu, Pak Jef melayani keliling Gili Kondo, Gili Bidara, dan Gili Petelu. Pak Jef juga menyediakan kebutuhan para wisatawan itu. Sebagian besar wisatawan asing.

Belakangan, agent travel itu tidak lagi terlalu sering membawa tamu ke kawasan itu. Pekerjaan Pak Jef mulai berkurang. Hingga suatu hari Pak Jef memutuskan berhenti. Belajar dari pengalaman di agent travel itu, Pak Jef membuka usaha sendiri. Melayani penyeberangan ke Gili Bidara, Gili Kondo, dan Gili Petagan.

Karena pelayanan yang ramah dan harga yang bersahabat, Pak Jef dikenal komunitas travelling. Lima tahun terakhir, komunitas anak-anak muda yang menggemari travelling muncul bak cendawan di musim hujan. Pegawai kantoran, pekerja lepas, pegawai bank, pengusaha, mahasiswa, hingga pelajar ramai-ramai membentuk grup travelling. Di NTB sendiri diperkirakan sekitar 60-an komunitas yang gemar travelling.

Salah satu komunitas itu kerap memakai jasa Pak Jef. Dari mulut ke mulut, nama Pak Jef dikenal di kalangan komunitas travelling. Kemajuan media sosial memungkinkan antara komunitas yang satu dengan komunitas yang lain mudah terhubung. Saling merekomendasikan tempat wisata dan akomodasinya, nama Pak Jef kerap direkomendasikan sebagai operator perahu.

a�?Alhamdulillah sekarang lebih baik,a�� a��kata Pak Jef memandingkan penghasilannya ketika masih bekerja di agent travel itu.

Perbaikan ekonomi Pak Jef bisa dilihat dari rumahnya. Dulu sangat sederhana. Kini rumahya sudah diperbaiki, membangun kios, membangun berugak, dan menyediakan kamar mandi. Kamar mandi itu khusus dibangun Pak Jef untuk wisatawan yang memakai jasanya.

Itulah nilai lebih memakai jasa Pak Jef: menyediakan kamar mandi gratis. Termasuk juga tidak perlu repot belanja, di halaman depan rumah Pak Jef, istrinya siap melayani pembeli. Semua fasilitas itu bisa dibangun Pak Jef setelah kawasan Gili Kondo itu naik daun. Setiap pekan selalu ramai wisatawan. Pak Jef selalu dapat orderan.

Namanya Safari. Pernah bekerja sebagai anak buah kapal (ABK). Safari pernah melakoni hidup yang keras. Ketika berhenti bekerja di tempat lama, Safari kembali menjadi nelayan. Dia tinggal di lahan warisan orang tuanya di Gili Asahan, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Sayang, ketika Safari mendiami lahan warisan itu, kondisi Gili Asahan sudah berubah 180 derajat.

Di tahun 1990-an Gili Asahan dikenal sebagai lokasi budidaya mutiara. Di tempat itu berdiri salah satu perusahaan terbesar dalam usaha mutiara laut. Gili itu tak pernah sepi dengan hiruk pikuk para karyawan. Ekonomi masyarakat tumbuh pesat. Masyarakat lokal menyediakan logistik dan penginapan. Perputaran uang dalam satu kios makanan saja mencapai jutaaan rupiah sehari. Banyak orang datang dan menetap di Gili Asahan.

Krisis ekonomi, masalah di perusahaan, hingga kelesuan bisnis mutiara laut menghempas perusaahaan itu. Perusahaan kolaps dan belakangan tutup. Gili Asahan tiba-tiba menjadi pulau mati. Bekas penginapan, gudang, kantor, dan laboratorium seperti rumah berhantu. Dermaga, kapal-kapal, bekas keramba mutiara menjadi rongsokan. Orang-orang meninggalkan Gili Asahan. Safari datang ketika kondisi pulau itu mulai dilupakan.

Belakang nama Gili Asahan mulai disebut di kalangan komunitas travelling. Posisi pulau di ujung selatan Sekotong, sepi, dengan keindahan bawah laut membuatnya cepat terkenal. Nama Safari disebut-sebut sebagai salah satu operator. Maklum saja, di penyeberangan dari daratan Lombok ke Gili Asahan tidak seramai di penyeberangan ke Gili Nanggu. Nama Safari awalnya dikenal sekelompok aktivis lingkungan.

Safari sempat patah semangat, tapi ketika melihat pariwisata menggeliat dia memiliki harapan besar. Perlahan mulai berdatangan wisatawan. Secara bersamaan Safari mulai membangun homestay. Dia membangun dari keuntungan melayani penyeberangan tamu. Kini homestay sederhana sudah berdiri di lahan itu. Safari yakin dalam beberapa tahun ke depan Gili Asahan bisa menjadi destinasi baru favorit wisatawan. Saat gili lainnya sudah jenuh, Gili Asahan yang relatif sepi dan masih bagus terumbu karangnya akan menjadi buruan para wisatawan.

Pak Jef dan Safari bisa memperbaiki ekonomi keluarga mereka berkat pariwisata. Gili Asahan yang sebelumnya menjadi pulau mati karena ditinggalkan penduduknya mulai bangkit. Bukan karena kembalinya perusahaan mutiara, tapi berkat pariwisata. Sebelumnya tak ada wisatawan yang khusus datang liburan ke Gili Asahan. Gili itu dikenal sebagai sentra budidaya mutiara.

Boomingnya pariwisata memungkinkan daerah yang mati, hidup kembali. Kehadiran pariwisata memunculkan usaha baru. Pak Jef kini bisa menjadi pemilik perahu.A� Dia juga mengajak anggota keluarganya yang lain. Dia mengembangkan usahanya. Begitu juga Safari, yang awalnya operator perahu kini memiliki homestay. Memulai dari nol, Pak Jef dan Safari kini menjadi bos baru. Setidaknya usaha itu milik mereka. Mereka tidak lagi menjadi buruh di tempat orang.

Kondisi itu juga terjadi di Tanjung Luar Kecamatan Keruak, Lombok Timur dan Telong-Elong Kecamatan Jerowaru. Telong-elong dikenal sebagai pelabuhan nelayan, itu pun dengan jumlah nelayan sedikit. Tapi kini daerah itu menjadi alternatif penyeberangan ke kawasan gili di bagian selatan Lombok Timur. Mereka melayani jalan-jalan ke Gili Petelu, Gili Bembek, Pantai Pink, Pantai Segui, Pantai Telone, dan sejumlah tempat baru yang mulai naik daun.

Perkembangan destinasi-destinasi baru itu terbilang cepat. Fenomena komunitas travelling yang gemar melakukan perjalanan mandiri, tanpa agent travel, menghidupi aktivitas masyarakat setempat. Mereka mencari langsung masyarakat yang menyediakan perahu, mencari masyarakat yang menyediakan konsumsi. Tak sedikit juga, masyarakat yang awalnya nelayan, kini 100 persen menjadi operator perahu berkat jasa komunitas itu. Komunitas yang sebagian besar kelas menengah dan terpelajar itu tak sedikit yang membantu warga. Mereka memberikan ide, memberikan masukan, dan membantu promosi, membukakan jaringan dengan dunia luar.

Arifin contohnya. Dulunya dia nelayan di Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Penghasilan sebagai nelayan cukup untuk kehidupan sehari-hari. Tapi ketika booming anak-anak muda liburan ke Pulau Kenawa dan Pulau Paserang, Arifin mendapat berkahnya.

Dengan bermodal perahu bermesin tempel, dia melayani penyeberangan. Saat tidak ada wisatawan dia pergi menangkap ikan. Pada hari libur dia melayani penyeberangan tamu. Tapi kini, setelah pulau di kawasan yang dikenal dengan Gili Balu itu menjadi destinasi favorit di KSB, Arifin memutuskan berhenti menangkap ikan. Perahunya khusus disiapkan untuk melayani wisatawan. a�?Saya akan membeli perahu khusus yang lebih bagus untuk tamu,a��a�� katanya.

Desa nelayan yang kumuh pun, ketika mulai dikenal petualang yang mencari tantangan berbeda bisa menjadi destinasi. Informasi menyebar dengan cepat. Orang-orang yang memulai usaha operator perahu di tempat itu menjadi pelopor. Mereka mendapatkan namaA� dan hampir pasti nama mereka direkomendasikan para petualang.

Yaqub di Desa Ai Bari, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa adalah salah satu pelopor di desa itu. Memiliki perahu dengan lebar 1 meter dan panjang 5 meter, Yaqub lahir dan besar sebagai nelayan. Hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Berada di perairan yang cukup banyak ikannya, Yaqub cukup dengan penghasilannya itu. Tapi ketika Yaqub mulai melayani anak-anak muda yang ingin menjelajah perairan itu, penghasilannya bertambah.

Dia bahkan bisa menyekolahkan putra putrinya. Ada yang kuliah. Awalnya Yaqub mengandalkan hidup dari hasil memancing dan menebar jala, Yaqub mendapatkan tambahan penghasilan dari jasa wisata mancing. Yaqub menemani para penggemar olahraga mancing.

Mereka memberikan Yaqub biaya bahan bakar, dan uang saku. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kadang kala dia mendapatkan bonus ketika orang yang ditemani mendapatkan tangkapan banyak. Mereka puas. Tapi kini Yaqub sudah merasakan perbedaan penghasilan dari memancing dengan melayani wisatawan. Tidak sekadar mendapatkan tambahan uang, Yaqub juga memiliki banyak kenalan.

Tiba-tiba saja, suatu hari sejumlah anak muda dari Eropa mendatangi tempatnya. Mereka minta ditemani keliling di kawasan Teluk Saleh. Yaqub menghidupkan mesin dan membawa laju perahunya. (fathul/adv/r8)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost