Lombok Post
Metropolis

Enaknya Melanggar Aturan di Mataram

sempadan
INI BERBAHAYA: Anak-anak yang rumahnya di dekat sempadan sungai ini terlihat asyik bermain. Mereka belum mengerti betapa bahayanya tinggal di wilayah tersebut.

MATARAM – Sempadan sungai di Mataram yang seharusnya steril nyatanya dikuasai masyarakat. Deretan rumah nyaris rata terlihat di sepanjang aliran sungai.

“Begitulah kondisinya,” kata Kadis Tata Kota Mataram HL Junaidi, kemarin(7/12).

Secara aturan, hal itu jelas bertentangan. Di sepanjang sempadan sungai wajib steril dari bangunan apapun. “Ada aturannya sekian meter, berdasar lebar dan kedalaman sungai,” jelasnya.

Kurangnya koordinasi antar satu bagian pemerintahan dengan bagian lain menurutnya ikut memicu pelanggaran. Selain bersertifikat resmi, nyatanya rumah-rumah yang ada juga banyak yang sudah lengkap surat IMB (Izin Mendirikan Bangunan) nya.

Keberadaan sambungan listrik dan air bersih juga menjadi pertanda adanya kesalahan sedari awal. “Karena itu komunikasi dan kerja sama menjadi penting,” sambungnya.

Lantas apa yang akan dilakukan pemerintah terhadap keadaan saat ini? Penggusuran jelas menjadi opsi terakhir. Meskipun dengan langkah tersebut, masalah akan cepat teratasi. “Cara paling elegan ya pembebasan dan langsung dibuatkan jalan atau taman,” sarannya.

Namun opsi ini memerlukan anggaran yang tak sedikit. Karena itu proses pembebasan hanya bisa dilakukan bertahap. Hal itu telah diungkapkan Kadis PU Kota Mataram Mahmuddin Tura dalam sejumlah kesempatan. “Kita kerjakan sesuai kemampuan,” ujarnya.

Pernyataan itu mengacu pada rencana pengerjaan lanjutan jalan pinggir sungai Jangkuk yang kini baru sebatas Dasan Agung dan Kebun Sari. “Kita lihat saja yang sudah, sangat bagus dan tak lago ada tampak kumuh,” jelasnya.

Membangun jalan di pinggir sungai tak hanya membuat rumah-rumah sempadan yang dulu menyalahi aturan bisa ditata ulang. Potensi longsor yang sebelumnya dikatakan Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Dedy Supriady juga bisa dikurangi.

Jalan juga memaksa warga mengubah arah rumahnya. Mereka tak lagi membelakangi sungai. Sebaliknya, sungai menjadi tampak depan rumah warga. Sehingga otomatis semua akan menjaga kebersihannya.

“Anggaran sedang kita kalkulasi, berapa kebutuhan sebenarnya,” pungkasnya.(yuk/r5)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost