Lombok Post
Metropolis

Winengan Usulkan Kebun Kongok Diambil Pemprov

sampah
SAMPAH SIAPA: Kepala Dinas Dinas Kebersihan dan Tata Kota Lombok Barat H Lalu Winengan menjelaskan persoalan sampah di Kota Mataram dan Lombok Barat yang saling berkaitan satu sama lain.

Persoalan sampah ini tak pernah usai. Hampir setiap hari selalu ribut soal sampah. Tak ada tempat umum yang bebas sampah. Sungai menjadi tempat penampungan sampah. Gunung Rinjani pun disindir sebagai a�?Geopark Sampah Duniaa�?.A� Di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat, dua daerah yang satu rahim ini pernah ribut gara-gara sampah. Dalam diskusi #forumwiken Bale ITE bertema a�?Sampah yang Tak Pernah Usai, Tanggung Jawab Siapa? a�? persoalan sampah ini menjadi perdebatan hangat.

***

ADA beberapa program yang pernah dilaunching untuk menangani sampah. Tapi bisa dikatakan tidak berhasil. Program OSAMTU (Olah Sampah Tuntas) yang pernah digadang-gadang bisa menyelesaikan sampah, tak kunjung menunjukkan hasil baik. jika berjalan di sekitar Kota Mataram, di daerah pinggiran, sampah menumpuk jadi pemandangan sehari-hari.

Program pemerintah pemisahan sampah sudah berjalan lebih 10 tahun. Pemisahan organik, nonorganik, dan plastik, bercampur semua. Belum lagi limbah berbahaya rumah sakit. Di rumah sakit tak mampu mengatasiA� semua limbah medik. Belum lagi di Gili Trawangan, tempat wisata, persoalan sampah sangat kompleks. Tiap hari menghasilkan berton-ton sampah.

Saat persoalan sampah ini tak kunjung usai, pemerintah justru mengerdilkan SKPD yang bertanggungjawab atas sampah.

Kepala Dinas Kebersihan dan Tata Kota Lombok Barat H Lalu Winengan mengatakan, saat ini pemerintah hendak menghilangkan peran Dinas Kebersihan. Dinas Kebersihan akan menjadi bagian Badan Lingkungan Hidup. a�?Padahal dalam Nawa Cita Presiden, ada penuntasan sampah. Kalau dihapus sekarang, akan berubah dan digabung lingkungan hidup, menjadi bidang sampah. Itu sudah ngeri. Sedangkan punya dinas sendiri masalah sampah tak pernah usai,a�? katanya.

Winengan menegaskan, selain persoalan individu, sampah tetap menjadi tanggung jawab pemerintah. Bukan hanya pemerintah kabupaten/kota, tapi pemerintah provinsi harus turun tangan mengurus sampah. TPA Kebun Kongok yang berada di wilayah administratif Kabupaten Lombok Barat justru milik Kota Mataram. Orang Kota Mataram membuang sampah di Kabupaten Lombok Barat.

Beberapa waktu lalu sempat terjadi ketegangan antara warga sekitar dengan Dinas Kebersihan Kota Mataram. Mereka keberatan jalan yang dilalui itu. Kota Mataram menikmati membuang sampah di Lombok Barat, sementara warga sekitar mendapat jalan rusak dan sampah tercecer. a�?Seharusnya pemerintah provinsi mengambil alih. TPA regional itu harus diselesaikan,” kata Winengan

Menurut Winengan, beberapa program pemerintah memang tidak semuanya berhasil. Dia mencontohkan program OSAMTU. Banyak yang mengkiritik alat OSAMTU, tapi yang mengkritik itu tidak memberikan solusi. a�?Mestinya yang kritik itu berikan jalan keluar,” ujarnya.

Dikatakan Winengan, Bupati Lobar memasang target di 2017 seluruh kecamatan memiliki tempat pembuangan sementara (TPS) untuk membantu mengurangi pengiriman sampah ke kebun Kongok. TPS itu luasnya 10 are. a�?Di masing-masing TPS itu akan kita bangun OSAMTU,” ujarnya.

Disampaikan Winengan, sampah di Lobar sekitar 560 kubik per hari. Yang terangkut hanya 56 persen.A� Terkendala transportasi . Sebagai perbandingan, Winengan menyebutkan kendaraan pengangkut sampah di Kota Mataram ada 60. Itu pun masih menyisakan banyak sampah tidak terangkut. Di Lombok Barat hanya 14 kendaraan. a�?Yang bagus hanya tiga, yang lain jelek dan keluaran tahun 80-an,” ujarnya.

Pegiat lingkungan yang aktifA� mengelola sampah Syawaluddin menyebutkan ada tiga sumber sampah, yaitu rumah tangga, bisnis, dan pemerintah. Dalam pengelolaan sampah selama pemerintah melakukan pendekatan struktural atau proyek. a�?Banyak SKPD yang memiliki dana untuk sampah. Dananya sampai miliaran,” katanya.

Syawal menambahkan, sebenarnya ada 4.700 bank sampah di Mataram yang dibentuk Kantor Lingkungan Hidup. Tapi sayang , pendekatannya bersifat proyek. Jadi tidak maksimal.

Bank sampah yang dikelola Syawaludin sebenarnya sama dengan bak sampah lainnya. Dia hanya sedikit modifikasi ajakan atau kampanye buanglah sampah pada tempatnya. a�?Jual lah sampah anda pada tempatnya. Karena itu ada uang, ada nilainya,a�? katanya.

Menurutnya, hal lain yang perlu dilakukan adalah edukasi dan kampanye berkelanjutan. Harus ada pengolahan sampah terpadu.

a�?Pemerintah harus menyediakan infrastrukurnya,” katanya. (Fathul Rakhman, Mataram/r7)

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost