Lombok Post
Metropolis

Mentok di Angka 1,2 Persen

miskin
BERTAHAN HIDUP: Amak Pa'i membersihkan sungai sebagai tempatnya mandi di depan tempat tinggalnya di bawah jembatan Sungai Jangkuk, Ampenan.

MATARAM – Angka kemiskinan di Kota Mataram relatif masih tinggi. Dari data statistik pertahun 2014, kemiskinan di Kota Mataram mencapai 19,53 persen.

Di tahun 2015, diklaim ada penurunan angka kemiskinan yakni 10,06 persen. Namun angka ini disebutkan masih belum data ril, melainkan prediksi dari BPS.

“Angka pastinya saya tidak ingat,” kata Kepala Bappeda Kota Mataram Lalu Martawang.

Namun secara umum, kata Martawang, kemiskinan di Kota Mataram memang berbanding terbalik dengan tren nasional. Jika secara nasional cenderung naik. Kota Mataram justru turun.

Untuk membuktikan kebenaran pernyataan Martawang, Lombok Post mencoba menghubungi Kepala BPS Kota Mataram Lalu Putradi. Sayangnya, ia tidak mengangkat teleponnya.

Begitu juga dengan situs BPS Kota Mataram yang beralamat di mataramkota.bps.go.id, tidak menampilkan data up to date. Rilis angka kemiskinan hanya sampai tahun 2014.

Di tahun 2017, Pemerintah Kota Mataram mengatakan siap menekan angka kemiskinan 1,2 persen. Angka ini berbeda dengan MoU yang ditandatangani dengan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah yakni sebesar dua persen.

Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengatakan angka ini dinilai paling ideal di tengah keterbatasan fiskal daerah. a�?Target kemiskinan kota tahun depan sekitar 1,2 persen. Ini sesuai kemampuan kita,a�? kata Mohan.

Saat ini, menekan jumlah kemiskinan di tahun 2017 menyusut sekitar 1,2 persen dinilainya paling rasional. Jika berkaca pada upaya di tahun-tahun sebelumnya, gerak penurunan memang tidak bisa jauh dari angka itu.

a�?Dari pada kita tentukan target tinggi, tapi angkanya tidak bisa terpenuhi,a�? ujarnya.

Namun ia menegaskan ini bukan bentuk kepasrahan pemerintah daerah. Dirinya sebagai Ketua Tim Penanggulangan Kemiskinan Kota Mataram melihat persoalan warga miskin tetap jadi prioritas. Hanya saja, pengentasannya tidak hanya melalui satu program saja. Tapi harus terintegrasi dengan program-program lain.

Karena itu, sejumlah kebijakan politik anggaran diupayakan. Menekan populasi penduduk miskin di daerah ini. “Beberapa isu lain seperti pendidikan, kesehatan sebenarnya ada kaitanya semua dengan kemiskinan,a�? terangnya.

Terkait tingginya angka urbanisasi ke kota, Mohan menilai itu bukan ancaman. Justru peluang. Alasannya, setiap orang yang datang ke kota rata-rata memiliki skill yang baik dan rata-rata terdidik.

Artinya, mereka juga bisa membuka peluang usaha baru. Tidak hanya dilihat sebagai tambahan populasi penduduk miskin baru yang berdatangan ke kota. “Memang ada juga yang datang dengan skill rendah. Tapi saya rasa tidak seberapa,a�? tandasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost