Lombok Post
Kriminal

Mesin Bantuan Pindah Lokasi,Anggota Poktan Diperiksa Kejaksaan

DIPERIKSA: Sapri (jaket hitam) dan Maman (kemeja putih), usai diperiksa penyidik di ruang Pidana Khusus, Kejaksaan Tinggi NTB, kemarin (14/12)

MATARAM – Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB terus menggenjot dugaan penyimpangan pengadaan vertical dryer (pengering gabah/jagung) senilai Rp 6,5 miliar. Kemarin (14/12), jaksa kembali meminta keterangan dari penerima bantuan.

Kali ini yang diperiksa jaksa A�adalah Sapri dan Maman. Nama pertama merupakan anggota kelompok tani (Poktan) asal Lombok Barat, yang menerima bantuan. Sedangkan Maman, merupakan pemilik lahan, dimana alat bantuan tersebut ditempatkan.

Ditemui usai pemeriksaan, Maman mengatakan, pihaknya dikonfirmasi terkait dugaan pemindahan alat bantuan. a�?Kalau katanya dipindah, berarti alatnya itu diberikan ke kelompok lain. Tapi ini tidak seperti itu,a�? kata dia, kemarin.

Maman menjelaskan, alat tersebut bukan dipindahkan. Melainkan pengoperasiannya saja yang tidak berada di wilayah poktan berada. Namun mengenai alasan pemindahan pengoperasian alat bantuan itu, Maman mengaku tidak tahu persis.

a�?Karena alasan tertentu, makanya dipindah,a�? akunya.

Meski pengoperasian tidak berada di lokasi poktan berada, Maman mengaku alat masih milik poktan tersebut. Sebab, seluruh pengoperasian, termasuk tenaga operator, berasal dari poktan penerima bantuan.

a�?Mereka langsung yang mengoperasikan,a�? kata dia.

Dalam pemindahan lokasi pengoperasian itu, Maman mengaku telah melalui prosedur. Pemindahan tersebut telah diketahui kepala desa, hingga berdasarkan petunjuk dari dinas bersangkutan. Karena itu, di lahannya yang berada di Desa Gontoran, Lombok Barat, terdapat dua alat, yakni vertical dryer milik kelompok tani Sayang Daya Dua dan rice miling unit atau penggilingan padi milik gapoktan Rembiga.

Selain itu, terdapat pula gudang dan tempat penjemuran gabah. a�?Gudang dan tempat jemur itu milik asosiasi perbenihan, jadi semuanya memang terintegrasi di satu tempat,a�? kata dia.

Diketahui, anggaran pengadaan alat pengering ini berasal dari APBD. Pengadaan itu sendiri dilaksanakan dinas terkait dengan melibatkan pihak ketiga. Khusus untuk pengadaan alat pengering ini, anggaran yang digelontorkan sekitar Rp 6,5 miliar. Mesin pengering dibagikan kepada kelompok tani yang tersebar di 10 kota dan kabupaten NTB.

Pengadaan itu sendiri diikuti 43 perusahaan. Sementara, perusahaan yang keluar sebagai pemenang yakni UD HR (Inisial). Untuk satu unit alat pengering gabah maupun pemipil jagung nilainya sekitar Rp 935 juta.(dit/r2)

Berita Lainnya

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Kejati NTB Selamatkan Uang Negara Rp 4 Miliar

Redaksi LombokPost

TNI Polri di NTB Tetap Solid

Redaksi LombokPost

Jalan Terjal Memburu Para Bandar

Redaksi LombokPost

Aksi Penjambret Terhenti Setelah Tiga Jam Beraksi

Redaksi LombokPost

Polda NTB Raih Hassan Wirajuda Award

Redaksi LombokPost

Kabur, Pasien RSJ Selagalas Gantung Diri

Redaksi LombokPost

Penyidik Siap Gelar Perkara Laporan Baiq Nuril

Redaksi LombokPost

Jaksa Tuntut Ringan Terdakwa Tapun

Redaksi LombokPost