Lombok Post
Metropolis

Wajar Gubuk Mamben Marah

tps
BERBAU: Suasana TPS Mandalika yang penuh sampah beberapa waktu lalu karena masyarakat dari berbagai kawasan membuang ke sana.

MATARAM – Kemarahan masyarakat Gubuk Mamben, Pagesangan Barat, Sekarbela karena lokasinya tak pernah bersih dari tumpukan sampah dianggap wajar oleh Plt Kadis Kebersihan Kota Mataram HM Kemal Islam. Dia bisa memahami kekesalan masyarakat sekitar, karena banyak warga luar yang membuang sampah ke sana.

“Saya mengerti mengapa masyarakat seperti itu, dan saya rasa wajar,a�? katanya.

Hal itu semata karena masyarakat menginginkan lingkungannya bersih dari sampah. Namun di lain pihak, masyarakat yang membuang sampah ke sana juga tak punya pilihan. Saat ini hanya ada 17 TPS di Mataram, ditambah sejumlah TPS tak resmi, jumlah itu menurutnya masih jauh dari kata ideal.

“Harusnya tiap kelurahan punya, sehingga tak ada yang merasa terganggu,a�? katanya.

TPS Lawata di Gomong lantas dijadikan salah satu contoh. Di TPS yang masuk kategori sangat padat sampah itu, masyarakat dari berbagai penjuru datang membuang ke sana. petugas kebersihan juga membawa sampah-sampah yang sudah dikumpulkan dari berbagai titik, termasuk Ampenan ke area tersebut.

a�?Dasan Agung juga buang ke sana,a�? sambungnya.

Kemarahan warga Gubuk Mamben jelas menjadi peringatan bagi Pemkot Mataram dalam penanganan sampah. Sebelumnya, warga Lingkungan Kebon Bawak Nurul Yakin, Kelurahan Kebun Sari menolak keberadaan TPS di wilayahnya.

Sama dengan Gubuk Mamben, mereka merasa terganggu karena makin banyak orang luar yang membuang sampah ke sana. a�?Dulu yang buang orang sekitar sini, jadi cepat terangkut, sekarang semua penjuru, kamilah yang jadi paling rugi, rasakan sampah tiap hari,a�? kata Sofyan, salah seorang warga kala itu.

Sebelumnya, pengamat lingkungan dan perkotaan Agus Muliadi mengingatkan Pemkot akan bahaya masalah sampah. Bagaikan bom waktu, persoalan ini siap meledak sewaktu-waktu jika tak segera ditangani. Dia meminta pemerintah serius berpikir penanganan jangka panjang untuk mengatasi sampah, termasuk memperbaiki kesadaran masyarakat.

“Tak bisa hanya menggunakan cara-cara konvensional, harus ada terobosana�? ujarnya. (yuk/r5)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost

Baginya, yang Penting Jangan Mengemis!

Redaksi LombokPost

Ibu Kota kok Kotor?

Redaksi LombokPost