Lombok Post
Headline Metropolis

Banjir di Kota Mataram, Terdahsyat Sejak 40 Tahun Terakhir

KERJA KERAS: Sejumlah pasukan biru Dinas PU Mataram berusaha membersihkan tumpukan sampah di Sungai Ancar yang mengeras dan menjadi seperti dataran baru, Kamis (15/12).

MATARAM – Nahas bagi Muhammad Sultan. Warga Kelurahan Karang Pulre, usia 34 tahun harus meregang nyawa di rumah pamannya Zaini. Kejadiannya Kamis sekitar pukul dua dini hari kemarin(15/12).

Kronologinya, banjir yang menimpa Mataram kemarin malam, juga melanda Kelurahan Karang Pule. Akibat meluapnya sungai Berenyok yang berada persis di belakang rumah warga.

a�?Pada awalnya sungai itu memang besar. Tapi lama kelamaan menyempit karena perumahan warga,a�? tutur Zaini.

Kondisi sungai yang mengecil membuat air semakin besar luapannya. Genangan air mencapai 1,5 meter lebih. Karena khawatir terjadi arus pendek, di dalam air Almarhum Sultan, anak Zaini dan seorang tetangga, berinisiatif memperbaiki kabel saklar listrik yang menjuntai di dinding.

a�?Dia sempat matikan kilometer lalu menggunting kabel-kabel saklar yang memanjang,a�? terangnya.

Setelah dirasa cukup, Zaini kembali menyalakan kilometer. Ketiganya dikatakan sempat berbincang beberapa saat. Sampai kemudian Sultan tiba-tiba bergerak ke arah belakang rumah.

Tapi lebih dari satu jam, sultan tak juga kembali. Hingga membuat seisi rumah was-was. a�?Kami akhirnya berpencar mencari, tapi tak ketemu,a�? ujarnya.

Di tengah genangan air setinggi pinggang itu, Zaini lalu meminta anggota keluarga mencoba meraba-raba menggunakan kaki. Ia sebenarnya sudah punya firasat tidak enak.

a�?Saya menemukan almarhum tenggelam di dasar air, belakang rumah,a�? terangnya dengan wajah sedih.

Zaini dan keluarga sudah berusaha melarikan Sultan ke rumah sakit Bhayangkara. Tetapi tetap tidak tertolong.

a�?Di jari tangan kirinya ada bekas luka, di sana mungkin ada cincin yang terkena sengatan listrik,a�? ungkapnya.

Sultan meninggalkan dua anak dan seorang istri. Duka mendalam menyelimuti keluarga besarnya. Ia berharap kejadian yang menimpa keponakan menjadi kejadian yang terakhir akibat bencana banjir.

a�?Warga pasti khawatir jika ada bencana banjir susulan,a�? timpal Komarudin, anggota keluarga lain.

Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah

Sementara itu Sekda Kota Mataram Effendi Eko Saswito dalam keterangannya mengatakan jika dirinya langsung turun memantau di lapangan. Bersama beberapa kepala dinas yang lain Eko langsung memerintahkan bantuan yang sifatnya taktis.

a�?Hujan memang turun sejak sore, jadi saya langsung minta ada bantuan distribusi logistik untuk warga. Baik nasi bungkus, selimut dan matras,a�? terangnya.

Dampak dari banjir diakui Eko cukup luas. Hampir menerjang seluruh wulayah kota. Beberapa kawaasan terbagi menjadi kawasan terparah terdampak dan tergenang. Namun ia menyebut jika banjir dan genangan hanya terjadi dalam hitungan jam. Tidak berapa lama setelah hujan reda, air berangsur-angsur surut.

a�?Kita juga ada evakuasi warga, sekitar 300 warga,a�? terangnya.

Beberapa bantuan juga disalurkan. Diantaranya nasi bungkus, selimut dan matras. Kondisi rumah tidak memungkinkan untuk ditinggali. Banjir juga menyulitkan warga untuk beraktivitas masak di malam hari.

a�?Selain itu juga ada lima pohon yang tumbang. Satu di jalan Brawijaya, satu depan Lembaga Pemasyarakatan, satu di jalan Pemuda dan dua di jalan Udayana,a�? sambungnya.

Tim disebut telah bekerja secara terpadu. Memberikan bantuan pada warga. Selain itu mengidentifikasi penyebab lain banjir malam itu. Ia juga menyebut banjir dari sore hingga malam hari kemarin, penyebab utamanya karena banjir kiriman.

a�?Sebab setelah selesai hujan pun ternyata, debit air tidak turun tetapi malah semakin tinggi. Tapi kami pastikan pemerintah hadir saat terjadi bencana,a�? tegasnya.

Sebagai informasi, banjir kali ini benar-benar berbeda! Tak ada satu pun warga Kekalik yang pernah mengalami hal serupa. a�?Saya 40 tahun tinggal di sini, ini baru kali pertama,a�? kata Syaukani, seorang warga.

Rumah pria 65 tahun itu memang tepat ada di bantaran sungai. Namun selama itu, ia belum pernah melihat Ancar meluap. Makin membuatnya tak habis pikir, karena tanggul sebenarnya sudah sangat tinggi, satu meter dari muka jalan.

“Itu bisa dilewati air, masuklah ke rumah-rumah kami,a�? ujarnya.

Dengan cepat, air meningkat! Sejak 17.00 Wita ia sudah bersiap akan segala resiko. Benar saja, satu jam berselang air sudah melampaui batas. Seluruh anak dan istrinya lantas diungsikan.

Rencana awal menuju masjid terdekat dibatalkan karena melihat luapan sungai yang sangat hebat. a�?Saya suruh ke jalan raya di atas sana,a�? katanya menunjuk arah Unram.

Tak ada satu pun barang yang ia selamatkan. Semua kini basah kuyup dan rusak. Ia bahkan mengatakan sudah pasrah jika sewaktu-waktu rumah satu-satunya itu hancur diterjang air. a�?Saya kira tak akan sanggup, ternyata masih bisa bertahan,a�? katanya heran.

Di dua bengkel di seputaran Kekalik, Lombok Post mendapati sejumlah pemilik kendaraan roda dua tengah mengantre untuk memperbaiki motornya. Saat banjir malam itu, memang banyak yang tak sempat menyelamatkan kendaraannya.

H Hasbah, tokoh masyarakat setempat mengatakan warga tak lagi memikirkan kendaraannya malam itu. Selain tak ada jalan keluar, mereka juga lebih memilih dengan cepat menyelamatkan nyawa seisi keluarga. a�?Kalau yang begitu-begitu semua ditinggal di rumah,a�? ujarnya.

Pantauan Koran ini saat malam kejadian bahkan sejumlah sepeda motor yang nekad menerobos barikade polisi akhirnya mogok. Beberapa diantaranya di seputaran Irigasi dan dekat kediaman dinas Wakil Gubernur NTB M Amin.

a�?Saya kira bisa tembus, ternyata tidak,a�? Ridwan, seorang pengendara tampak menggeret motor trail miliknya yang sebenarnya berbadan tinggi.

Bahkan dalam kediaman dinas tersebut, sejumlah mobil berbadan rendah juga tampak tergenang. a�?Belum kita cek ini, apakah bisa nyala atau tidak,a�? kata Amin kala itu. (zad/yuk/r5)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost