Lombok Post
Ekonomi Bisnis

Amankan Pasar dari Bahan Berbahaya

MONITORING: Jajaran Balai BPOM Mataram bersama Jajaran Pemkab Bima dan Pemkot Bima saat melakukan monitoring dan evaluasi pasar aman dalam rangka pengawasan bahan berbahaya di pasar pada Program Pasar Aman Dari Bahan Berbahaya Tahun 2016 di di Hotel Camelia Kota Bima Kamis (24/11) lalu.

MATARAM – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Mataram menginisiasi kegiatan mengendalikan peredaran bahan berbahaya dan pangan yang mengandung bahan berbahaya di pasar. Kegiatan ini melalui Program Pasar Aman dari Bahan Berbahaya.

a�?Program ini bertujuan untuk memberdayakan komunitas pasar baik pedagang, pengelola, dan konsumen agar berperan aktif melakukan pengawasan secara mandiri dan berkesinambungan,a�? kata Kepala Balai Besar POM di Mataram, Drs. I Gde Nyoman Suandi.

Program ini dijabarkan dalam beberapa kegiatan strategis. Antara lain advokasi untuk membangun komitmen pemangku kepentingan, bimtek petugas pengelola pasar, pengujian pangan oleh petugas pasar, kampanye sadar pangan aman di pasar, penyuluhan kepada komunitas pasar serta monitoring dan evaluasi program.

Program Pasar Aman ini mulai dilaksanakan tahun 2013 dengan mengintervensi empat pasar di Kota Mataram yaitu Pasar Mandalika, Pasar Pagesangan, Pasar Dasan Agung dan Pasar ACC Ampenan. Kemudian pada tahun 2016 menginterensi Pasar Amahami di Kota Bima dan Pasar Tente di Kabupaten Bima. Pada tahun 2014 dan 2015 tidak ada penambahan pasar baru dan hanya melakukan pengawalan berupa bimtek petugas pasar, pengujian pangan oleh petugas pasar.

a�?Balai BPOM Mataram kampanye sadar pangan aman di empat pasar Kota Mataram,a�? terangnya.

Hasil Pengujian sampel tahap I di pasar Amahami dan Pasar Tente pada bulan Juli a�� Agustus 2016 yang dilakukan oleh petugas pasar yang telah mengikuti bimtek dan pelatihan pengujian sampel. Pasar Amahami dengan jumlah sampel 100 sebanyak 7 sampel yang diambil sekitar 7 persen dengan keterangan mengandung boraks pada kerupuk. Pasar Tente dengan jumlah sampel 100 sebanyak 10 sampel yang diambil sekitar 10 persen dengan keterangan mengandung boraks 5 kerupuk, mengandung rhodamin B 3 kerupuk warna, dan 2 gula merah.

Pengujian pangan juga dilakukan pada pasar yang diintervensi di Kota Mataram dengan hasil berikut. Pasar Mandalika dengan jumlah sampel 100 sebanyak 15 sampel yang diambil sekitar 15 persen dengan keterangan mengandung boraks 11 kerupuk dan 1 mie basah, mengandung rhodamin B, 3 terasi. Pasar Pagesangan dengan jumlah sampel 100 sebanyak 26 sampel yang diambil sekitar 26 persen dengan keterangan mengandung boraks 15 kerupuk dan 5 mie basah, mengandung rhodamin B, 3 kerupuk warna dan 3 terasi. Pasar Dasan Agung dengan jumlah sampel 100 sebanyak 21 sampel yang diambil sekitar 21 persen dengan keterangan mengandung boraks 20 kerupuk dan mengandung rhodamin B, 1 terasi. Sedangkan di Pasar ACC Ampenan tidak ada ditemukan.

Pengujian pangan tahap II secara serempak dilakukan pada bulan September a�� Oktober 2016, dengan hasil seperti berikut. Pasar Mandalika dengan jumlah sampel 100 sebanyak 5 sampel yang diambil sekitar 5 persen dengan keterangan Boraks 4 sampel kerupuk danA� Rhodamin 1 sampel terasi. Pasar Pagesangan dengan jumlah sampel 100 sebanyak 63 sampel yang diambil sekitar 63 persen dengan keterangan Boraks 53 sampel kerupuk, 6 sampel mie basah dan 1 sampel pencok sagu sementara Rhodamin 3 sampel terasi. Pasar Dasan Agung dengan jumlah sampel 100 sebanyak 33 sampel yang diambil sekitar 33 persen dengan keterangan Boraks 33 sampel kerupuk. Pasar ACC Ampenan dengan jumlah sampel 100 sebanyak 11 sampel yang diambil sekitar 11 persen dengan keterangan Boraks 3 sampel kerupuk dan 5 sampel mie basah sementara Rhodamin B 3 sampel terasi. Pasar Amahami dengan jumlah sampel 100 sebanyak 4 sampel yang diambil sekitar 4 persen dengan keterangan Boraks 4 sampel kerupuk. Pasar Tente dengan jumlah sampel 100 sebanyak 6 sampel yang diambil sekitar 6 persen dengan keterangan Boraks 3 sampel kerupuk sementara Rhodamin 2 sampel kerupuk warna dan 1 sampel gula merah.

Berdasarkan hasil tersebut terlihat maraknya kerupuk yang mengandung boraks perlu menjadi perhatian bersama. Boraks dapat menjadi pemicu timbulnya kanker setelah terakumulasi dalam tubuh. a�?Konsumsi kerupuk yang mengandung boraks tidak secara seketika memberikan dampak negatif bagi kesehatan,a�? terangnya.

Beberapa SKPD telah melakukan terobosan untuk mengurangi penggunaan boraks pada produksi kerupuk. Seperti yang dilakukan Dinas Kesehatan dan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Mataram bekerja sama dengan BBPOM di Mataram. Pihaknya mendampingi sentra produksi kerupuk di Lingkungan Gegutu Timur Kota Mataram.

Upaya pemberantasan pangan mengandung bahan berbahaya yang dilakukan BBPOM di Mataram tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan para pemangku kepentingan, mulai SKPD, pelaku usaha, pedagang dan masyarakat. a�?Jika masyarakat menemukan peredaran bahan berbahaya di pasar, dapat menghubungi BBPOM di Mataram,a�? tandasnya. (nur/r3)

Berita Lainnya

ILBB-Ancora Foundation Bantu Korban Gempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Bank Mandiri-Hiswana Migas-Pertamina Jalin Kerjasama

Redaksi Lombok Post

Soft Opening Jannah Tour and Travel Meriah

Redaksi LombokPost

Masyarakat Didorong Gunakan Produk Lokal

Redaksi LombokPost

FWD Life Resmi Hadir di Lombok

Redaksi Lombok Post

Golden Palace Hotel Dikunjungi Wakil Duta Besar Australia

Redaksi Lombok Post

BI Sosialisasi Kartu GPN di Kota Bima

Redaksi Lombok Post

Distribusi Kartu Berlogo GPN Dekati Target

Redaksi LombokPost

Avian Brands Peduli Bangun Kembali Lombok

Redaksi Lombok Post