Lombok Post
Headline Metropolis

Adu Lincah Kusir, Ada Dukun, Ada Taruhan

SECEPAT KILAT: Sebuah cidomo tengah digeber kencang di Jalan Ade Irma Suryani saat hendak mengikuti lomba balap cidomo, Minggu (18/12)

Jangan fikir cuma mobil dan motor bisa balapan liar. Cidomo pun tak kalah menguras adrenalin. Layaknya balap-balap underground, ada taruhan selangit. Tapi siang itu, ada sesuatu yang terjadi. Apa itu?

***

AH! Kuda itu seperti menapak di angin. Wuss! Sekencang kilat. Gerobak yang ditarik, seperti seringan kapas. Terseret kencang seperti tak ada beban.

Dua pria yang duduk di belakang, duduk tak tenang. Ketika gerobak cidomo, oleng ke kiri kanan dengan sedikit hentakan, mereka membuat momentum penyeimbang. Menekan gaya sentrifugal, dari syok roda yang terdengar berderit-derit.

a�?Tugas mereka, menyeimbangkan. Karena itu, ada yang duduk di kiri dan kanan. Mereka harus punya bobot badan yang tidak terlalu ringan. Tapi jangan terlalu berat,a�? kata seorang pria paruh baya, namanya Mildan. Ia datang jauh-jauh dari Desa Langko, Lombok Barat.

Terlalu ringan, cidomo bisa oleng dan terbalik. Tetapi terlalu berat, tentu saja resisten pada kecepatan kuda. Mereka memang terlihat sangat santai. Hanya duduk menikmati, kencangnya lari berkuda. Tetapi nyatanya, harus punya sensisifitas kemiringan gerobak cidomo. Berbahaya atau masih aman.

a�?Kalau di depan, memang biasanya ada dua. Satu bertugas melecut kuda dengan cemeti atau alat-alat khusus. Satu lagi, mengendalikan tali kekang kuda,a�? imbuhnya.

Tapi rupanya, sekarang banyak yang memilih satu saja untuk dua tugas itu. Demi mengurangi beban kuda. Dan wuss! Hasilnya memang jauh berbeda. Momentum start bisa lebih mudah. Cidomo bisa melesat dalam hitungan beberapa detik saja.

Kuda yang bertarung juga bukan kuda sembarangan. Bukan pula, jenis kuda tunggangan.

a�?Memang khusus untuk balap cidomo,a�? terangnya.

Saat diperhatikan memang kuda-kuda itu nampak berbeda. Entah apa, sulit menjelaskannya. Secara kasat memang tidak jauh berbeda dengan kuda kebanyakan. Tetapi ia punya a�?pamora��.

a�?Kalau perawatan jangan dibilang. Mulai dari makanan hingga kandang dijaga ketat. Rasnya juga harus keturunan pemenanga�? kata pria yang bekerja mencari nafkah dengan menarik cidomo itu.

Pantas saja. Kuda itu terlihat sangat tangguh. Trengginas. Otot-otot padat, kulit sehat. Warnanya pun tak biasa. Memang tidak ada yang berwarna terang. Seperti kuning atau biru. Tidak ada. Tetapi padanan warna abu-abu dan merah maron membuat beberapa di antaranya, terlihat sangat tangguh dan liar.

a�?Bahkan ada kuda yang ukurannya lebih besar dari pada gerobaknya, besar sekali. Seperti miliknya Jro Batu,a�? tuturnya.

Siang itu, balap cidomo akan digelar di jalan Ade Irma Suryani, Monjok Mataram. Ratusan orang sudah menyemut. Memadati jalan yang kanan-kiri dihiasi hamparan padi yang luas. Plus, sudah ada beberapa pedagang asongan. Mereka jeli betul melihat peluang.

a�?Katanya sih sekarang resmi. Sudah ada izin dari kepolisian,a�? terang Mildan.

Acara itu, disebut-sebut satu rangkaian dengan acara yang dihelat partai politik. Tidak elok menyebut partainya apa. Tetapi, karena ada undangan dari partai itu dan klaim acara resmi, membuat puluhan kuda dari seantero Pulau Lombok, datang ke Mataram.

a�?Bahkan, kelompok itu sampai menginap dan buat tenda di Lingkungan Tohpati,a�? imbuhnya. sambil menunjuk, kerumunan orang dari Lombok Tengah.

Tentu tidak sedikit biaya yang dikeluarkan. Dari uang makan, biaya transportasi, hingga biaya tak terduga lainnya. Tapi karena terlanjur gemar dan yakin hari ini bisa memenangkan taruhan lomba, biaya-biaya itu pun tak difikirkan.

a�?Dari Rp 10 juta sampai Rp 30 juta ada. Bahkan lebih,a�? terangnya, menjelaskan taruhan lomba.

Benar saja. Tak jauh dari tempat kami berdiri. Gepokan duit, dikumpulkan pada seorang bandar. Nama-nama para penjudi ditulis dalam kertas. Maklum banyak yang tertarik menggandakan uang dengan cara instan ini. Mereka begitu tenang dan santai. Mengikuti prosedur berjudi.

a�?Sebaiknya kita minggir. Yang berlomba memang hanya dua cidomo. Tetapi, kalau sudah bringas, penonton bisa diseruduk hingga babak belur,a�? sarannya.

Kami pun bergerak mundur. Dua cidomo yang telah melakukan warming up berdiri di bawah garis start. Perdebatan kecil terlihat di sudut bandar. Tapi itu, tak mempengaruhi lomba. Wajah berdebar-debar terhampar sepanjang jalan. Menerka siapa pemenang lomba dua cidomo yang terlihat sama-sama tangguh.

a�?Itu biasa. Namanya juga lomba tradisional, pasti ada mistis-mistisnya,a�? terang Mildan.

Lombok Post baru saja menanyakan seseorang yang terus berkomat-kamit di antara para penonton. Wajahnya menegang. Matanya, kejap-kejap. Tangannya menepuk-nepuk tanah. Itu adalah bagian dari ritual untuk menghalangi secara magis, kuda lawan. Tetapi, rivalpun pasti tak tinggal diam. Di sudut berbeda, mereka juga telah menyiapkan dukun-dukun handal. Ah! Rasa-rasanya pertandingan makin mendebarkan.

a�?Bubar-bubar!a�?

Beberapa aparat kepolisian tiba-tiba datang. Menghalau para penjudi underground cidomo itu. Beberapa di antaranya mengernyitkan dahi.

a�?Loh bukannya ini resmi?a�? celetuk seseorang. Tapi tidak ada jawaban. Mereka terlihat bingung. Meski pada akhirnya, patuh juga. Urung balap cidomo. Bapak-bapak berseragam itu, secara persuasif meminta para penyelenggara, menghentikan acara, kental aroma judi itu.

Uuuuu!

A�Terdengar teriakan sumbang. Mereka kecewa. Marah. Kesal. Acara dipaksa bubar aparat keamanan. Sepertinya sudah kodrat balap cidomo, jadi lomba underground. Di mana mereka bisa melanggar aturan publik dengan sesuka hati. Lalu bertaruh judi dengan angka fantastis

a�?Entahlah, tapi kita memang harus bubar,a�? tutup Mildan yang juga nampak kebingungan siang itu. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r3)

Berita Lainnya

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost