Lombok Post
Feature

Peltu Suyata Bangunkan Istri Tahajud, Pelda Agung Tinggalkan Istri yang Sakit

TAKZIAH: Komandan Lanud Abd. Saleh Malang, Marsma TNI H. RM. Djoko Senoputro, S.E, kunjungi keluarga korban jautuhnya pesawat Hercules TNI AU di Wamena Papua, Peltu Suyata, Minggu 18/12/16. (GUEST GESANG/MALANG-POST)

Di balik jatuhnya pesawat Hercules C-130 H dengan nomor ekorA� A-1334 itu menyimpan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Suasana duka sudah terlihat semenjak kemarin pagi (18/12) di rumah para istri yang ditinggalkan.

***

SUASANAA� duka terlihat di Jalan Kebun Nangka I, Perumahan Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, kemarin pagi. Dua terop disambung menjadi satu. Sebab, di sana ada dua rumah anggota TNI-AU Abdulrachman Saleh yang meninggal dunia dalam tragedi jatuhnya pesawat Hercules di Wamena, Papua, kemarin (18/12).

Dua rumah tersebut merupakan tempat tinggal Pembantu Letnan Satu (Peltu) Suyata, pria kelahiran Sukoharjo, 15 Mei 1967, dan Pembantu Letnan Dua (Pelda) Agung Sugihantono, kelahiran Magetan, 23 April 1977. Rumah Suyata bernomor KI-19, sementara rumah Agung di K2-5.

Banyak tetangga sekitar yang bertakziah, kemarin. Termasuk anak-anak kecil, teman dari anak almarhum karena kebetulan bersamaan dengan hari libur sekolah.

Para pelayat bergantian datang ke rumah duka. Setelah mampir ke rumah Peltu Suyata, 49 tahun, mereka kemudian ke rumah Pelda Agung, 39 tahun, yang berjarak sekitar lima meter saja. Dari luar terdengar suara tangis haru dari istri dan keluarga mereka.

Sekitar pukul 12.00 WIB, rombongan Komandan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh (Danlanud Abd Saleh) Marsekal Pertama (Marsma) RM. Djoko Senoputro datang ke sana. Ketika itu, dia ditemani istrinya Atik Hardiati. Selain itu, ikut hadir juga calon Danlanud Abd Saleh Marsekal Pertama (Marsma) Julexi Tambayong beserta istrinya.

Kedatangan Djoko ke rumah Suyata langsung ditemui istri almarhum, Agus Purwati. Mata Purwati terlihat sembap ketika menemui komandan dari suaminya tersebut. Sesekali air matanya juga terjatuh. a�?Saya sudah ikhlas dengan apa yang terjadi. Namanya juga musibah, mau bagaimana lagi,a�? kata Purwati.

Dia juga memilih pasrah jika suaminya mau dimakamkan di mana. Terpenting, menurutnya, agar kepulangan jenazah suaminya bisa dipercepat saja. a�?Saya sudah pasrah,a�? tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga berkali-kali meminta maaf jika ada kesalahan dari suaminya agar bisa dimaafkan. a�?Maafkan ya bapak. Sekali lagi maafkan jika suami saya ada yang salah saat bertugas,a�? lanjutnya.

Sebelum tahu suaminya meninggal, Purwati sempat ditelepon malam harinya (Sabtu, 17/12). Ketika itu suaminya meminta dia bangun dan salat tahajud. a�?Itu adalah pesan terakhir dari suami saya,a�? kenang ibu dua anak tersebut.

Sementara itu, Linda Lidia, istri dari Pelda Agung terlihat begitu terpukul dengan kepergian suaminya. Dia terlihat tidak banyak bicara. Dia hanya menangis saja sembari menyandarkan diri di badan orang lain.

Apalagi kondisi kesehatannya sedang tidak baik saat itu. Semenjak dua minggu lalu, Linda terkena sakit tifus. Sehingga dengan adanya peristiwa ini, semakin memperburuk keadaannya.

Nadia, anak tertua korban mengaku tidak memiliki firasat apa pun saat ditinggalkan ayahnya. Saat ditinggal ayahnya pergi berdinas, juga tidak berpesan apa-apa. a�?Tidak bilang apa-apa,a�? tuturnya.

Sebagai anak tertua, Nadia terlihat tegar. Meskipun terlihat ada kesedihan di raut wajahnya. Dia juga sempat tegas kepada orang yang dianggap mengganggu ibunya. a�?Kenapa ibu saya difoto-foto. Jangan memfoto ibu saya lagi,a�? pintanya kepada para wartawan yang berdatangan ke rumahnya.

Pelda Agung meninggalkan empat orang anak. Dua anaknya masih di bangku sekolah dasar (SD), sementara dua anak lainnya sudah di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Anak-anaknya terlihat tegar meskipun sudah tahu jika ayahnya meninggal dunia.

Dalam kesehariannya, menurut salah satu tetangganya, Pelda Agung dianggap sosok pendiam. Meski begitu, dia cukup supel dengan para tetangga. Selain itu, sosok Agung adalah orang yang rajin beribadah. Ketika waktu salat tiba, dia akan langsung datang ke masjid.

Suasana duka juga menyelimuti kediaman Pelda Lukman Hakim di Jalan Tangkuban Perahu, Kota Malang. Dalam Surat perintah terbang Nomor SPT/2799/XII/2016, Lukman terdaftar sebagai awak bagian juru radio udara. Lukman merupakan satu dari 13 personel yang jadi korban setelah pesawat Hercules tipe C-130HA� dengan nomor ekor A-1334 jatuh di Timika, Papua, kemarin.

Kursi-kursi plastik berwarna merah muda yang berjajar di halaman depan rumah Lukman dipenuhi pelayat. Mulai dari keluarga, teman, hingga tetangga. Doa dan tahlil terdengar syahdu diselingi isak tangis beberapa pelayat. Istri Lukman, Titi Suhartiningsyih tampak duduk dan terus menundukkan kepala, sesekaliA� dia juga menyalami tamu yang mengucapkan bela sungkawa.

Berkali-kali perempuan itu menghela napas panjang dan dalam, seolah-olah menahan kesedihan mendalam yang dia rasakan. Meski tak terisak-isak, air matanya jatuh mengalir di kedua pipinya. Ketiga anak lelakinya duduk tak jauh darinya, juga tampak murung.

Sisa tangis membuat mata putra sulungnya, M. Rizal Alauri, 18 tahun, memerah. Selain itu, juga putra keduanya, A. Syaugi Alauri, 16 tahun, dan bungsu AR Novianto Alauri yang masih berusia 8 tahun.

Termasuk saat Komandan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh Marsma RM. Djoko Senoputro mendatangi rumah duka. Titi tak banyak bicara, dia memilih mendengarkan dengan saksama ungkapan duka dari Djoko.

Dalam pertemuan itu, Djoko sempat membicarakan proses kedatangan jenazah hingga ke lokasi pemakaman. Titi mengungkapkan bahwa keluarga ingin Lukman dimakamkan di pemakaman umum di Glintung, Blimbing, Kota Malang.

Anak kedua Lukman, Syaugi tampak cukup tegar menghadapi musibah ini. Dia mengaku sempat melakukan kontak dengan ayahnya sebelum melaksanakan tugas. a�?Ayah berangkat Jumat pagi lalu (16/12). Terakhir, saya komunikasi dengan beliau pada Sabtu sore (17/12) melalui pesan pendek (SMS), meminta saya mengambil surat kendaraan yang baru selesai beliau urus,a�? ujar Syaugi saat ditemui di rumah duka.

Syaugi mengaku, selama ini dia dan kedua saudara kandungnya sudah biasa ditinggal sang ayah untuk dinas hingga berhari-hari. Terlebih banyak anggota keluarga besar mereka yang juga jadi anggota TNI maupun polisi. a�?Bapak selalu tegas dan disiplin, terutama soal waktu. Namun, beliau juga sangat penyayang,a�? tuturnya. Siswa kelas XI SMKN 8 Malang tersebut mengaku kali pertama mendapat kabar tentang musibah yang dialami ayahnya, justru dari saudara yang berdinas di Papua. a�?Pagi-pagi dapat kabar kali pertama dari saudara yang jadi polisi dan dinas di Papua,a�? ucap Syaugi.

Kakak ipar Lukman, Kapten Teknik Sutikno menyatakan, korban dikenal mudah membantu anggota keluarga yang membutuhkan pertolongan. a�?Siapa saja ada keluarga kalau butuh bantuan, dia pasti tak segan membantu. Kebetulan saya dan Lukman juga dinas di tempat yang sama,a�? ucap Sutikno. Pelda Lukman Hakim masuk TNI-AU pada 1991 silam dari jalur bintara dan sebelumnya dinas di Juanda Surabaya, lalu pindah ke Malang.

Sutikno sendiri menjabat Kaorlat Ops Wing 2 di Pangkalan TNI-AU Abdulrachman Saleh Malang. Dia mengaku terakhir ketemu dengan korban pada Selasa lalu (13/12) di musala Pangkalan Abdulrachman Saleh Malang. a�?Ketemu biasa saja, tak ada obrolan serius. Keluarga tak ada firasat apa pun atas musibah ini,a�? pungkas Sutikno. (BAHRUL-NURLAYLA, Malang/c2/lid/JPG/r5)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post