Lombok Post
Tanjung

Enggan Cari Kerjaan Lain, Mampu Kuliahkan Tiga Anaknya

PERBAIKI PERAHU: Salah seorang nelayan Lombok Utara Itrawaji saat sedang memperbaik perahunya yang disandarkan di pesisir pantai Penyambuan, kemarin (19/12). Pria ini memilih libur melaut karena saat ini cuaca sedang buruk.

Cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini menjadi kendala bagi nelayan. Salah satunya Itrawaji, nelayan Lombok Utara (KLU) warga Dusun Kandang Kaok, Desa Tanjung

***

PANTAI A�Penyambuan pagi itu tampak sepi. Hanya terlihat beberapa perahu nelayan diparkirkan di pinggir pantai. Tapi ada juga yang dilepas di laut dengan tali yang diikatkan pada benda kuat di pesisir pantai.

Di antara kapal yang disandarkan nelayan tersebut, tampak seorang pria dengan tengah memperbaiki perahu. Saat disambangi koran ini, pria tersebut mengaku bernama Itrawaji asal Dusun Kandang Kaok, Desa Tanjung.

Itrawaji mengaku beberapa hari terakhir ini memilih tidak melaut karena kondisi cuaca yang buruk dan gelombang laut tinggi. a�?Sekarang mending perbaiki perahu,a�? ujarnya sambil mengoleskan lem ke beberapa bagian perahu yang akan diperbaiki.

Ayah tiga anak ini menuturkan, jika cuaca tidak buruk, dirinya mulai berangkat melaut pada malam hari selepas Isya. Kemudian kembali ke daratan saat pagi hari. Tangkapan ikannya pun tidak menentu setiap harinya, terkadang melimpah dan tidak jarang juga hanya sedikit. a�?Kalau cuaca buruk kayak gini kita tetap melaut yang didapat juga ikan-ikan kecil,a�? tuturnya.

Dalam sekali melaut tangkapan memang berbeda-beda. Jika ikan berukuran besar bisa dihargai Rp 25 ribu per kilogram. Namun jika hanya mendapatkan yang kecil seperti ikan laying atau kucing hanya dihargai per ekor yakni Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu. a�?Saya biasanya menjaring dan memancing. Yang usaha dapat ikan banyak,a�? katanya sambil tersenyum

Itrawaji pun mulai bercerita dirinya sejak kecil sudah terbiasa ikut melaut bersama orang tuanya. Bahkan jika orang tuanya tidak melaut, dirinya memilih ikut tetangga atau nelayan lain pergi melaut. Hal ini berlangsung terus hingga dirinya menikah. a�?Waktu nikah saya beli perahu sendiri sekitar tahun 1977. Waktu itu harganya Rp 10 juta,a�? katanya.

Setelah memiliki perahu sendiri, Itrawaji pun mulai melaut sendiri. Hasil tangkapan yang diperolehnya pun tidak menentu. Kalau banyak mendapatkan ikan Itrawaji mengaku bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 1 juta. a�?Dari hasil itu ada yang saya tabung. Dulu beli perahu sendiri juga hasil nabung,a�? katanya.

Itrawaji mengungkapkan beberapa wilayah yang banyak ikannya berada di wilayah Bayan. Namun hasil tangkapan yang banyak itu tidak bisa dijual sesuai harga. Karena saat itu di Bayan peminat ikan hanya sedikit. a�?Jadi berapa yang nawar, ya kita jual segitu,a�? keluhnya.

Tetapi sekarang, penjualan ikan hasil tangkapanya mengalami peningkatan. Karena dirinya memilih menjual ikan hasil tangkapan ke Ampenan yang diakuinya banyak pembeli. Sehingga kepada tawaran tertinggilah ikan hasil tangkapannya dilepas.

Meskipun kerap mengalami kendala saat cuaca buruk, Itrawaji enggan mencari pekerjaan lain. Menurutnya, karena menjadi nelayanlah dia dan keluarganya bisa hidup sampai sekarang. Bahkan ketiga anaknya pun bisa duduk di perguruan tinggi. a�?Kalau saya hanya sampai SD. Yang penting anak-anak bisa kuliah semua,a�? pungkasnya. (PUJO NUGROHO, Tanjung/r7)

Berita Lainnya

50 Orang Dilatih Jadi Aplikator Risha

Redaksi LombokPost

Rekruitmen P3K Diharapkan Bisa Mulai Tahun Depan

Redaksi LombokPost

Kantor Sementara DPRD Mulai Dibangun

Redaksi LombokPost

Warga Dusun Boyotan Terancam Tak Dapat Rp 50 Juta

Redaksi LombokPost

Baru 40 Sekolah Rusak Berat Dirobohkan

Redaksi LombokPost

Sekda Izinkan Huntara BUMN yang Tak Ditempati Dibongkar, Asal…

Redaksi LombokPost

Empat Puskesmas Darurat Mulai Beroperasi

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Pelebaran Jalan Ganggu Distribusi Air

Redaksi LombokPost