Lombok Post
Opini

Ibukota Dilanda Banjir, Kenapa?

Opini LombokPost
Opini LombokPost

PERUBAHAN cuaca ekstrim yang disertai dengan peralihan musim kemarau ke musim hujan sudah sedang berlangsung sampai awal tahun 2017 nanti. Hal ini sudah dapat dirasakan dengan seringnya turun hujan diberbagai daerah bahkan terjadi hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang yang memungkinkan dapat mengkibatkan terjadinya berbagai bencana alam seperti; pohon tumbang, tanah longsong, suhu menjadi dingin, dan terlebih terjadinya banjir dimana-mana.

Tidak bisa diperkirakan seberapa tinggi intensitas hujan turun dan seberapa lama hujan akan berlangsung pada suatu waktu, tetapi seringkaliA� yang tampak diusai hujan adalah luapan air yang membanjiri di gorong-gorong jalan kota. Maka semestinya kita sadari terhadap fakta itu, kenapa bisa terjadi banjir? Tentunya peristiwa itu tidak hanya karena faktor alam saja melainkan juga tidak lepas dari perilaku manusia sendiri.

Berbagai riset menyatakan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya banjir tidak hanya karena hujan terus menerus dengan intensitas tinggi tetapi ada faktor secara tidak langsung sebelumnya sebagai pemicu dari peristiwa itu, tiada lain adalah prilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar karena berorientasi pada pemenuhan kebutuhan ekonomi semata mengakibatkan beberapa lahan menjadi terancam.

Misalnya adanya kegiatan penebangan hutan atau pembalakan liar baru-baru ini yang massif terjadi mengakibatkan angka kerusakan hutan semakin meningkat. Luas hutan yang ada di NTB hanya tersisa 43 persen saja yang utuh dari total 1,07 juta hektar, lebih dari setengah total tersebut telah mengalami kerusakan parah (BLHK NTB).

Kegiatan manusia di bagian hulu berupa alih fungsi lahan dan pembabatan hutan secara liar membuat hutan semakin rusak yang merupakan salah satu penyebab banjir. Hal ini karena fungsi hutan sebagai penyimpan air dan penahan tanah tidak akan berfungsi dengan baik oleh krisisnya hutan. Oleh karena itu, secara tidak langsung jika banyak pohon yang hilang maka akan mengakibatkan terjadinya bancana banjir bahkan tanah longsor di bagian hilir.

Di samping itu, bencana banjir juga dipicu oleh sistem kelola tata ruang yang salah. Maraknya pemanfaatan ruang dan pembangunan infrastruktur kota terutama di daerah permukiman warga dan deretan bangunan ruko-ruko yang kurang disertai dengan sistem drainase yang memadai. Kebanyakan orang hanya mendesain bentuk bangunan fisik saja tetapi kurang memperhatikan fungsi saluran drainase akibatnya ketika hujan turun maka rembesan air tidak berada di saluran melainkan air mengalir di ruas-ruas badan jalan.

Keberadaan saluran drainase yang tidak terawat sering menjadi permasalahan ketika musim hujan tiba seolah-olah upaya penaggulangannya sebatas wacana belaka. Perlu disadari bahwa sistem drainase memiliki fungsi yang sangat penting dalam mencegah terjadinya banjir. Namun relitanya, permasalahan sistem drainase masih kurang diperhatikan sehingga banjir pun selalu terulang kembali setiap tahun.

Permasalahan tersebut harus segara ditanggulangi dengan mengevaluasi kembali sistem drainase secara menyeluruh, tidak hanya saluran drainase di pinggiran jalan kota tetapi juga di Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai induk dari saluran drainase sampai ke muara.

Untuk mengatur permasalahan infrastruktur tersebut, diperlukan sistem drainase yang berwawasan lingkungan, dengan prinsip dasar mengendalikan kelebihan air permukaan sehingga dapat dialirkan secara terkendali dan lebih banyak memiliki kesempatan untuk meresap ke dalam tanah. Hal ini dimaksudkan agar konservasi air tanah dapat berlangsung dengan baik dan dimensi struktur bangunan sarana drainase dapat lebih efisien.

Untuk dapat memadukan berbagai tingkat kepentingan, maka perlu diupayakan adanya koordinasi antara instansi atau lembaga terkait dengan masyarakat.

Tradisi sebagian masyarakat yang membuang sampah sembarangan baik di kali dan drainase diduga kuat sebagai faktor penyebab terjadinya musibah banjir itu. Ternyata keberadaan sampah menjadi kendala terbesar diberbagai daerah, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Negara-negara lain. Tumpukan sampah tampaknya merupakan hal yang sepele.

Namun pada dasarnya keberadaan sampah dapat memberi dampak negatif seperti sebagai sarang perkembangbiakan berbagai jenis virus dan bakteri yang dapat menimbulkan berbagai penyakit, sampah juga dapat mengganggu estetika kota bahkan terlebih lagi bahwa sampah sudah terbukti sebagai penyebab utama terjadinya banjir.

Bukankah ibu kota kita bermotto a�?Maju, Religius, dan Berbudayaa�?. Namun faktanya masyarakat kita masih belum tercermin dari motto tersebut. Hal ini dibuktikan dengan kebiasaan buruk membuang sampah sembarang bahkan dimana-mana banyak terdapat tempat pembuangan sampah liar. Padahal dinas terkait telah mengeluarkan larangan buang sampah di TPS liar.

Kendati demikian, tumpukan sampah masih tetap terjadi. Hal itu juga disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat akan aturan-aturan yang telah ditetapkan.

Terkait dengan motto religious, bahwa ibu kota kita tidak hanya menggambarkan sebagai kota beribu masjid, tetapi juga harus mencerminkan akan cinta kebersihan, bukankan kebersihan itu sebagian dari iman. Artinya bersih secara lahir dan batin yang dapat diimplementasikan melalui kebersihan lingkungan sekitar.

Dengan demikian, perlu adanya manajemen koordinasi dan sosialisasi melalui pendekatan partisipasif dengan melibatkan seluruh masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memelihara sistem drainase. Di samping itu, peraturan yang menjangkau perilaku masyarakat harus berjalan dengan baik dan konsekuen, serta meningkatkan kesadaran masyarakat dan rasa memiliki terhadap lingkungan.

Untuk itu, segala kebijakan publik harus melibatkan masyarakat baik itu berupa pembangunan fisik maupun non fisik, sejak awal munculnya ide pembangunan infrastruktur sampai dengan pengoperasiannya. (*)

Berita Lainnya

Pemuda dan Transformasi Masa Depan

Redaksi Lombok Post

Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Pascagempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Kebijakan dan Pengelolaan Dana Desa Melalui KPPN Mataram

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Redaksi Lombok Post

TGB dan Masa Depan Indonesia Gemilang

Redaksi Lombok Post

Gerakan Zakat: Antara Pergerkan, Angka, dan Regulasi

Redaksi Lombok Post

DIPLOMASI KEMANUSIAAN LEMBAGA ZAKAT

Redaksi Lombok Post

LEMBAGA ZAKAT: DARI FUNDRAISING KE FRIEND-RAISING

Redaksi Lombok Post

PILKADA ZAMAN NOW

Redaksi Lombok Post