Lombok Post
Headline Metropolis

Om Telolet Om

IKUT TREN: Tiga mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Mataram ini meminta telolet di depan kantor pemadam kebakaran, Mataram, Senin (26/12).

MATARAM – Telolet yang mendunia tiba juga di Mataram. Suara knalpot khas kendaraan-kendaraan besar, terutama bus tersebut kini sudah mulai terdengar. Sejumlah kendaraan lain semisal truk dan bemo kuning bahkan ada pula yang bersuara demikian.

“Sudah lumayan lama kalau mobil ini pakai klakson unik,a�? kata Supar, sopir bemo kuning.

Jika dibanding daerah lain, terutama di Jawa, tempat asal telolet bermula, jelas Mataram kalah pamor. Namun, perkembangan yang mulai ditemui di daerah ini menandakan masyarakat Mataram yang juga selalu up to date.

Kepala Terminal Mandalika, Syaiful mengatakan bus-bus besar yang biasa transit di sana memang masih jarang yang menggunakan klakson telolet tersebut. Klakson-klakson standar masih mendominasi. a�?Tapi sudah mulai terdengar juga beberapa,a�? ujarnya.

Perbincangan yang banyak berkaitan dengan klakson telolet adalah bukti lain masyarakat Mataram yang turut mengikuti tren. Di jagad dunia maya, banyak percakapan mulai dibubuhi kalimat telolet. a�?Karena penasaran, jadi ikut lihat-lihat videonya,a�? kata Surya, salah seorang warga.

BRT Perlu Pakai Telolet

Awaludin, seorang tokoh pemuda Dasan Agung bahkan menyarankan agar telolet digabungkan dengan Bus Rapid Transport (BRT) yang belum lama ini diluncurkan. Dengan suara-suara khas itu, dia yakin dapat menarik perhatian siswa, dan pada akhirnya mereka mau beramai-ramain menggunakannya.

“Mungkin pakai cara kreatif seperti itu perlu juga,a�? ujarnya.

Kendati bus-bus yang digunakan dalam skema layanan transportasi BRT masih menggunakan klakson standar, namun sejumlah anak mulai rutin menunggu. Bukan hendak naik, namun sekadar iseng mencoba, dengan tulisan om telolet om yang dibawanya.

a�?Saya sudah lihat anak-anak duduk di BRT sambil bawa kertas minta telolet,a�? kata Dewi menceritakan pengalamannya terkait telolet.

Faris Zainudin, pemuda lain bahkan menyarankan fenomena telolet dimanfaatkan sesuai momen. Misalnya, kini diadakan festivalnya dengan konsep perlombaan. Lalu dalam keramaian yang tercipta, upaya mengumpulkan donasi untuk korban banjir bandang Bima dapat dilakukan. a�?Manfaatkan momen untuk hal sosial,a�? saran Faris.

Kini, setelah sejumlah tanda-tanda telolet bermunculan di Mataram, agaknya tak perlu menunggu waktu lama hingga anak-anak dan para remaja bahkan orang tua menunggu di pinggir jalan. Menunggu bus datang, lantas meminta agar klakson uniknya dibunyikan. a�?Om telolet oma�? patut ditunggu dalam beberapa hari ke depan.

Terpisah, pakar komunikasi sekaligus Guru Besar Universitas Indonesia Ilya Revianti A�menilai, munculnya Om Telolet Om yang menjadi perbincangan di media sosial merupakan fenomena tentang A�kemenangan sesaatA� dalam pertarungan budaya global. Dalam konteks budaya, fenomena ini merupakan hal menarik karena terkait dengan masalah globalisasi.

Dikatakan Ilya, pertarungan budaya hasil konstruksi realitas sosial kreativitas anak bangsa yang kemudian meluas ke seluruh penjuru dunia dengan bantuan media sosial dan bisa diterima sebagai bagian dari budaya popular dunia merupakan hal yang sangat menarik.

“Ini merupakan fakta nyata akan kekuatan teknologi komunikasi media dengan karakter khasnya yang menengahkan prosumer. Semua orang bisa menjadi produsen pesan berupa ungkapan kreativitas tentang realita sosial yang dihadapinya sehari-hari,A� terangnya.

Saat ini, tambah Ilya, arus informasi global tidak lagi satu arah. Namun ada arus balik budaya berisikan realita asli yang dihadapi anak muda di belahan bumi “selatanA�. A�Walaupun realita tersebut direkayasa dalam bentuk meme yang lucu,A� ungkapnya.

Ilya menambahkan, isu besar atau penting dan sebaliknya ditentukan oleh media sebagai pembentuk opini publik, termasuk isu Telolet ini. Media sosial bisa menjadi alternatif sumber informasi penyeimbang.

“Tentu dengan catatan, kita harus bijak menggunakannya. Dan yang terpenting bisa memilah-milah mana yang merupakan konten sampah dan mana yang bermanfaat,A� imbuhnya.

Trend Mulai Menurun

Sementara itu, salah satu perusahaan yang bergerak di media intelligence asal Australia Isentia, melakukan pemantauan terhadap fenomena Om Telolet Om ini. Istilah yang mulai popular sejak 19 Desember tersebut lalu dimonitor pembicaraannya di semua kanal media sosial sampai tanggal 23 Desember.

Menurut General Country Manager Isentia Jakarta, Luciana Budiman, tren percakapan mengenai topik ini sudah mencapai titik klimaksnya pada tanggal 21 Desember dan saat ini cenderung menurun.

“Berdasarkan pantauan kami, netizen lokal yang membicarakan isu ini di berbagai media sosial mencapai titik terbanyak pada tanggal tersebut. Karena netizen luar juga memperbincangkan, kami juga memantau pembicaraan dari Amerika dan Inggris dengan jumlah pergerakannya mencapai ribuan per harinya,A� tuturnya.

Secara umum, total pembicaraan mengenai topik ini mencapai 176.984 (96.81 persen) buzz selama lima hari ini untuk netizen lokal. Sementara untuk netizen Inggris, total buzz yang dihasilkan adalah 1968 (1.07 persen) dan netizen Amerika mencapai 5.766 (3.12 persen).

“Netizen Amerika lebih banyak daripada Inggris karena salah satu faktor penyebabnya karena Presiden Obama sempat membahas ini di akun Twitter-nya. Sebagai seorang top influencer, tentu ini sangat berpengaruh terhadap meningkatnya trafik pembicaraan,A� ungkapnya.

Luciana juga menyebutkan bahwa rata-rata pembicaraan mengenai Om Telolet Om tidak saja membahas bunyi klakson bus, melainkan juga aransemen musik, kampanye politik, pujian musisi hingga nasehat agama.

“Ini membuktikan bahwa kreativitas orang Indonesia dalam menciptakan sesuatu yang booming dari hal-hal yang biasa ternyata diapreasiasi oleh masyarakat dunia,A� pungkasnya. (yuk/r5)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost