Lombok Post
Sudut Pandang

Pelajaran dari Bencana Alam

sudut pandang

BENCANA alam adalah pesan yang harus direspon dengan tepat oleh setiap orang yang menjadi korban atau pihak lain yang memiliki kepedulian sosial atas musibah tersebut. Bencana alam terkadang tidak diprediksi, tetapi dengan kemajuan teknologi, kehadirannya bisa diramalkan sehingga bisa diantisipasi dampak yang akan ditimbulkannya.

Beberapa bencana alam yang terjadi di tanah air acap kali merupakan musibah yang memiliki karakter sama, dan tidak jarang merupakan bencana a�?replaya�? dari yang pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu mengambil pelajaran dari setiap bencana alam yang terjadi merupakan langkah bijak untuk bekal hidup pasca-bencana, sekaligus untuk lebih preventif dan siaga serta tanggap bila bencana kembali terjadi.

Bencana alam seperti banjir bandang yang terjadi di Bima tanggal 21 dan 23 Desember 2016 silam merupakan pesan penting yang banyak memancarkan pelajaran. Bencana alam telah menjadi stimulus penting bagi tumbuhnya solidaritas sosial. Sikap dan aksi solidaritas telah menjadi reaksi spontan dan rutin kala bencana melanda.

Inilah yang terlihat sesaat setelah bencana banjir bandang di kota Bima. Reaksi solider tidak hanya berasal dari masyarakat yang ada di sekitar lokasi bencana, tetapi tanpa dikomando semua elemen dari berbagai daerah yang mengetahui musibah tersebut terketuk hati dan nuraninya untuk membantu dengan berbagai cara dan kemampuannya masing-masing.

Apresiasi yang tidak terhingga kepada para relawan yang langsung terjun ke wilayah bencana untuk membantu evakuasi penduduk sehingga terhindar dari efek paling buruk bencana alam. Kepedulian yang luar biasa juga ditunjukkan secara spontan oleh warga atau sekelompok masyarakat yang langsung bergerak untuk menghimpun sumbangan dari para dermawan.

Kita sangat senang dengan hadirnya para pemuda yang sangat peduli dengan penderitaan korban bencana alam dan menyediakan waktu dan tenaga untuk berdiri serta berjalan di perempatan jalan raya atau di pusat-pusat keramaian ruang publik guna mengingatkan dan menyiapkan kesempatan kepada setiap orang untuk peduli dengan korban bencana alam di suatu daerah.

Solidaritas sosial yang sungguh luar biasa telah ditunjukkan masyarakat Indonesia ketika dengan penuh keikhlasan menyumbangkan uang, makanan, dan barang bermanfaat lainnya. Jarak yang jauh antara dermawan dengan lokasi bencana alam bukan penghalang semangat mereka untuk mendermakan hartanya.

Para dermawan dari berbagai simpul etnik, agama, organisasi profesi dan institusi membaur menjadi satu rasa kepedulian dalam membantu korban bencana alam seperti yang baru-baru ini terjadi di kota dan kabupaten Bima. Kepedulian para pejabat dan aparat di daerah juga layak diapresiasi. Tanpa mengenal lelah mereka terus mengevakuasi korban, mendistribusikan bantuan, dan mengkoordinasikan setiap langkah yang diambil untuk pemulihan kondisi pasca-bencana. Pemimpin daerah tetangga pun tidak ketinggalan mengarahkan sumber daya yang ada di daerahnya untuk membantu jiran yang sedang tertimpa musibah.

Semua potret kepedulian dan kebersamaan seperti digambarkan di atas merupakan kekuatan sosial sekaligus energi positif yang tersimpan dalam setiap diri warga. Energi seperti ini idealnya jangan hanya dikeluarkan kala bencana berlangsung, tetapi harus dijadikan spirit keseharian saat berinteraksi sosial dengan orang lain atau kelompok lain.

Bila energi dan spirit seperti ini terus terinternalisasi dalam setiap langkah interaksi masyarakat, maka dipastikan kita tidak akan mendengar atau menyaksikan lagi konflik sosial (horizontal) yang kerap kali berlangsung selama ini karena kehidupan sosial diwarnai dengan nuansa persahabatan, persaudaraan, dan saling pengertian.

Bencana alam seperti banjir bandang di Bima beberapa hari silam menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah dan warga kota dan kabupaten Bima untuk mencari tahu penyebabnya agar diantisipasi kehadirannya kembali di kemudian hari.

Salah satu faktor penyebab dominan (di luar faktor fenomena alam berupa intensitas hujan yang tinggi) adalah gundulnya hutan di daerah hulu. Bila persoalan ini tidak diurus dengan serius (lewat kebijakan top down dari pemerintah yang dikolaborasikan dengan pendekatan partisipatif untuk menggerakkan dukungan publik) dikhawatirkan bencana alam yang sama (banjir bandang) akan terulang kembali.

Pemerintah daerah harus memiliki komitmen yang tinggi lewat kebijakannya menjaga kelestarian hutan agar terus menjadi paru-paru bumi. Ketegasan dalam menindak pelaku illegal loging harus terus ditegakkan agar pemerintah tidak kalah dengan pelaku kejahatan penjarah hutan.

Rakyat yang berada di daerah hulu (lingkar hutan) harus menjadi bagian dari penjaga (pelindung) paru-paru bumi ini, agar mereka dan saudara-saudaranya yang ada di wilayah hilir terlindungi dari bencana alam yang disebabkan oleh ulah tangan manusia.

Setelah membereskan urusan hulu bersama warganya, pemerintah daerah harus membangun sistem atau managemen bencana yang ideal (maksimal). Daerah-daerah yang teridentifikasi sebagai wilayah rawan bencana (seperti kota Bima dan beberapa wilayah di kabupaten Bima) sudah seharusnya membangun sistem atau managemen bencana yang serius dan konsisten.

Bencana banjir bandang yang berlangsung tanggal 21 Desember 2016 silam menjadi pelajaran penting betapa sistem peringatan dini (early warning system) akan datangnya banjir belum berlangsung sebagaimana idealnya. Banyak warga kota yang belum siap dengan kehadiran banjir tidak diundang tersebut, sehingga mereka terlambat mengantisipasi atau menyelamatkan diri dan barang berharga lainnya.

Belum maksimalnya manajemen bencana juga terlihat kala evakuasi korban dan pendistribusian bantuan logistik serta saat rehabilitasi pascabencana. Derasnya arus bantuan logistik yang berasal dari para dermawan maupun dari pemerintah tidak seimbang dengan manajemen pendistribusian yang cepat dan adil. Suasana psikologis korban saat dan pascabencana yang sangat sensitif mengharuskan petugas dan relawan seminimal mungkin menekan tingkat ketidakadilan atau tingkat keterlambatan dalam pelayanan.

Meskipun melakukan hal ini sampai pada titik ideal bukan hal yang mudah, tetapi meng-ikhtiar-kan hal tersebut adalah keharusan dalam rangka mewujudkan manajemen bencana secara maksimal dan ideal. Semogaa�� (r8).

Berita Lainnya

Sudah Ikhlaskah Nonpribumi Berindonesia?

Redaksi Lombok Post

Universitas Islam Negeri (UIN) dan Spirit a�?DNAa�? Baru

Redaksi Lombok Post

Selamat Jalan Pengawal Budaya Mbojo

Redaksi Lombok post

Melawan Musuh Bangsa

Redaksi Lombok post

Media Sosial dan Ruang Publik

Redaksi Lombok post

Makna Simbolik Kunjungan Raja Salman

Redaksi Lombok post

Pendidikan Nirkekerasan

Redaksi Lombok post

Kasih Sayang yang Tidak Mengenal Hari

Redaksi Lombok post

Habib Rizieq: Antara Benci dan Rindu

Redaksi Lombok post