Lombok Post
Headline Metropolis

Anak Cacar Air, Orang Tua Masak di Kamar

GATAL: Sekujur tubuh Muhammad Gilang terkena sejenis cacar air, akibat genangan air di lingkungan Bintaro Jaya, Selasa (27/12).

Dua minggu lebih lingkungan Bintaro Jaya terendam banjir. Air berubah hijau dan menjadi sarang penyakit. Seperti apa kehidupan warga di sana? Berikut laporannya.

***

BOCAH itu terus menggaruk-garuk. Matanya tak pernah lepas dari mesin pompa air yang terus meraung. Baginya, bocah yang bernama Muhammad Gilang itu, memandangi mesin yang tengah bekerja itu, sepertinya lebih seru dari film kartun.

Ia nampak sendiri diantara puluhan pria dewasa. Beberapa diantaranya juga, sela-sela kakinya nampak (maaf) membusuk. Penyebabnya sama. Gara-gara genangan air yang kini mulai berwarna hijau.

Terang saja, berlumut. Dari pengakuan warga ada yang menyebut itu sudah dua minggu lebih. Bahkan ada yang menyebut tiga minggu. a�?Gatal,a�? jawab bocah itu.

Setengah berlari ia lalu, menghampiri ibunya. Tengah duduk bersandar di tembok rumah tak jauh dari tempatnya berdiri. Wanita itu, juga memandangi mesin dan air yang sudah menggenangi rumah-rumah warga berhari-hari lamanya.

Ah! Kapan keringnya? Barangkali ini yang ada di dalam benak wanita paruh baya itu. a�?Hampir semua anak-anak di sini kena penyakit ini,a�? timpal wanita itu. Ia memperkenalkan diri dengan nama Ibu Karyadi.

Jika diamati, air memang nampak tidak sehat. Berlumut! Bahkan ada aroma anyir dan busuk yang hembusannya mulai kencang menusuk-nusuk telinga. Bagaimana warga di sana bisa betah?

a�?Kalau rumah bisa dipindah, sudah saya angkat pakai truk,a�? selorohnya. Tapi dengan ekspresi dongkol.

Sebenarnya genangan itu sudah lama ditahu pemerintah. Setidaknya itu yang diceritakan Ibu Karyadi. Saat itu, dari BPBD sudah terjun menyedot air yang menggenang awalnya sampai membanjiri rumah warga. Tetapi entah apa sebab, beberapa hari kemudian BPBD pun disebutnya menghilang. Plus mesin pompa airnya ikut diangkut.

“Bahkan dulu kita ndak bisa tidur, karena air masuk ke dalam kamar. Tetapi setelah disedot beberapa hari orangnya (BPBD) pergi, sambil bawa pompanya juga,a�? cetusnya.

Ia dan warga lain sempat kecewa. Alih-alih pekarangan bebas dari genangan, penyakit bermunculan. Apalagi sejak air genangan berubah warna. Aroma anyir dan busuk sebenarnya datang dari air itu sendiri yang merupakan campuran air tawar (hujan) dan air laut.

Sementara bau busuk muncul dari kotoran sapi yang telah bercampur homogen dengan air. a�?Di belakang rumah ini ada kandang sapi. Kotoran-kotoran itu bercampur dengan air yang menggenang. Karena itu air jadi bau,a�? ungkapnya.

Bahkan dari penuturan Ibu Karyadi, ada orang tua yang harus mendapat pertolongan intensif karena genangan air yang banyak mengandung bakteri penyakit itu. Ada luka di kaki bekas tusukan paku. Tetapi karena sering mondar-mandir di genangan air, lukanya malah infeksi parah.

a�?Namanya Puk (papuk atau kakek, Red) Acip. Umurnya lebih seratus tahun. Kakinya sampai bengkak besar. Nyaris ndak bisa jalan. Tapi kemarin katanya sudah diobati ke puskesmas,a�? tuturnya.

Warga pun sepakat mengusahakan sendiri pompa air. Menyewa dari warga luar lingkungan yang punya mesin air. Biaya bensin dan sewa mesin air perhari pun patungan warga. Dari pada air yang sudah bermetamorfosa jadi kubangan penyakit membawa petaka lebih besar. Mereka sepakat berjuang sendiri.

a�?Ah ndak tahu (kemana pemerintah). Ini (air) kan (kubangan) penyakit. Jadi harus dibuang. Lah, kemarin saja ada datang katanya dari puskesmas. Sudah chek kesehatan anak-anak sini. Terus foto-foto. Janji mereka ada pengobatan gratis. Tapi sekarang mana?a�? gerutunya dengan nada gusar.

Hanya dengan mengandalkan satu pompa air, warga masih bertaruh dengan kesehatannya. Meski sudah berjam-jam mesin menderu-deru, nampak genangan tidak surut signifikan. Air masih terlihat menggenangi puluhan rumah warga.

a�?Kemarin disedot dari sore sampai jam tiga malam (dini hari), ya segini-segini saja (airnya). Ini baru mulai disedot lagi, tapi belum ada perubahan,a�? cetusnya resah.

Genangan memang masih tampak tinggi. Tingginya berkisar antara 20-30 centimeter (cm). Ketinggiannya merata di semua perumahan warga. Ibu Karyadi sendiri mengaku dapurnya sampai rusak karena terendam air.

“Terpaksa masak di dalam kamar,a�? cetusnya, sembari menggaruk-garuk sela-sela jari kakinya yang gatal.

Kalau diperhatikan, pemukiman warga khususnya di wilayah Bintaro Jaya, pemukiman Bekicot, tanahnya memang sudah sangat rendah dibanding ketinggian laut. Jika hujan turun lagi ditambah air pasang maka sudah pasti kawasan itu akan kembali terendam air. Begitu seterusnya.

Beberapa warga terlihat ada yang menyiasati dengan meninggikan fondasi rumah. a�?Iya kalau punya uang (buat fondasi). Tapi kalau gak punya gimana? Kami cuma minta, kalau pemerintah mau peduli, mohon pekarangan kami diuruk tanah saja, biar rata,a�? harapnya.

Tak hanya rugi kesehatan dan sulit masak, beberapa piaraan unggas seperti itik dan ayam warga juga banyak yang mati dan hilang.

a�?Bagaimana mau balik (unggas), kandang yang biasanya tempat ayam tidur, terendam semua,a�? keluhnya. Seraya menghela nafas panjang. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Berita Lainnya

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost