Lombok Post
Metropolis

200 Perusahaan Masuk Zona Merah

BPMP2T12222
PELAYANAN: Terlihat aktifitas pelayanan pemberian izin di BPMP2T Kota Mataram, untuk para pengusaha yang tertarik menanamkan modalnya di Kota Mataram, Kamis (11/8).

MATARAM – Sekitar 200 perusahaan di NTB masuk zona merah. Perusahaan-perusahaan ini hanya memiliki nama, tapi tidak melakukan aktivitas penanaman modal sama sekali. Keberadaan perusahaan merah ini sangat merugikan daerah.

Kepala Bidang Pengendalian Penanaman Modal, BKPMPT Provinsi NTB Didi Suwardi menyebutkan, hingga triwulan ketiga 2016, jumlah perusahaan di NTB sebanyak 953. Terdiri dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) 103 perusahaan dan penanaman modal asing sebanyak 849 perusahaan. Dari jumlah perusahaan ini, realisasi investasi hingga triwulan III sebesar Rp 7,2 triliun dihitung dari nilai kurs USD 13.900.

Realisasi ini diperoleh berdasarkan atas laporan kegiatan penanaman modal (LKPM) yang wajib disampaikan secara berkala bagi perusahaan pada tahap konstruksi. Setiap tiga bulan sekali ke BKPM RI, BKPMPT Provinsi NTB, dan BKPM masing-masing kabupaten/kota.

Dalam melakukan pengawasan, BKPMPT mengklasifikasikan kondisi perusahaan ke dalam tiga warna. Yakni warna hijau artinya perusahaan yang sudah produksi komersial dan tidak ada hambatan. Warna kuning, perusahaan ini dalam tahap konstruksi sambil melengkapi izin-izin lainnya di kabupaten/kota. Sedangkan warna merah adalah perusahaan yang tidak jelas kegiatannya, atau perusahaan yang tidak diketahui rimbanya. a�?Ini (perusahaan) yang kita masukkan ke keranjang sampah,a�? katanya.

Hingga saat ini, pihaknya belum melakukan validasi secara lebih akurat. Tetapi diperkirakan jumlah perusahaan yang masuk zona merah sekitar 200, zona kuning 500 dan hijau sekitar 300 perusahaan. a�?Angka ini adalah akumulasi dari data-data sebelumnya,a�? ujar Didi.

Terhadap perusahaan dalam negeri atau PMDN, saat ini BKPMPT sedang membuat berita acara pemeriksaan (BAP) terhadap 65 perusahaan yang dalam proses pencabutan. Sementara untuk perusahaan asing sebanyak 139 perusahaan sudah dicabut izinnya oleh pemerintah pusat tahun 2015. Dalam hal ini, Pemprov hanya memberikan rekomendasi bahwa perusahaan tersebut tidak ada aktivitas penanaman modalnya.

Menurutnya, perusahaan yang dimasukkan ke dalam zona merah karena mereka hanya memiliki izin prinsip, tetapi tidak memiliki aktivitas penanaman modal sama sekali. Tidak diketahui alamatnya dan tidak ada aktivitas usahanya. Pihaknya melakukan pengawasan dengan melibatkan kepala dusun dan lingkungan. Bahkan surat sudah dikirim tetapi tidak ada balasan. Sebagian besar perusahaan ini bergerak di bidang pariwisata, pertambangan, perkebunan, perikanan dan kelautan, serta sektor lainnya.

Para perusahaan ini kadang menggunakan konsultan yang mereka tunjuk sendiri, sementara koordinasi dengan pemerintah sangat kurang. Sehingga BKPMPT juga membuat sosialisasi penanaman modal. Untuk pengawasan sudah dibentuk tim teknis, sementara bagi perusahaan yang mengalami kendala teknis tim akan membantu agar investasi lancar.

Tidak beroperasinya perusahaan-perusahaan tersebut tentu akan merugikan daerah. Sebab dengan izin prinsip yang mereka miliki membuat investor lain yang lebih serius tidak berani menanamkan modalnya. Dalam hal ini, jelas daerah dirugikan, lahan dibiarkan menganggur tanpa kejelasan. Sehingga kini batas waktu berlaku izin prinsip adalah tiga tahun. Jika dalam waktu itu mereka tidak beraktivitas maka dianggap mengabaikan kewajiban.

a�?Andaikata ada investor lain yang mau di situ kan jadi tumpang tindih karena lahan yang non CMC,a�? ujarnya.

Investor tidak akan mau berinvestasi di lahan yang belum clear and clean (CMC). Sehingga dalam hal ini BPN bisa berperan melakukan klasifikasi. Dengan demikian tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk tidak merealisasikan modalnya. Jika proses penyelesaian di daerah tidak selesai, maka tim akan membawa permasalahan ini ke pusat. Seperti kasus Balai Seafood International di Empang Sumbawa, BKPMPT sudah memfasilitasi agar persoalan lahan dan kendala listrik bisa diselesaikan. (ili/r7)

Berita Lainnya

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Pol PP Mengeluh Lagi

Redaksi LombokPost

Evi: Kasihan Pak Sudenom

Redaksi LombokPost

Yang Lolos TKD Jangan Senang Dulu!

Redaksi LombokPost

Sekolah Sesak, ABK Terdesak

Redaksi LombokPost

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost