Lombok Post
Metropolis

Masalahnya kok Itu-Itu Saja?

MASIH KURANG: Tanggul sementara dari tumpukan karung berisi pasir yang dipasnag di Penghulu Agung, kemarin(28/12).

MATARAM – Banjir rob yang kembali mengintai masyarakat pesisir Kota Mataram mengingatkan kita pada kejadian serupa tahun sebelumnya. Bahkan jika merujuk tahun-tahun terdahulu, kejadian serupa seolah menjadi hal wajib yang rutin menghampiri.

“Tiap tahun memang itu-itu saja,a�? kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Dedy Supriady, kemarin(28/12).

Dia mengatakan, gelombang tinggi yang membuat abrasi, lantas sebagian rumah warga di pesisir terrendam, ada pula yang tersapu gelombang, kemudian nelayan tak bisa melaut, dan mengharap bantuan adalah pola serupa yang terus terulang.

Lantas mengapa untuk kejadian yang terus terulang itu Pemkot Mataram seolah tak memiliki solusi kongkrit. “Itu dia yang mau coba kami analisa dulu,a�? jawab pria yang baru beberapa bulan menjabat itu.

Menurutnya, energi yang terlalu besar terus terkuras untuk hal yang sama. Kendati kini belum memiliki solusi, ia berharap dalam waktu dekat penanganan terbaik bisa dilakukan.

Dengan panjang pantai yang hanya 9,2 kilometer saja, membentang di dua Kecamatan, Ampenan dan Sekarbela yang masuk dalam tujuh kelurahan, seharusnya tak sulit mengatasi hal itu. a�?Masyarakat juga kasihan, menderitanya begitu-begitu saja setiap tahun,a�? sambungnya.

Sembari menanti pola penanganan yang paling tepat, ia dan timnya kini hanya bisa bekerja sesuai kebiasaan terdahulu. Salah satunya adalah pembuatan tanggul sementara dari karung pasir.

Hingga kini sudah 1.000 lebih karung pasir yang dipakai sebagai tanggul. Nyatanya jumlah itu masih kurang, sehingga perlu penambahan lagi. a�?Tadi malam (kemarin, Red) yang di Penghulu Agung itu tanggulnya bisa dilewati ombak,a�? katanya.

Sedikitnya 15 petugas kini disiagakan di pesisir pantai. Mereka adalah bagian dari 51 tim reaksi cepat yang dimiliki BPBD Kota Mataram.

Kendati jumlahnya sangat tak mencukupi, namun apa yang ada, lanjut Dedy, harus dimaksimalkan. a�?Ya beginilah keadaan kami, serba terbatas tenaga dan anggaran,a�? akunya.

Terpisah, Kadis PU Kota Mataram Mahmuddin Tura mengatakan khusus masalah banjir rob di Bintaro Jaya, Ampenan, kolam penampungan menjadi solusi terbaik yang harus disegerakan. Dengan adanya kolam penampungan di sana, air yang biasa menggenangi pemukiman warga dapat diarahkan ke sana, selanjutnya dipompa ke laut. a�?Untuk di lingkungan ini, itu solusinya,a�? jelas Tura.

Dipadukan dengan rencana relokasi 200 rumah di pesisir pantai tersebut, ia meyakini tak akan ada lagi cerita nelayan yang kelimpungan karena rumahnya terkena banjir rob atau tersapu hantaman gelombang.

“Untuk yang rumah ini, paling cepat butuh dua tahun sampai fisik dimulai,a�? pungkasnya. (yuk/r5)

Berita Lainnya

Petugas Kaget, Surat Suara Capres Kosong

Redaksi Lombok Post

Berhenti Saling Bully! Yang Menang Jangan Sombong

Redaksi Lombok Post

Pemilu di NTB Aman tapi Belepotan

Redaksi Lombok Post

Jangan Buang Sampah di Sungai Lagi!

Redaksi LombokPost

Cerita Indah Suprabawati Kusumanegara ketika Menjadi Duta LIA

Redaksi LombokPost

Ditinggal Memancing, Rumah Ludes Terbakar

Redaksi LombokPost

Irpan Gantikan Putu Joni Pimpin IKADIN Kota Mataram

Redaksi LombokPost

115 TPS Dapat Perhatian Serius, Polres Mataram Terjunkan 1.500 Personel

Redaksi LombokPost

Asap Kembali Serbu Ibu Kota, Pembakaran Jerami Masih Marak

Redaksi LombokPost