Lombok Post
Perspektif

Musibah

DI kampung kami, musibah, kabar duka kematian disiarkan melalui pengeras suara masjid. Nama, asal, waktu dan tempat pemakaman menjadi kabar utama yang disiarkan. Tidak lebih dari 5 menit, dan setiap masjid mengumumkan hal yang sama, sebagai mayoritas muslim kabar duka selalu diawali dengan mengucap kalimat a�?innalillahiwainnailaihirojiuna�?.

erabat, sahabat, tetangga dan orang-orang di kampung kami akan datang melayat atau belangar. Membawa sembako seperti beras, gula, kelapa, ada pula yang membawa uang secukupnya. Semua itu disebut Pelangar. Pelangar yang terkumpul, selanjutnya dikelola oleh pihak keluarga atau ahli waris untuk menyelesaikan proses roah, yasinan, zikir di rumah duka. Biasanya dilakukan berturut-turut sampai 9 hari pasca-almarhum dikebumikan.

Kadang, bila ada, Pelangar tersebut juga dipergunakan untuk menyelesaikan sangkutan atau hutang almarhum yang seluruhnya merupakan tanggung jawab ahli waris. Bilamana almarhum semasa hidupnya belum sempat memberi tahu tentang sangkutan/hutang piutang kepada ahli warisnya, biasanya sesaat setelah acara pemakaman, akan diimbau kepada para pelayat untuk menghubungi mereka dan diselesaikan secara kekeluargaan.

Tradisi ini turun temurun berlangsung, sejak sebelum tempat Ibadah di kampung kami belum memiliki pengeras suara, sampai saat tekhnologi memudahkan untuk menghubungi kerabat yang jauh di seberang pulau melalui telpon, SMS atau kini berkabar melalui jejaring media sosial.

Kabar duka, salah satunya menjadi perekat jiwa sosial antar setiap individu, kelompok dan tak hanya di kampung kami. Bahkan di semua tempat. Perkembangan tekhnologi menjadi media, alat yang mempercepat kabar itu sampai pada kita.

Melalui media pula, pada tangga 21 Desember, bencana banjir bandang di Kota Bima cepat kita terima. Sebelum banjir susulan yang terjadi pada tanggal 23, pun sudah tersiar kabar untuk antisipasi terjadinya banjir susulan. Menerjang 35 desa dan kelurahan. Luar biasanya bencana tersebut tak sampai menelan korban jiwa. Konon musibah bencana banjir di Bima adalah yang terparah sejak 60 tahun terakhir.

Gambar, video rekaman tersebar cepat di media sosial. Berkorban kuota internet kita menginformasikan perkembangan lapangan, sekaligus berusaha mengetuk setiap relung jiwa atas apa yang terjadi di Bima. Posko peduli banjir muncul di mana-mana. Aktivitas penggalangan dana untuk korban banjir, para relawan, rekening donasi, menyebar cepat. Makanan, pakaian layak pakai, obat-obatan, air bersih, pembalut, uang, dan semua bentuk barang dan sumbangan tenaga dikonsentrasikan untuk membantu para korban.

Surat kabar menginformasikan dampak kerugian material akibat banjir tersebut. Sementara ini masih diperkirakan mencapai angka lebih dari Rp 1 triliun. Kehilangan tempat tinggal, kerusakan fasilitas publik seperti sarana prasana sekolah, kesehatan, kantor pemerintah.

Musibah, bencana alam yang mengajarkan pada kita untuk bercermin pada diri tentang betapa alam bekerja cukup adil pada apa yang diperbuat manusia. Apa yang terjadi, apa yang berubah setelah puluhan tahun bencana banjir bandang kini terjadi lagi?

Kita berkaca darinya tentang apa yang kita sudah ambil dari sekian banyak yang disediakan alam, sampai kita lupa menjaganya. Perambahan hutan untuk dialihfungsi menjadi ladang dan pemukiman. Perburuan satwa, seolah-olah hanya manusia yang berhak untuk mendiami setiap tempat dan mencari makan, sementara mahluk lain hanya menumpang.

Tentu tak semua orang melakukannya. Kita cukup menyebut mereka sebagai oknum, kaki tangan dari otak yang entah siapa pemodalnya. Atau istilahkan saja dia yang tak boleh disebut namanya, sementara penerima dampak rusaknya kini terpapar di depan mata. Cukuplah ini menjadi pengalaman. Ujian. Mau atau tidaknya kita memperbaiki adalah perkara kemudian.

Orang bijak berkata pengalaman adalah guru terbaik yang pernah ada. Namun, bagi saya yang tak bijak, pengalaman adalah guru yang buruk, kadang mengajarkan dengan sakit, kejam dan datangnya selalu terlambat, tanpa kurikulum yang pasti. Namun, darinya kita toh belajar tentang segala hal serta, berbenah, memperbaiki sikap, cara dengan cepat. Sebab, jika tidak kita pun harus sedia menerima hukuman atas kelalaian. Bentuknya berupa musibah.

Tapi bukan orang Indonesia namanya, jika dalam setiap musibah selalu ada sisi pengambilan hikmah. Di kampung kita, di lokasi-lokasi bencana, kerugian material, kehilangan harta, terpisah dari keluarga, sanak saudara, sahabat, teman, oleh sebab bencana alam ataupun kematian oleh sebab sakit, kecelakaan atau yang lain yang kita katakan sebagai terjadinya musibah.

Ia menjelma sesuatu yang mengetuk, menggempur, menggerakkan sisi kesadaran sosial terhadap sesama, terhadap lingkungan sekitar. Mempersatukan energi setiap orang untuk bergerak membantu sesama, bersolidaritas. Dengan kata lain, musibah menggugah sisi kemanusiaan setiap orang. Kita tidak menghadapinya sendirian. (r8)

Berita Lainnya

Hari Kartini dan Wajah Pribumi

Redaksi Lombok Post

Ragam Seragam

Redaksi Lombok post

Job, Non Job and Jobs

Redaksi Lombok post

2017

Redaksi Lombok post

Mengulang Tahun

Redaksi Lombok post

Seratus Tahun Nyala Tungku

Redaksi Lombok post

Kopia�� Ah

Redaksi Lombok post

Mengerjakan Rencana

Redaksi Lombok post

Between

Redaksi Lombok post