Lombok Post
Pendidikan

Gubernur Perak Sambangi Ponpes GMC

BAHAS PENDIDIKAN: Rektor Universitas Mataram (Unram) Prof H Sunarpi (lima dari kiri/pakai sarung) foto bersama Gubernur Negeri Perak Malaysia bersama rombongan di pondok pesantren (Ponpes) Generasi Muslim Cendekia (GMC) Puyung Kabupaten Lombok Tengah Selasa (27/12) lalu.

MATARAM a�� Gubernur Negeri Perak Malaysia Datuk Sri Di Raja Dr Zamri Bin Abdul Kadir mengunjungi pondok pesantren (ponpes) Generasi Muslim Cendekia (GMC) Puyung, Kabupaten Lombok Tengah, Selasa (27/12). Kunjungan ini membahas mengenai situasi dan kondisi pendidikan pesantren di NTB dan Malaysia. Dalam diskusi tersebut pimpinan Ponpes GMC Prof Sunarpi menjelaskan latar belakang dan tujuan pendirian ponpes.

a�?Ponpes ini berdiri 2014 lalu. GMC lahir terinspirasi oleh ICMI, dan kondisi keterpurukan umat Islam dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,a�? katanya.

Sunarpi mengungkapkan, Islam pernah berjaya dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi selama 800 tahun sejak zaman Rasulullah sampai dengan abad ke 14. Puncaknya zaman Khalifah Harun Arrasyid di Baghdad. Pada saat itu, umat Islam telah memiliki Baitul Hikmah, pusat ilmu pengetahuan terkemuka di dunia dengan koleksi buku ilmu pengetahuan terbanyak di dunia.

a�?Waktu itu ilmu pengetahuan dan teknologi masih gelap gulita di bumi Eropa dan Amerika Serikat,a�? kata pria yang juga menjabat Ketua ICMI NTB ini.

Kunci kesuksesan itu, kata dia, karena ulama mengkaji kitab agama, mempelajari alam semesta dalam rangka mencari wujud Allah. Dalam rangka penguatan ketauhidan (aqidah). Itulah sebabnya para ulama yang memiliki aqidah sangat kuat. Ulama sebagai ilmuan yang menguasai tentang alam raya.

a�?Ulama dahulu sebenarnya sudah mengenalkan dan memperaktikkan pembelajaran terintegrasi antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan alam sebagai satuan pembelajaran terintegrasi,a�? ucapnya.

Lebih jauh, setelah masa kejayaan itu ulama terpuruk dikotomi pemikiran yang mengkotakkan pendidikan agama dan pendidikan umum (sains). Termasuk merambah ke Indonesia. Dimana pendidikan agama diurus oleh Kementerian Agama, dan pendidikan umumA� diurus Kemendikbud. Dan perguruan tinggi (PT) diurus Kemeristekdikti.

a�?Kondisi ini diperpuruk lagi pandangan emosional, bahwa yang wajib dipelajari hanya ilmu agama. Dan ilmu (sains) tidak wajib dipelajari,a�? tambahnya.

Pandangan itulah yang didiskusikan Sunarpi dengan Gubernur Negeri Perak yang kebetulan memiliki pandangan yang sama. Sunarpi menceritakan tujuannya mendirikan GMC, yang diawalinya dengan pembangunan masjid dan sudah rampung yang namanya diambil dari nama Sang Ayah HM Saupi (Assyaufi) dan dijadikan laboratorium agama bagi para santri GMC. Setelah itu, dibangunlah ruang klas, laboratorium IPA, laboratorium IT, perpustakaan, dan tiga lantai asrama. Pendidikan yang sudah ada di GMC saat ini ada TK IT, SD IT, SMP IT.

a�?Insya Allah 2017 akan dibuka SMK IT,a�? ucap dia.

Sementara itu Gubernur Negeri Perak Malaysia Datuk Sri Di Raja Dr Zamri Bin Abdul Kadir mengatakan, A�pada umumnya juga sudah mulai digagas pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan umum dan agama, baik pada level pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi.

a�?Khusus untuk tingkat Perguruan Tinggi (PT), sudah ada yang konsentrasi mengintegrasikan pendidikan umum dan agama, seperti Universitas Sains Malaysia,a�? katanya.(jay/r9)

Berita Lainnya

Kasek Harus Memiliki Sertifikat Cakep Nasional

Redaksi LombokPost

500 Mahasiswa UNW Ikuti PERTAMA

Redaksi LombokPost

Jurusan Pertanian SMKN 7 Mataram Kurang Diminati

Redaksi LombokPost

KBM di Kota Mataram Mulai Normal

Redaksi LombokPost

Bantuan Kemendikbud Untuk Guru PNS Rp 1,5 Juta, Honor Rp 2 Juta

Redaksi Lombok Post

Bhayangkari Percantik Taman Baca di Pesisir Pantai

Redaksi LombokPost

Sintya, Siswi MAN 1 Mataram Juara Ajang KSM Bidang Fisika

Redaksi LombokPost

SMAN 10 Mataram Kekurangan Siswa

Redaksi LombokPost

Dua Siswa Lotim Masuk Tim Paskibraka Nasional

Redaksi LombokPost