Lombok Post
Kriminal

Pembunuh Masal Itu Bernama Jalan Raya

Pertumbuhan kendaraan yang terus meningkat setiap tahunnya, rupanya tidak diimbangi dengan kesadaran berkendara. Alhasil setiap tahun jalan raya NTB meminta banyak nyawa. Hingga pekan keempat Desember 2016 ini polisi mencatat 488 warga tewas karena kecelakaan lalu lintas.

***

SAAT berada di jalan, meski telah berhati-hati, akan sangat sulit menghindar dari kecelakaan. Apalagi jika menemui pengendara yang tidak memikirkan keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Ini dibuktikan dari meningkatnya jumlah kecelakaan sepanjang tahun ini di NTB. Berdasarkan catatan Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda NTB, terjadi 1680 kasus kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Jumlah itu meningkat dibanding tahun lalu, yang hanya 1631 kasus.

Dari 1680 laka lantas, korban meninggal dunia mencapai 488 orang. Jika di rata-rata, setiap harinya lebih dari satu orang tewas di jalan raya, akibat kecelakaan.

a�?Tapi dibandingkan tahun lalu, terjadi penurunan laka lantas dengan korban meninggal dunia,a�? kata Dirlantas Polda NTB Kombes Pol Budi Indra Gunawan.

Selain korban meninggal dunia, kecelakaan juga mengakibatkan korban luka berat dan luka ringan. Tahun terdapat 318 orang yang menderita luka berat, turun 33 persen dibanding tahun lalu. Peningkatan justru terjadi untuk korban luka ringan, yaitu sebanyak 1865 orang atau naik sebanyak 17 orang.

Laka lantas tidak saja mengakibatkan kerugian fisik, seperti luka ringan hingga meninggal dunia. Kerugian materiil juga ditimbulkan usai terjadi laka lantas.

Sepanjang tahun ini, 1680 kasus laka lantas mengakibatkan kerugian materiil lebih dari Rp 4,2 miliar. Jumlah itu meningkat 30 persen, dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar Rp 3,2 miliar.

Menurut Budi, kematian akibat pelanggaran lalu lintas, di wilayah hukum Polda NTB memang sangat mengkhawatirkan. Persoalan banyaknya korban meninggal dunia akibat kecelakaan, didahului dengan pelanggaran lalu lintas. Banyak pengendara mengabaikan keselamatan berkendara. Akibatnya bisa ditebak, tidak saja membuat celaka diri sendiri, orang lain juga A�terkena imbasnya.

a�?Masyarakat banyak yang tidak sadar, pelanggaran lalu lintas yang dilakukan, dapat membahayakan orang lain juga,a�? ucap dia.

Budi melanjutkan, berbagai upaya telah dilakukan jajarannya. Salah satunya dengan menggelar razia operasi zebra beberapa waktu lalu.

Ketika ada razia, kesadaran berlalu lintas masyarakat mulai meningkat. Ini terlihat dari penurunan jumlah tilang mencapai 25 persen persen. Dari angka 107.957 pada tahun lalu, menurun ke angka 81.339 di tahun ini.

Meski menurun, Dirlantas mengakui terdapat pelanggaran kecil yang kerap dilakukan masyarakat. Antara lain, melawan arus sampai mengoperasikan telepon genggam (HP) ketika berkendara.

Lonjakan kedua pelanggaran tersebut, terbilang signifikan. Misalnya, menggunakan HP ketika berkendara, di 2015 polisi hanya menegur 17 pengendara. Namun di tahun ini, terdapat 109 pengendara.

Sedangkan pelanggaran melawan arus, dari tiga pengendara tahun lalu, naik hingga 70 pengendara tahun ini. Biasanya, pelanggaran ini dilakukan pengendara untuk menghindari razia atau memotong jalur.

a�?Kalau untuk kesadaran memakai helm, itu meningkat. Tapi pelanggaran lain, seperti pengoperasian handphone dan lawan arus meningkat,a�? kata Budi.

Menurut Budi, memainkan HP ketika berkendara sering dianggap remeh.Padahal kegiatan ini tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga orang lain. Selain itu, lanjut Budi, atensi kepolisian adalah pelajar atau mahasiswa yang masih mendominasi sebagai pelaku pelanggaran.

Lebih lanjut, jika dirunut penyebab kecelakan, terdapat dua faktor yang mempengaruhinya. Pertama dari pemakai jalan, kedua berasal dari pemangku kepentingan.

Jika menilik dari pemakai jalan, masih banyak pengendara yang tidak tertib dalam berkendara. Lebih parahnya, mereka takut melanggar jika ada petugas.

a�?Tertib berlalu lintas itu demi keselamatan masing-masing, bukan saat ada petugas saja,a�? kata dia.

Sedangkan dari sisi pemangku kepentingan, banyak sarana dan prasarana yang belum mendukung. Jalan yang rusak, rambu-rambu yang tak memadai hingga pengawasan kelaikan kendaraan yang minim. Hal ini menjadi salah satu pemicu terjadinya laka lantas.

Karena itu, menyikapi tingginya angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas, Budi menegaskan akan meningkatkan upaya penegakan hukum. Pihaknya akan menindak tegas, setiap pelanggaran lalu lintas yang terjadi.

a�?Ini untuk menekan jumlah meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas,a�? tegas dia.

Bagaimana dengan pengendara, seperti pelajar yang belum memenuhi syarat berkendara? Mengenai itu, Budi mengatakan akan melakukan hal serupa. Pihaknya akan tetap menindak setiap pelajar yang mengendarai kendaraan, namun belum cukup umur.

Selama ini, lanjut Budi, polisi telah banyak melakukan imbauan. Meminta pelajar yang belum memenuhi syarat berkendara, untuk tidak membawa kendaraan.

Khusus di Kota Mataram, Budi mengatakan telah tersedia fasilitas bus rapid transit (BRT). Diharapkan orang tua dan pihak sekolah bisa mendorong anak didiknya untuk memilih transportasi umum, dibandingkan membawa kendaraan sendiri.

a�?Sudah capek kita imbau, jadi akan kita tindak terus. Lama-lama nanti mereka akan naik BRT juga,a�? pungkasnya. (wahidi akbar sirinawa/r2)

Berita Lainnya

Buron Pembegalan Wisatawan Tertangkap di Sekotong

Redaksi LombokPost

Lagi, Pelajar di Lombok Tengah Terseret Kasus Narkoba

Redaksi LombokPost

Ombudsman RI Pantau Kasus Buku Kemenag

Redaksi LombokPost

Dana Rehabilitasi Sekolah Melonjak Rp 1,2 Miliar

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Gubernur Yakin Kemampuan Brimob

Redaksi LombokPost

Polda Kantongi Data Baru Kasus Pengadaan Buku Madrasah

Redaksi LombokPost

Berkas Banding Merger BPR Dilimpahkan

Redaksi LombokPost

Utamakan Langkah Preventif

Redaksi LombokPost