Lombok Post
Headline Metropolis

Karena Cinta, Anggap Tari Separuh Jiwa

MEMUKAU: Irma Septiana (baju putih) saat menampilkan Tari Bangruk di Taman Budaya, Sabtu (31/12).Wahyu/Lombok Post

Tak banyak koreografer asli tanah Lombok. Namun kini, ada Irma Septiana. Baru berusia 20 tahun, dia telah menciptakan berbagai kreasi tari.

***

GEMURUH tepuk tangan langsung membahana di salah satu sudut arena pertunjukan di Taman Budaya Sabtu malam (31/12) lalu. Puluhan pasang mata yang sedari tadi menunggu tampak antusias. Sejumlah pengendara yang tak niat menyaksikan pertunjukan juga menyempatkan berhenti sejenak. Beberapa orang yang asyik makan di pinggir jalan juga tak mau ketinggalan.

Semua seolah tersihir oleh sesosok wanita muda berparas ayu dengan bodi aduhai yang begitu memukau kala itu. Meliuk-liuk mengikuti alunan musik. Dialah Irma Septiana, tampak layaknya penari profesional.

Tari Kebangruan yang ditampilkan tampak sangat dihayati. Tak ada tampang canggung, malu, apa lagi grogi. Seluruh penonton benar-benar dimanjakan.

a�?Luar biasa,a�? kata Fahmi, seorang pengunjung yang tak berkedip sedikitpun.

Usai pertunjukan, gadis kelahiran 21 September 1996 itu mengatakan, tari sudah menjadi bagian hidupnya. Karena cinta, ia menari.

a�?Seperti orang jatuh cinta, saya sedang kasmaran sama tari,a�? ujarnya lantas tersenyum.

Namun Irma bukan penari biasa. Gadis manis yang kini kuliah di Universitas NU Mataram itu, juga seorang koreografer tari. Ya, dia juga pengarah dan pencipta. Usianya yang masih belia tak membatasinya. Kini sudah dua tari yang diciptakan perempuan asli Langko, Lingsar itu. Yang pertama tari mengenai gadis desa, satu lagi bernama Tari Kemek, yang terinspirasi dari orang yang sedang mencuci beras.

Kini, dia rutin mentas di berbagai lokasi di Lombok. Membawakan tari kreasi orang lain atau tari kreasi sendiri. Keduanya dipentaskan dengan penuh penjiwaan dan sama baiknya. Mahasiswi semester tiga itu juga terus belajar. Selain dari senior di kampus, atau perkumpulan tari di Mataram, ia juga beberapa kali menimba ilmu langsung ke luar daerah. Surakarta dan Semarang adalah beberapa tempat yang pernah didatangi untuk mentas sekaligus menimba ilmu.

Baginya, jika cinta sudah menjadi separuh jiwa, tak ada kata lelah untuk berkarya. Kini, ia sudah menetapkan sejumlah target. Yang pertama, terus memperdalam kemampuannya dalam menari. Selanjutnya, ia ingin menciptakan sebanyak-banyaknya tari kreasi lain. Dan yang tak kalah penting, ia juga ingin mengajarkan tari pada pemuda-pemuda Sasak Lombok.

a�?Impian saya melihat tari menyebar luas di tengah masyarakat,a�? tutupnya. (WAHYU PRIHADI, Mataram./r3)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost