Lombok Post
Feature

Sempat Dikira Kena Sembungkem, Eh Ternyata…

SKENARIO APIK: Limbad keluar dari kotak yang dibakar sesaat setelah petugas kebakaran memadamkan apinya di Lapangan Pacuan Kuda, Praya, Lombok Tengah, Sabtu (31/1). Limbad melakukan sejumlah atraksi dalam menyambut tahun baru 2017, meskipun tidak berjalan mulus. Ivan/Lombok Post
SKENARIO APIK: Limbad keluar dari kotak yang dibakar sesaat setelah petugas kebakaran memadamkan apinya di Lapangan Pacuan Kuda, Praya, Lombok Tengah, Sabtu (31/1). Limbad melakukan sejumlah atraksi dalam menyambut tahun baru 2017, meskipun tidak berjalan mulus. Ivan/Lombok Post

Master Limbad sang magician fakir, benar-benar membuat ribuan bahkan mungkin jutaan penonton melalui televisi, menarik nafas sesak. Mengelus jantung berdetak kencang! Tapi ada apa sebenarnya di balik aksi bertaruh nyawa jelang perayaan tahun baru 2017 di Lombok Tengah, Sabtu malam lalu? Berikut laporannya.

***

LIMBAD oh Limbad! Jantung warga Lombok Tengah dibuat berdebar perih. Was-was, penasaran, iba hingga betapa magician fakir itu sangat heroik. Hanya untuk menghibur warga, ia nekat melakukan tiga aksi gila.

Sekitar pukul delapan pagi, pria berjenggot nyentrik itu muncul dengan jubah dan pakaian kelamnya. Ia ibarat makhluk dari kegelapan. Muncul tanpa ba-bi-bu.A� Hingga membuat beberapa anak kecil menyembunyikan wajah di dalam dekapan orang tuanya.

a�?Oh, iyaa�� ruen aslin Limbad? (Oh ini rupa asli Limbad),a�? cetus seorang remaja dengan bahasa Sasak khas Lombok Tengah.

Tangannya sampai bergetar kelelahan. Memegang ponsel dengan mode record. Ia lalu berbicang dengan rekan di sampingnya. Seorang wanita. Logat mereka khas kental, paer lauq (daerah selatan).

Ia beberapa kali menganga. Aksi Limbad meski baru hanya tepuk-tepuk tangan dan komat-kamit, cukup membuat remaja tanggung itu terpukau. a�?Wah kesombong tau iyaa�� (Wah sombong sekali orang itu),a�? cetus pria paruh baya yang lain.

Entahlah. Mungkin dia tidak mengerti apa itu passion yang dijadikan market oleh pesulap yang sebenarnya identik dengan burung hantu itu. Tapi itu dulu. Beberapa waktu terakhir burung hantu tak pernah dibawa Limbad di pundaknya. Barangkali sudah mati! Toh kalaupun ada, percuma! Limbad anti bicara.

Semua wajah seperti tertarik ke tiang besi yang dibuat sedemikian rupa. Beberapa saat kemudian, tubuh Limbad di kerek perlahan. Semakin tinggi, tetapi kemudian, pria berambut gimbal dengan brewok dan kumis tebal itu minta diturunkan lagi. Ada apa?

a�?Habisnya dia sombong, mungkin ada yang a�?cobaa�� ilmunya,a�? ketus warga lain. Ia tampak senang melihat Limbad gagal.

Setelah sedikit ritual lagi dan entah apa isi percakapan dengan asistennya, Limbad kembali dikerek naik. Warga untuk kesekian kali melongo melihat limbad yang tergantung menggunakan rambutnya.

a�?Apa gak sakit ya?a�? celetuk seorang penonton. Ia terlihat meringis membanyangkan rasa sakit yang tengah didera pria yang terkenal sejak mengikuti sebuah acara pencarian bakat di salah satu stasiun televisi itu.

Satu menit berlalu, dua menit berlalu. Tak sampai satu jam, Limbad minta diturunkan. Ia tampak kelelahan di bawah teriknya matahari lapangan pacuan kuda Praya. Sempat sempoyongan, Limbad memutuskan menghentikan acara off air itu.

a�?Loh katanya aksi 17 jam?a�? cetus Dinah. Remaja asal Dusun Batu Rintang, Praya Timur, pada Koran ini. Kami memang berbincang banyak hal, soal aksi magician dengan aksi-aksi debus itu.

a�?Pasti ada yang a�?cobaa�� (mengganggu dengan ilmu hitam) Limbad. Lihat manusianya saja terlihat sombong,a�? sambung pria tadi tampak bangga.

Barangkali ia berfikir, kesalnya terbalaskan!

Benar saja. Limbad tak meneruskan aksinya. Ia lalu menuju sebuah truk tronton dengan kaki kiri terpincang-pincang. Wajahnya tegang. Tak berselang lama, tubuhnya sudah terikat rantai. Pria berusia 44 tahun itu membuat kuda-kuda. Siap menarik truk tronton. Tapi, tunggu ada yang aneh. Rantai itu? Ah!

Praaak!!

Belum terjawab tubuh Limbad terpental ke depan. Kaki kiri yang disebutnya memang sudah sakit, dijadikan tumpuan. Kru dan tim panik. Warga ikut berteriak histeris. Ada yang kaget, bingung, tapi ada yang bersorak puas!

a�?Tabah gati laseng Limbad atraksi lek Lombok Tengaq. Bakat siq sembungkem tie! (berani sekali limbad atraksi di Lombok Tengah. Dia kena penangkal itu!a�? kata Rezal Yasin, warga lainnya.

Ia terlihat bangga. Pertunjukan tadi baginya tak lebih dari adu kekuatan antara ilmu Limbad dengan ilmu beberapa ahli ilmu kebatinan di Lombok Tengah. Ia pun ikut bersorak riuh.

Rizal salah satu diantara ratusan orang yang memfoto lalu membagikan aksi Limbad yang dinilai gagal total. Secepat kilat, berita tentang Limbad yang gagal beraksi, menyebar di dunia maya. Menarik perhatian ribuan bahkan jutaan pengguna internet!

Sementara, Limbad dilarikan ke RSUD Praya. Di sana pria asal Tegal Jawa Tengah itu harus mendapat perawatan intensif. Warga ada yang bangga. Ada yang kasihan. Lalu mencela orang yang a�?mengusilinyaa��.

Penasaran, Koran ini lalu menghampiri seorang kru televisi. Dari sana terungkap fakta Limbad ternyata sebelum memulai aksinya tadi tidak sarapan. Entah untuk tujuan apa. Tetapi, bagi orang yang belum sarapan, ekspresi lelah, sakit, letih akan jauh lebih mudah dimainkan. Sehingga para penonton yakin, ia benar-benar keletihan.

a�?Dia orangnya memang gitu. Suka bandel, disuruh sarapan kagak mau!a�? jawab kru itu dengan logat Betawi kental.

***

Malam turun di Kota Praya. Warga sudah membanjiri Lapangan Pacuan Kuda. Tapi penonton kembali dibuat heboh. Histeris! Ada pula yang nyinyir. Mulanya sekitar pukul sembilan malam, Limbad dijadwalkan melakukan aksi bakar diri.

Tetapi, belum apa-apa Limbad kembali sempoyongan. Lalu pingsan. Ambulans pun kembali meraung. Memecah kerumunan warga. Melarikan Master Limbad ke RSUD kembali. a�?Kalau limbad berani beraksi lagi, benar-benar terbakar dia!a�? cetus seorang pria.

Ia sudah sangat yakin, aksi Limbad yang tidak sempurna dari awal ditambah berulang kali pingsan adalah bukti nyata ada yang a�?mengusilia�� magician fakir itu dengan ilmu hitam. Maka bak secepat kilat, desas-desus itu kembali menghangat. Hingga info sumir sang master peraih juara dua dalam ajang pencarian bakat itu, gagal beraksi sampai juga ke Koran ini. a�?Iya katanya nggak jadi. Limbad tidak kuat,a�? ujarnya.

Secepat kilat juga info ini beredar. Dari mulut ke mulut. Dengan ragam bumbu-bumbu dan ragam rasa. Limbad benar-benar berhasil membuat ribuan penonton yang tumpah ruah, resah. Gelisah. Gundah gulana. Pokoknya selalu ada rasa ingin tahu: Akankah Limbad melanjutkan aksinya?

Rasa itu mampu membuat ribuan penonton enggan beranjak dari lingkar panggung utama. Bahkan, semakin penuh. Kabar tak jelas soal Limbad berhasil mengikat perasaan orang-orang secara imajiner untuk tidak pergi dari panggung utama.

Di sela-sela ketidak pastian informasi itu, Koran ini lalu menyempatkan diri mendekati properti tempat Limbad beraksi. Tempat itu terbagi menjadi dua bagian. Dipisah oleh kain hitam setinggi empat meter. Di bagian belakang panggung, ada sebuah bilik kecil. Isinya sebuah kursi.

Menggunakan senter, bagian di bawah kain yang memisahkan antara panggung utama dengan bilik di belakang pannggung, ada sebuah rongga. Jika rongga itu digunakan untuk menyelinap, maka orang dewasa pun bisa dengan mudah melalui rongga itu.

Sementara, uniknya antara rongga dengan bok yang akan digunakan sebagai wadah membakar Master Limbad seperti terhubung. Jika di sana dibuatkan pintu, antara rongga belakang dengan bok yang posisinya agak meninggi, maka mudah bagi Limbad, menyelinap. Masuk melalui kotak, tetapi sebenarnya di saat kayu ditimbun ke tubuhnya ia bisa leluasa berpindah ke belakang panggung melalui lorong tadi.

Kemudian, selama pembakaran ia bisa duduk tenang tanpa kepanasan di belakang kain penghalang. Sayang, belum sempat dichek, seorang petugas melarang. a�?Jangan ke situ pak!a�? ujarnya setengah menghardik.

Setelah mengulur waktu, dengan cerita-cerita dramatis soal keadaan Master Limbad. Baik dari tim Limbad yakni Niko dan seorang dokter, aksi yang membuat banyak orang penasaran itu dimulai. Jelang waktu pergantian tahun menyisakan beberapa puluh menit lagi. Dengan dipapah dua rekannya lalu komat kamit dan melakukan gerakan-gerakan aneh, limbad masuk ke dalam peti tadi.

Tak ada yang boleh mendekat. Hanya kru saja yang boleh ada di sana. Dan pemandangan-pemandangan aneh mulai terlihat. Dimulai dari kotak yang tak kunjung penuh. Padahal seharusnya jika ditambah dengan badan Limbad, ketinggian kayu sudah sampai bibir peti. Lalu tidak ada gerakan apapun menandakan jika peti itu masih terisi makhuk bernyawa.

a�?Saya fikir aksinya akan seperti saat menaburkan beling di badannya waktu di tv-tv itu. Benar-benar terlihat nyata. Ada api menyala lalu ia melempar tubuhnya ke dalam bara, ternyata masuk dalam peti ajaib juga,a�? cetus Novian, seorang penonton yang sudah susah payah terjepit diantara lautan manusia di belakangnya dengan pagar pembatas. Ia tersenyum kecut.

Pada koran ini, pria itu kemudian mulai berlogika. Menurutnya api memang sempat dinyalakan di peti tempat Limbad tadi membaringkan diri. Tetapi kemudian, api itu justru dipadamkan tidak beberapa lama setelah menyala. Justru bok peti di bawahnya yang terus diperbesar apinya. Padahal itu menurutnya terpisah dengan bok tempat Limbad seharusnya terbaring.

a�?Kalau memang Limbad kebal api, ngapain juga itu disemprot. Masak mau didinginkan saja harus 10-15 menit dengan air (dari Pemadam Kebakaran) yang terus mengalir,a�? katanya mencoba menganalisa.

Seoalah-olah api dan bara memang ingin dipastikan benar-benar aman bagi kulit dulu. Sehingga Limbad yang menurutnya tengah bersembunyi di a�?suatu tempata��, bisa dengan aman menerobos dan keluar dari kayu-kayu yang sudah jadi arang dengan suhu air.

a�?Coba lihat itu pas muncul. Aneh ya, kok di badannya compang-camping. Seperti terbakar. Tetapi di bagian alat vital kelaminnya, justru tidak ada lubang sama sekali,a�? kritisnya lalu tertawa lebar.

a�?Orang dalama�� acara yang melihat perbincangan kami ikut tersenyum. Lalu dengan bahasa kode ia berujar sembari berlalu, a�?Keren kan properti bajunya.a�? (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Lombok Tengah/r5)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post