Lombok Post
Feature

Ikhlas Beramal di Tengah Tantangan

sudut pandang

HARI A�pertama kerja (3 Januari) di tahun 2017 ini menjadi istimewa bagi keluarga besar Kementerian Agama (Kemenag). Hari ini seluruh warga Kemenag merayakan ulang tahun ke-71 kementerian dengan motto a�?Ikhlas Beramala�? tersebut. Ulang tahun kali ini lebih tepat dijadikan sebagai momentum untuk merefleksi perjalanan atau pengabdian Kemenag, sekaligus memperkuat eksistensi di tengah tantangan dan dinamika kehidupan umat beragama yang kian kompleks ke depan.

Paling tidak ada dua hal yang dianggap urgen untuk diseriusi oleh Kemenag. Pertama, membangun umat yang inklusif dan toleran, dan kedua, peningkatan pelayanan publik dan membangun citra positif lembaga.

Keragaman agama menjadi salah satu indikator pluralitas Indonesia. Bangsa ini diakui oleh dunia sebagai negara yang mampu memenej kehidupan antarumat beragama. Setidaknya kemampuan tersebut tidak salah karena hingga saat ini tidak ada konflik antaragama yang sampai mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, bukan berarti bahwa ancaman kerukunan tidak ada. Melihat perkembangan kehidupan umat beragama belakangan ini, Kemenag mesti bekerja keras untuk meningkatkan kualitas kerukunan antarumat beragama di tanah air.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi belakangan ini sangat mungkin menggeser wilayah konflik antarumat beragama ke wilayah atau dunia maya. Media sosial menjadi instrument untuk menabuh gendang konflik bernuansa agama tersebut ke media sosial.

Pemanfaatan media sosial yang begitu mudah dan bebas membuat setiap orang dengan enteng menebar kebencian dan olok-mengolok di dalamnya. Penghinaan dan caci maki terhadap satu agama oleh oknum umat agama lainnya telah memicu reaksi yang bermuara pada konflik terbuka di wilayah nyata. Demonstrasi dan saling protes serta saling lapor akhir-akhir ini tidak sedikit dilatari oleh persoalan penebaran kebencian di media sosial.

Fenomena ini menjadi tantangan tersediri bagi Kemenag, terutama dalam melakukan pembinaan terhadap umat beragama untuk berperilaku toleran. Tokoh agama menjadi elemen penting untuk digarap dengan mengusung semangat berdakwah damai dan toleran. Dengan karakter masyarakat Indonesia yang paternalistik sangat efektif bila upaya membangun kehidupan beragama yang toleran lewat pembinaan intensif terhadap tokoh agamanya. Cara ini sekaligus bisa meminimalisir terjadinya konflik yang disebabkan oleh statement atau pernyataan dari tokoh agama.

Lewat lembaga pendidikan yang dibinanya, Kemenag juga dapat mengintervensi pendidikan atau pembangunan generasi atau umat beragama inklusif dan toleran di usia dini. Revolusi mental yang dikampanyekan Presiden Jokowi dapat diterjemahkan oleh Kemenag dengan pendidikan generasi toleran sejak usia dini. Bila kelompok kecil dengan sumber daya terbatas mampu mendidik dan mencuci otak anggotanya untuk berkarakter eksklusif atau membeci kelompok yang lainnya, kenapa Kemenag dengan setumpuk sumberdaya yang dimilikinya tidak bisa melakukan doktrin kebajikan untuk membangun generasi toleran.

Bila Kemenag mampu mengawal lahir dan berkembangnya generasi toleran, maka kementerian ini berkontribusi strategis bagi terciptanya tatanan kehidupan damai di negara pluralis Indonesia. Generasi-generasi toleran diharapkan bisa mewarnai komunikasi yang sejuk dan damai di tanah air. Ketika mereka menjadi tokoh agama, maka mereka akan menjadi penebar kedamaian. Bila mereka aktif di media sosial, maka mereka akan menjadi agen yang berkontribusi bagi terciptanya media sosial yang sehat tanpa pesan kebencian di dalamnya.

Aspek kedua yang perlu diwujudkan Kemenag adalah membangun citra positif institusi dan peningkatan kinerja pelayanan publik. Kemenag diibaratkan sebagai kementerian berwarna putih, sehingga sedikit saja hitamnya langsung terlihat dan menjadi sorotan mayoritas publik. Pemahaman seperti ini menjadi tantangan bagi keluarga besar Kemenag untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak terpuji, sekaligus berlomba untuk mempersembahan hal positif yang lebih kontributif bagi bangsa. Kinerja pelayanan publik yang lebih baik akan terakumulasi menjadi point bagi pencitraan positif lembaga.

Kemenag dikenal sebagai kementerian yang melayani urusan dunia dan akherat masyarakat sekaligus, sehingga pelayanan yang harus diberikan tidak pernah terhenti dan mesti maksimal. Bila ada warga negara yang hendak membangun kehidupan bahagia lewat pernikahan, Kemenag berkontribusi di dalamnya. Kemenag juga hadir dalam pelayanan urusan a�?akherata�?nya publik (umat) seperti ibadah haji. Dua urusan tersebut serta berbagai pelayanan publik lainnya menjadi tugas pelayanan yang mesti diseriusi Kemenag bila citra positifnya ingin terus melekat dalam institusi ini.

Penilaian Ombudsman Republik Indonesia yang menempatkan Kemenag pada kategori kuning untuk urusan pelayanan publik menjadi alarm penting bagi kementerian ini untuk berkinerja baik melayani publik hingga pada level hijau.

Penguatan sistem pelayanan administrasi internal seperti di bidang kepegawaian harus masuk sebagai pekerjaan rumah serius bagi Kemenag. Jangan sampai kosentrasi terhadap pelayanan publik (masyarakat) membuat hak-hak keluarga besar kementerian agama diabaikan. Untuk pengurusan hak pegawai Kemenag yang hendak naik pangkat misalnya, masih terdengar keluhan para dosen yang proses kenaikan pangkatnya berlangsung lama karena mandek di bagian tertentu pada kantor Kemenag RI. Peralihan dari sistem manual ke online dalam urusan pengusulan pangkat tidak sepenuhnya bisa memperlancar proses pelayanan internal tersebut.

Mental oknum pegawai Kemenag yang belum professional dalam mengeksekusi pelayanan kepangkatan membuat sistem online tersebut menjadi tidak berarti bagi percepatan pelayanan administrasi kepegawaian. Masih saja para dosen harus a�?mengemisa�? dengan beberapa oknum yang memegang peran penting dalam urusan tersebut di Kemenag.

Maka tidak heran bila pegawai yang mengurus hal yang sama pada Kementerian berbeda menyentil ketidakprofesionalan oknum pegawai Kemenag dalam mengurus pangkat koleganya. Perilaku oknum seperti ini bertentangan dengan nilai integritas, profesionalitas, dan keteladanan yang merupakan tiga dari lima nilai budaya kerja Kementerian Agama. Perilaku yang sama lebih bertentangan lagi dengan motto a�?Ikhlas Beramala�? yang ada di logo Kemenag.

Semoga perilaku oknum seperti ini cepat sirna di Kementerian a�?warna putiha�? agar noda hitam tidak terlihat dan memberi citra negatif institusi. Amin.. Selamat Hari Amal Bhakti Kementerian Agamaa�� (r8)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post