Lombok Post
Sumbawa

Kasus yang Melibatkan Anak Meningkat

Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri Sumbawa Feddy Hantyo Nugroho RANDY/RADAR SUMBAWA

SUMBAWA – Dalam kurun waktu 2016, tindak pidana umum melibatkan anak yang ditangani Kejaksaan Negeri Sumbawa cendrung meningkat. Baik itu anak sebagai korban ataupun anak sebagai pelaku.

Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri Sumbawa Feddy Hantyo Nugroho mengatakan, yang meningkat dalam perkara pidana umum adalah kasus yang menyangkut perlindungan anak. Dalam hal ini, kasus dimana anak menjadi korban mengalami trend peningkatan. Tidak hanya tindakan asusila, kekerasan terhadap anak juga meningkat.

Dikatakan, apabila masyarakat melihat ada kekerasan terhadap anak, tidak didiamkan saja dan langsung dilaporkan. Kasus penelantaran anak juga bukan hanya menjadi perhatian keluarga saja. Masyarakat yang melihat adanya kejadian ini juga langsung melapor kepada pihak berwajib.

Begitu juga anak yang merupakan pelaku tindak pidana, trendnya mengalami peningkatan. Adapun kasusnya yang lebih dominan adalah kasus pencurian. Baik itu pencurian biasa, pencurian dengan pemberatan (curat) bahkan pencurian dengan kekerasan (curas). Dalam hal ini, kasusnya masuk dalam kategori sistem peradilan pidana anak (SPPA).

a�?a��Kalau anak sebagai pelaku atau anak yang berhadapan dengan hukum, jatuhnya ke SPPA,a�? ujar Feddy.

Menurut Feddy, yang menjadi atensi adalah kasus yang melibatkan anak. Yakni anak sebagai korban ataupun anak sebagai pelaku. Apabila anak sebagai pelaku, harus dikategorikan. Apakah sang anak sebagai otak tindak pidana tersebut, atau anak hanya disuruh melakukan. Hal ini juga sudah menjadi modus.

Dalam tindak pidana, alasan pemaaf dalam persidangan untuk anak memang lebih besar. Dalam SPPA, anak yang berumur di bawah 12 tahun tidak bisa dikenakan tindakan. Anak hanya dikenakan pembinaan atau dikembalikan kepada orang tua.

Sementara untuk anak yang berusia 12 sampai 18 tahun akan dikenakan tindakan. Berupa pembinaan di lembaga pembinaan khusus anak, yang dulunya disebut sebagai penjara anak. Atau diberikan keterampilan di lembaga khusus anak yang ditunjuk pemerintah.

Selain kasus yang menyangkut anak, lanjutnya, kasus yang lain juga mengalami peningkatan. Adapun kisaran peningkatannya sekitar 10 sampai 20 persen. Untuk tindak pidana umum dibagi menjadi tiga kategori. Yakni tindak pidana umum lain, tindak pidana orang dan harta benda serta tindak pidana keamanan negara dan ketertiban umum.

Adapun perkara pra penuntutan pada 2016 sebanyak 342 perkara. Penyelesaian perkara ditingkat pra penuntutan, ada 64 SPDP yang dikembalikan ke penyidik kepolisian. Dalam hal ini tidak ada perkara yang berhenti. Perkara baru bisa berhenti ketiak sudah ada SURAT PERINTAH PEMBERHENTIAN PENYIDIKan. Kasus yang sudah masuk dalam tahap penuntutan sebanyak 280 kasus. Sementara untuk eksekusi, telah dilakukan sekitar 317 eksekusi.

Perkara yang ditangani bisa saja sudah dinyatakan lengkap, tapi tersangka dan barang buktinya belum dikirim. Atau kasus yang belum dinyatakan lengkap, lalu dikembalikan lagi dan belum dikirim.

Setelah dikalkulasi, perkara yang ditangani 2016 lebih banyak dari tahun 2015. Penyelesaiannya juga lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2015 lalu. Karena jumlah kasusnya lebih banyak, penyelesaiannya juga lebih banyak. a�?a��Tapi ini bukan menjadi ukuran bahwa di suatu daerah itu dikatakan tidak kondusif,a�? katanya. (run/r4)

Berita Lainnya

Dana Bantuan Korban Gempa Cair Pekan Ini

Redaksi LombokPost

Perpustakaan Cempi Jaya Banggakan Dompu

Redaksi LombokPost

Minyak Sumbawa Sangat Layak Menasional

Redaksi LombokPost

Puluhan Lampu Terpasang, Kota Bima Semakin Terang

Redaksi LombokPost

KPU Dompu Publikasikan Daftar Caleg Sementara

Redaksi LombokPost

Pelayanan RSUD Sumbawa Mulai Dibenahi

Jalan Teladan-Kelawis dan Batu Rotok Tuntas

Berkas SMKN Lunyuk Dikirim ke Kejaksaan

Istri Jadi TKW, GT Hamili Anak Kandungnya