Lombok Post
Metropolis

BRT a�?Mogoka�?, Siswa Terlantar

KAPAN DATANGNYA?: Sejumlah siswa SMP di Mataram menunggu BRT di Jalan Pejanggik, depan SMP 1 Mataram, Selasa (3/1) lalu. Rojai/Lombok Post

MATARAMA�– Imbas dari pemukulan driver Bus Rapid Transit (BRT) oleh oknum sopir angkutan kota (angkot) Selasa lalu, membuat sampai hari ini, Perum Damri Cabang Mataram memutuskan mengkandangkan BRT di Terminal Damri. Keputusan tersebut membuat banyak siswa yang biasa menggunakan layanan angkutan massal ini menjadi terlantar.

Dita, salah satu siswa SMP 1 Mataram mengaku heran bus dengan dominan warna biru itu tidak lagi mengaspal dalam beberapa hari ini. a�?Tidak tahu, tidak pernah lewat lagi,a�? kata Dita, saat dijumpai tengah duduk dengan rekan-rekannya di shelter depan sekolahnya.

Kejadian ini sudah berlangsung beberapa hari. Ia pun terpaksa meminta diantarkan orang tuanya ke sekolah lagi. Sebelumnya, keberadaan BRT dinilainya cukup membantu kelancaran transportasinya ke sekolah. Tapi, BRT yang tiba-tiba menghilang membuatnya sempat bingung.

Kepala Bidang Keselamatan Lalu Lintas (BKLL) Dinas Perhubungan Kota Mataram Mahfudin Noor, mengaku sempat mendengar kabar adanya supir BRT yang dianiaya. Hanya saja kronologi kejadian dan tempat peristiwa, belum ia terima laporanya. Ia hanya, membenarkan tentang demo penolakan yang sempat disampaikan sejumlah anggota Organda angkutan kota (angkot) dan angkutan pedesaan (angdes).

a�?Bahkan angdes dari Lombok Barat juga demo kesini. Tetapi tetap kita terima aspirasinya,a�? terang pria yang akrab dipanggil Fudin ini. Ia juga belum mendapat informasi resmi tentang tidak beroperasinya lagi BRT.

a�?Kami juga mendengar ada beberapa titik terjadi penghadangan BRT oleh sejumlah sopir angkot dan angdes. Hal itu sudah kami laporkan juga pada provinsi,a�? tuturnya.

Fudin menghimbau pada seluruh sopir angkot dan angdes untuk tidak melakukan tindakan-tindakan melawan hukum. Apalagi seperti informasi yang beredar di mana terjadi pemukulan. Fudin mengingatkan jika program BRT adalah program nasional.

a�?Yang salah satunya diarahkan di NTB, khususnya di Kota Mataram dan Lombok Barat,a�? himbaunya.

Terpisah, Kabid Perhubungan Trasportasi Darat Asep Supriatna juga mengaku belum mendengar kabar terjadinya pemukulan terhadap driver BRT. Informasi yang diterimanya hanya terkait demo Organda, Selasa (3/1) lalu. Rencananya, paling lambat Senin (9/1) atau Selasa (10/1) depan, akan diadakan pertemuan.

a�?Kami akan undang Dishub Kota, Dishub Lobar, Kepolisian, Organda, Damri dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan oprasional BRT ini, sehingga harapannya Rabu (11/1) sudah bisa dipastikan BRT kembali bisa beroperasi atau tidak,a�? kata Asep.

Ia juga mengaku tidak tahu. Apa yang menjadi penyebab hingga bisa ada penolakan dari Organda. Padahal ia mengklaim sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan pihak Organda. Di antaranya tetap memfungsikan angkot sebagai feeder yang menghubungkan pemukiman warga dengan shelter-shelter.

a�?Selain itu kita juga kemarin sepakat ada subsidi untuk para pemilik angkot dan angdes,a�? terangnya.

Penghentian operasi BRT oleh Damri memang disayangkan. Tetapi, Asep juga bisa memahami mereka selaku operator BRT. Apalagi ada upaya-upaya intimidasi yang dilakukan sejumlah oknum sopir angkot dan angdes.

a�?Tapi kita antisipasi agar ini tidak terlalu meluas persoalannya,a�? tandasnya. (zad/r3)

Berita Lainnya

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post