Lombok Post
Metropolis

Syukurlah, Cabai Turun Rp 10 Ribu

PUSING: Seorang pedagang cabai di Pasar Mandalika merenung saat menunggu konsumen membeli cabai yang dijualnya, kemarin (6/1). Lalu mohammad/Lombok Post

MATARAMA�– Di awal tahun ini, harga cabai makin menggila. Sempat menyentuh level Rp 100 ribu perkilogram (kg), memasuki hari ke 6 di awal tahun, harga cabai hanya turun sedikit menjadi Rp 90 ribu. Praktis, harga yang bikin meringis ini, membuat beberapa pembeli hanya bisa pasrah.

Masniatun misalnya. Warga asal Dasan Lekong yang berbelanja kebutuhan rumah tangga di Pasar Mandalika kemarin (6/1), akhirnya hanya membeli cabai seperempat kilogram saja.

a�?Beli mahal, gak beli sudah biasa pakai sambal,a�? gerutu Masniatun.

Apalagi beberapa menu makanannya, sebagian besar menggunakan cabai. Mau tidak mau, meski harganya sangat mahal terpaksa dibeli juga. Ia mengaku harus mensiasati pengeluaran dengan cara mengurangi pembelian kebutuhan lainnya.

a�?Tadi mau beli ikan. Tapi gak jadi. Beli telur saja,a�? terangnya.

Sementara itu, Masniah pedagang cabai mengatakan, harga cabai membuat ia was-was. Harga yang melangit, bukan berarti memberi keuntungan bagi pedagang. Tetapi, sebaliknya ancaman rugi. Sebab pembeli, menurun drastis. Di sisi lain jika disimpan terlalu lama cabai bisa membusuk.

a�?Ee, sebiji bae tetunah, (ee, sebiji cabai saja disayang),a�? tutur Masniah.

Sebenarnya, harga cabai bervariasi dari tingkat kematangannya. Untuk cabai hijau, kisaran Rp 70 ribu. Sedangkan cabai yang dicampur dengan yang matang (merah), berkisar Rp 80 ribu.

a�?Saya ambil (cabai) dari Lombok Timur,a�? terangnya.

Sementar itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli mengakui kenaikan harga cabai tersebut. Penyebabnya, karena banyak petani cabai yang gagal panen. Inilah yang dinilai berdampak pada produktivitas cabai di daerah.

a�?Akibat cuaca kemarin, banyak lahan yang tergenang sehingga tanaman cabai membusuk,a�? terangnya.

Selain itu, petani juga dikatakan banyak yang menjual hasil pertaniannya ke luar daerah. Demi mengejar keuntungan lebih besar. Mereka, hanya menyisakan stok sedikit untuk pasar lokal. Hal ini juga mendorong harga cabai sampai meroket ke harga Rp 10o ribu per kg.

a�?Produktivitas cabai kita capai 10 ton perhektare. Totalnya 100 hektere (ha). Cuma perlu dimaklumi tanam cabai tidak langsung 100 ha. Tetapi bertahap. Panenya juga tidak langsung bertonn-ton sehari, tetapi bisa 50 kg perhari, tetapi terus menerus, selama tiga bulan,a�? terangnya.

Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram HM Zaini tegas meminta pemerintah segera turun melakukan operasi pasar. Jangan sampai hanya karena alasan Kepala Dinas Perdagangan belum ditunjuk lalu membiarkan masyarakat menjerit dengan kebutuhan pokok.

a�?Harus segera turun. Saya fikir masih ada bidang-bidang di dinas tersebut yang sudah terbiasa mengatasi persoalan ini,a�? kata Zaini.

Ia mengingatkan cabai merupakan komoditas pokok masyarakat. Jangan dianggap sepele, mengingat kebutuhan warga dengan makanan penghasil rasa pedas sangat tinggi di Kota Mataram. Tim Pemantau dan Pengendali Inflasi Dareah (TPID) juga diingatkan segera berkoordinasi. Mencari solusi atas persoalan ini.

a�?Bayangkan kalau harga ini terus saja tinggi sampai berbulan-bulan kan kasihan warga,a�? tegasnya. (zad/r3)

Berita Lainnya

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost