Lombok Post
Selong

Buang Air Besar Lewat Perut, Terkendala Biaya Obat

BUTUH PERHATIAN: Nurfatin, bocah asal Montong Gading yang menderita infeksi usus. Duka Nurfatin, Bocah Penderita Infeksi Usus Asal Lotim IST/LOMBOK POST

Nurfatin kini terbaring lemah di ruang perawatan Gili Nanggu RSUP NTB. Bocah malang ini divonis menderita infeksi usus yang membuatnya harus buang air besar lewat lubang di perutnya.

***

TUBUHNYAA�terkulai lemas. Gadis kecil bernama Nurfatin Sazwani ini berusia 12 tahun. Namun akibat kondisi tubuhnya yang terus menurun dan betambah kurus ia tak terlihat seperti anak seusianya.

“Sudah tiga hari dia jarang mau makan. Makanya saya khawatir ini,” kata Habibah ibu Nurfatin kepada Lombok Post.

Nurfatin merupakan Putri pasangan Nurhabibah, 42 tahun dan Muhammad Nasri, 56 tahun. Diceritakannya anaknya ini merasa ada kejanggalan pada tubuhnya sejak November lalu. Ia mengeluhkan kalau bagian perutnya terasa sakit. Inilah awal mula bocah asal Montong Gading Lombok Timur ini diketahui menderita kelainan usus. Benar saja, setelah diperiksa ia memang mengalami infeksi usus. Karenanya oleh pihak RSUD R Soedjono Selong ia dirujuk di RSUP NTB.

Kini ia berbaring lemah dengan menahan sakit. Dirawat di ruang Gili Nanggu kamar 111 RSUP Mataram bocah ini hanya diam membisu menahan penderitaannya.

“Awalnya ia dia merasa sakit pada bagian perut dan rambutnya juga rontok. Setelah dilakukan cek medis ternyata ada infeksi pada usus. Dan kami disarankan dilakukan operasi,” tuturnya.

Habibah mengatakan usus putrinya yang terkena infeksi harus dipotong sepanjang 30 cm. Paska operasi itu sampai saat ini Nurfatin belum sembuh dan harus buang air besar melalui lubang pada perut.

“Kini normal sih buang air besar tapi kadang dia merasa perih,” tutr Habibah.

Sehingga Habibah mengaku kerap meneteskan air mata merasa kasihan dengan rasa sakit yang harus diderita anaknya. Kisah pilu Habibah berlanjut karena Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang ia gunakan berobat ke RSUP Mataram tak bisa diandalkan secara penuh.

Dengan latar belakang ekonomi lemah ia harus menanggung biaya sejumlah obat dan biaya lain yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

“Ada obat yang memang katanya diluar tanggungan BPJS Kesehatan. Selain itu saya setiap hari harus beli perban untuk membungkus tubuhnya,” tuturnya.

Selama dua minggu di RSUP NTB, jutaan rupiah telah dihabiskan habibah untuk membeli perban dan sejumlah obat-obatan bagi Nurfatin. Penghasilan sebagai petani membuatnya cukup merasa berat dengan situasi ini. Namun ia mencoba tabah dan menghadapi musibah yang dihadapi keluarganya dengan tegar. (HAMDANI WATHONI/r2)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost