Lombok Post
Metropolis

Cabai oh Cabai, Rp 2 Ribu Hanya Dapat 7 Butir

OGAH TURUN: Siti Aminah, tengah menjemur cabai yang mulai membusuk, untuk dijual lagi pada para konsumen, di Pasar Kebon Roek, kemarin (8/1). Lalu Mohammad/Lombok Post

MATARAM – Harga cabai, kembali a�?pedasa�?. Sabtu (7/1), harga cabai berkisar Rp 90 ribu perkilogram. Tetapi Minggu (8/1) kemarin, harga cabai kembali merangkak naik. Di sejumlah pasar, seperti di Pasar Kebon Roek, harga cabai Rp 95 ribu perkilogram.

a�?Orang kan biasanya beli cabai Rp 2 ribu. Mau tidak dikasih karena harga naik, kasihana�? kata Siti Aminah, salah seorang pedagang cabai di pasar setempat.

Untuk itu mereka membuat kesepakatan dengan pedagang lain. Dengan uang Rp 2 ribu, pembeli cuma dapat 7 butir cabai rawit merah. Itupun diakuinya dijual dengan berat hati, karena bisa jadi malah rugi.

Mahalnya cabai, membuat sayuran pedas ini sangat berharga. Bahkan cabai-cabai yang mulai membusuk pun enggan dibuang. Aminah mengaku memilih untuk menjemur cabai sampai kering.

a�?Ini bisa jadi uang loh,a�? ujarnya.

Kenaikan harga cabai ini tidak diketahui Aminah, apa penyebabnya. Tiba-tiba saja harganya melonjak tinggi. Karena kesal, ia pun sempat mengeluarkan uneg-uneg dengan menyebut pemerintahan Jokowi gagal membuat harga stabil.

a�?Ini karena Pak Jokowi tidak mau turun gerebek gudang,a�? cetusnya.

Dampak dari kenaikan cabai ini diakuinya telah memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Para pengusaha warung makan, juga dikabarkan mulai menaikan harga makanan, seiring dengan naiknya harga cabai.

a�?Tidak berani sekarang para pedagang nasi buat pelecing, takut rugi,a�? tuturnya.

Pengamat ekonomi Universitas Mataram Firmansyah meminta pemerintah segera melakukan gerak cepat. Jangan sampai kenaikan harga cabai rentan memicu kenaikan harga bahan pokok lainnya. Ia juga berharap pemerintah mewaspadai aksi sejumlah pedagang yang ingin mendapat keuntungan besar dari kenaikan harga ini.

a�?Patut diwaspadai aksi spekulan pasar. Apalagi ini terjadi secara nasional,a�? kata Firmansyah.

Menurutnya, kenaikan harga cabai ini memang tidak terlalu populer. Berbeda dengan kenaikan harga BBM, minyak goreng, beras dan sejumlah kebutuhan dasar lainnya. Tetapi terbukti, kenaikan cabai dalam beberapa minggu terakhir telah mendorong harga komoditas lainnya ikut disesuaikan.

a�?Pemerintah punya tugas penting untuk memantau arus transportasi cabai, terutama dari luar daerah ada persoalan atau tidak,a�? sarannya.

Jika sudah dipastikan tidak ada upaya spekulan, maka pemerintah bisa mengambil langkah cepat membangun komunikasi dengan daerah-daerah yang surplus cabai. Lalu mengundang mereka memasarkan cabai di daerah. Langkah ini bisa menjadi alternatif meski berpotensi mendapat protes dari petani lokal dan pedagang.

a�?Ya, ujung-ujungnya harus impor,a�? ujarnya.

Memang ada cara lain, yakni meminta agar masyarakat mengurangi konsumsi cabai. Tetapi, Firmansyah mengaku tak yakin. Sebab seperti sudah menjadi kebiasaan, masyarakat Kota khususnya dan NTB pada umumnya menikmati makanan pedas.

a�?Kalau bukan pedas bukan lauk Lombok,a�? kelakarnya.

Persoalan lain yang juga masih sangat kurang yakni terkait manajemen stok yang belum baik. Belum lagi, cabai yang memang umur kesegarannya tidak lama dan cepat busuk. Ke depan pemerintah perlu memikirkan bagaimana cara pengemasan stok agar lebih aman. Sebab kalau tidak, ancaman inflasi karena didorong oleh kenaikan harga cabai bisa terus terjadi.

a�?Dari awal memang cabai ini sensitif,a�? tandasnya.

Terpisah, anggota Tim Pengendali dan Pemantau Inflasi Daerah (TPID) Kota Mataram Iwan Harsono menyampaikan TPID sejauh ini belum bisa memantau apa penyebab pasti kenikan harga cabai. Dugaan sementara, ini ada kitannya dengan cuaca buruk yang sempat terjadi beberapa waktu lalu, lantas membuat banyak tempat mengalami gagal panen.

a�?Tapi sebagai informasi, Desember kemarin kita ada program bantuan melalui TPID berupa pemberian bibit cabai di setiap rumah tangga,a�? kata Iwan.

Tujuan pemberian bibit itu adalah untuk menekan perminaan di pasar. Sehingga jika terjadi kelangkaan cabai, permintaan bisa dikendalikan. Tetapi dengan lonjakan harga sampai mencapai Rp 95 ribu, berarti program ini lanjut Iwan harus dievaluasi.

a�?Iya ini perlu dievaluasi. Kenapa bisa seperti ini. Harusnya jika program itu berjalan baik harga cabai tidak setinggi saat ini,a�? ungkapnya.

Ia mengaku belum bisa berkoordinasi secara masif dengan seluruh anggota TPID. Apalagi pasca perubahan nomenklatur SKPD di awal tahun 2017 ini. Ketua Tim TPID Kota Mataram yang diketuai oleh Kepala Bappeda, bahkan belum ditunjuk. (zad/r3)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost