Lombok Post
Metropolis

Ini Semua Berkat Kebesaran Tuhan

SANTAI SEJENAK: Sofian tengah duduk menunggu pelanggan di kawasan ruko Ampenan, Minggu (8/1). Lalu Mohammad/Lombok Post

Jam tangan nyaris dilibas zaman. Sebab, sekarang setiap barang elektronik sudah dilengkapi penunjuk waktu. Meski begitu, tukang servis arloji tidak menyerah. Mereka masih akan berjuang hingga benar-benar kalah oleh kemajuan zaman.

***

DUA puluh tahun silam. Arloji bisa diartikan kemegahan. Mereka yang memakainya akan dipandang lebih dari yang lainnya. Apalagi, arloji itu merk terkenal.

Oh! Megah betul. Tapi itu dulu. Sekarang? Bisa-bisa dianggap gila. Memakai jam tangan penuh di lengan kiri dan kanan.

a�?Dulu kan jam tangan yang melilit di tangan menandakan jumlah orang yang midang (ngapel, Red) ke rumah si gadis,a�? terang Pengamat Budaya asal Lombok Tengah Lalu Muksin.

Jadi kalau ada jam tangan sampai 20 melingkar di tangan kanan dan kiri, itu berarti a�?pacarnyaa�? sebanyak 20 orang. Keren kan? Beda dengan sekarang. Pacaran dua saja sudah dituduh selingkuh.

a�?Seperti sudah menikah saja. Kok disebut selingkuh,a�? sindirinya.

Tapi yang paling beruntung dengan masa-masa keemasan arloji, selain produsen jam tangan dan para gadis, tentu saja tukang servis arloji. Sofian misalnya. Ia adalah tukang servis arloji yang memulai pekerjaannya sejak tahun 1979. Bahkan, saat itu ia sudah a�?nongkronga�? di kawasan Ampenan.

a�?Dulu, dapat Rp 100 ribu jadi tukang servis arloji, kita bisa beli tanah,a�? tutur pria dengan rambut gondorong itu.

Tapi itu dulu. Jangan bandingkan dengan sekarang. Rp 100 ribu, bahkan bisa kurang jika dipakai belanja di pasar. Harga-harga kebutuhan bahan pokok melangit. Uang yang dulu begitu mewah, kini tidak ada apa-apanya.

a�?Keluar dari pasar dengan Rp 100 ribu, dapat beberapa ikat sayur dengan ayam yang sudah mati (daging ayam), semua ludes,a�? ungkapnya.

Kalau tidak kuat-kuat bersyukur, tentu dengan anak sampai sembilan orang, Sofian sudah lari dari tanggung jawab. Tapi untung, cuma istrinya yang meminta pisah. Sementara, enam orang anaknya memilih tetap tinggal bersamanya.

a�?Meninggal tiga orang. Kalau masih hidup mungkin tetap memilih hidup dengan saya. Bagaimana coba? Ayahnya ini kan penuh dengan kasih sayang,a�? kata pria itu penuh percaya diri.

Penghasilan setiap hari dengan servis arloji berkisar Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Uniknya, setiap hari ternyata selalu ada saja orang yang servis arloji. Meski jumlah saingannya cukup banyak.

a�?Iya, setiap hari. Inilah kebesaran Tuhan. Di balik kepanikan orang yang jam tangannya rusak, selalu ada rezeki buat kami,a�? ujarnya, lalu tersenyum lebar.

Jumlah tukang servis arloji di kawasan itu, jika dihitung-hitung lebih dari 20 tempat. Termasuk ruko-ruko jam. Maka logikanya, setiap hari selalu saja minimal 20 jam rusak. Tidak pernah sepi.

Sofyan sendiri mengaku heran. Meski penunjuk waktu dengan mudah ditemukan di berbagai alat eletronik termasuk handphone, tetapi rupanya sangat banyak orang yang tidak terbiasa menjalani aktivitas tanpa jam tangan.

a�?Memang di HP ada, di TV ada dan banyak barang elektronik lainnya. Tapi orang kan butuhnya begini. Dan lebih nikmat begini,a�? terangnya, sembari mengangkat lengan kiri, mengikuti gaya orang yang tengah melihat jam di lengan.

Sofian pun yakin, para penyuka jam tangan tidak akan pernah habis. Baik dengan alasan kenyamanan, kebiasaan atau kemewahan jam itu sendiri. Misalnya, karena jam tangan itu antik. Bahkan ada beberapa jam tangan yang memang jenis mahal, sayang jika dibuang.

a�?Kalau yang mahal punya pejabat. Jadi mereka tetap service. Meskipun jam tangan itu berkali-kali mati,a�? tuturnya.

Uniknya lagi, onderdil jam sebenarnya sudah mulai sulit didapat di kota ini. Satu-satunya toko kata Sofian yang masih menjual ada di Cakranegara. Itu pun tidak tahu, mau bertahan sampai kapan.

Maka cara mensiasati agar tetap bisa melakukan service arloji, biasanya dengan membuka layanan tukar tambah jam tangan. “Nanti dari jam tangan rusak itu saya ambilkan onderdil untuk arloji yang diperbaiki,a�? terangnya.

Tapi usia yang sudah mulai senja, mempengaruhi kinerja Sofian. Di usia 60 tahun, pengelihatannya sudah mulai rabun. Hanya bisa bertahan melihat benda berukuran mikro dalam beberapa menit saja. Selebihnya, ia butuh istirahat dan relaksasi untuk memulihkan pengelihatan.

a�?Makanya anak ini juga saya ajari cara service arloji,a�? ungkapnya.

Seorang remaja yang tengah duduk di samping Sofian, tampak senyum-senyum. Namanya, Murdani. Sebentar lagi, remaja itu akan lulus SMA. Sofian mengaku mulai bingung, sebab anaknya itu tidak hanya minta kuliah. Tetapi minta sepeda motor juga.

a�?Terpaksa harus beli dengan kredit. Kalau kuliah ndak tahu nanti,a�? cetusnya.

Jika ada tambahan modal, ia ingin sekali memperbesar usaha itu. Minimal naik kasta. Dari tukang service menjadi penjual arloji. Tetapi sulitnya mendapatkan pinjaman modal, membuat ia sampai saat ini masih memendam mimpi.

a�?Semoga pemerintah perhatian pada warga kecil seperti kami,a�? tandasnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Berita Lainnya

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost