Lombok Post
Metropolis

Jangan Ada Kanibalisme Angkot

MINIM PENUMPANG: Kondisi sebuah BRT beberapa waktu lalu yang masih minim penumpang setelah peluncuran sejak akhir tahun lalu. Wahyu/Lombok Post

MATARAM – Persaingan tak sehat antara BRT dan bemo kuning sebagai angkutan kota yang lebih dulu ada membuat DPRD Kota Mataram angkat bicara. Wakil Ketua Dewan I Wayan Sugiartha meminta pemerintah merukunkan dua moda transportasi tersebut.

“Tak boleh ada salah satu yang dimatikan,a�? tegasnya.

Menurutnya bemo kuning masih tetap dibutuhkan, terutama untuk rute-rute di jalur kecil yang tak bisa dimasuki bus. Konsep bemo kuning sebagai angkutan pengumpan yang terintegrasi diyakini merupakan solusi yang tepat.

Sayangnya hingga kini rute baru yang dijanjikan untuk bemo kuning tak kunjung direalisasikan. a�?Saya minta perhubungan serius untuk segerakan buat rute baru buat bemo itu,a�? serunya.

Anggapan dengan adanya BRT, bemo kuning boleh dihentikan operasionalnya menurut Sugiartha sepenuhnya keliru. Semakin banyak moda transportasi, diyakini makin baik untuk masyarakt Mataram sebagai konsumen.

Untuk itu ia meminta semua angkutan, termasuk cidomo juga diatur dengan baik. a�?Banyak PR dan pembenahan yang harus dilakukan perhubungan,a�? ujarnya.

Terkait BRT yang masih sepi penumpang, politisi PDIP itu juga meminta sosialisasi untuk pengenalan makin diintensifkan. Dia bahkan mendorong adanya dukungan langsung dari Pemkot Mataram. Misalnya dengan menggerakkan PNS untuk memakai BRT.

Bisa saja, lanjutnya, ada satu hari tertentu dalam sepekan dimana PNS diwajibkan menggunakan BRT. Hal itu untuk memancing kebiasaan menggunakan transportasi publik yang belum terbangun hingga kini. “Harus ada terobosan dari pemkot,a�? ujarnya.

Terkait sepinya penumpang BRT, sebelumnya Kadis Perhubungan Kota Mataram H Khalid mengatakan hal itu memang masih menjadi kendala.

Jikapun ada penumpang, masih didominasi kalangan pelajar di saat jam pergi dan pulang saja. Itupun tak sampai membuat BRT penuh sesak. Tak jarang bus bongsor bantuan pusat itu melintas dalam keadaan kosong melompong. “Mari kita biasakan naik bus,a�? serunya. (yuk/r5)

 

Berita Lainnya

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost