Lombok Post
Sudut Pandang

Melawan Media Online Hoax

sudut pandang

BELUM A�selesai kita senang karena maraknya media sosial dan media online yang menyediakan banyak alternatif sumber informasi, tiba-tiba kita dikhawatirkan oleh maraknya berita atau informasi hoax yang berasal dari media berbasis jaringan internet tersebut.

Berita dan pesan hoax dimungkinkan karena orientasi yang berlebih pada kecepatan penyajian berita membuat media online menyampingkan prinsip cover both side dalam publikasi dan tanpa konfirmasi maksimal terhadap sumber berita dan pihak terkait.

Betapa banyak kerugian sosial yang disebabkan oleh maraknya media online yang hoax, yang tidak hanya dialamiA� konsumen media online (publik), tetapi juga dirasakan sesama media online. Oleh karena itu, diperlukan upaya berjamaah untuk melawan informasi hoax yang bersumber dari media abal-abal tersebut. Paling tidak ada dua cara untuk melawan media online hoax, yaitu penindakan dan pencegahan.

Langkah penindakan merupakan upaya jangka pendek untuk secara kilat memberantas beredarnya media online hoax. Negara harus hadir dengan menggunakan kapasitas dan kewenangannya untuk mentertibkan media online yang menebar kebohongan sehingga masyarakat tidak menjadi korban informasi yang tidak benar dari media online. Pemerintah bisa menggunakan aturan yang ada untuk memberi pelajaran kepada media online hoax agar virus jahat yang ada di dalam media tersebut tidak menularkan efek negatif bagi konsumennya.

Mentertibkan media online hoax sama dengan menyelamatkan anak bangsa dari sikap saling membenci, mencurigai, dan dendam. Upaya yang sama dapat berkontribusi bagi tumbuhnya media online yang sehat, mencerahkan, mendidik, menghibur dan pengontrol sosial.

Suasana kehidupan sosial yang kian kompleks dengan beragam kelompok kepentingan yang ada di dalamnya sangat mungkin kehadiran media online hoax akan bisa memperkeruh suasana yang seharusnya tetap terjaga kondusif. Atau bisa jadi sebaliknya, konflik sosial dan politik yang eskalatif membuat tumbuhsuburnya media online. Mempublikasi berita dan informasi hoax di media online merupakan salah satu bentuk pertarungan kelompok-kelompok tertentu untuk memenangkan image di ruang publik.

Media online yang sejatinya memberi informasi, mendidik, menghibur, dan mengontrol fenomena dan perkembangan sosial kini bermetamorfosis menjadi penebar kabar burung dan penyuplai informasi kebencian. Berbagai kepentingan menyertai modus operannya, sehingga hampir bisa dipastikan media online yang bertradisi hoax dikuasai oleh kelompok tertentu dengan agenda-agenda tertentu. Akhirnya media (termasuk media online) yang menjadi barang netral telah menjadi media subjektif tempat para pembohong menyemai aksi hoax-nya.

Pencegahan merupakan upaya jangka panjang untuk melawan aksi media online hoax. Peran ini (pencegahan) dapat dilakoni banyak kalangan. Pemerintah tetap menjadi elemen penting untuk mengawal upaya preventif ini karena sumber daya yang dimilikinyaA� lebih banyak ketimbang elemen lainnya. Dalam konteks ini, pemerintah antara lain bisa melakukan pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) praktisi media online untuk mendorong tumbuhnya produsen-produsen media online yang profesional.

Pemerintah bisa menjadikan lembaga pendidikan formal yang dibinanya untuk mengintervensi upaya literasi media pada pelajar demi membangun kesadaran dan pemahaman media pada generasi masa depan dan remaja harapan bangsa. Komunitas pelajar dan pemuda merupakan konsumen media online mayoritas dan pegiat media sosial aktif. Bila kelompok ini tidak digarap dengan serius untuk diikutkan dalam program literasi media maka dikhawatirkan akan merusak masa depan generasi sekaligus bangsa karena mereka merupakan pewaris sah kehidupan bangsa di masa yang akan datang.

Publikasi dan informasi media online selalu terkoneksi dengan media sosial yang ada. Oleh karena itu tidak heran bila hasil postingan media online acap kali dishare kembali oleh para netizen lewat akun media sosial yang dimilikinya. Bisa terbayang bila sebagian besar isi atau pesan media online abal-abal penyebar berita hoax dikonsumsi mentah-mentah oleh masyarakat.

Bila informasi hoax tersebut terus menerpa pelajar dan pemuda maka pesan kebencian, provokatif, dan kebohongan yang ada di dalamnya akan terinternalisasi menjadi kepribadian mereka yang akan mewarnai setiap langkah aktivitas kesehariannya. Jangan heran bila generasi muda akan tumbuh dan berkembang sebagai anak bangsa yang penuh kecurigaan dan sentimen berbasis kelompok tertentu.

Jalur pendidikan nonformal dan informal menjadi ruang tersisa bagi masyarakat untuk mengambil bagian dalam membangun generasi yang imun terhadap terpaan informasi hoax media online abal-abal. Rumah tangga dapat dijadikan sebagai a�?sekolaha�? karakter dan a�?lembaga pendidikana�? tempat menanamkan nilai-nilai inklusif dan belajar sikap kritis sertaA� selektif terhadap informasi.

Tidak salah bila rumah disulap menjadi ruang diskusi yang secara fokus membahas tentang isu dan informasi terbaru dari media online dan media sosial lainnya, sehingga tidak ada satu informasi pun yang tidak didiskusikan. Dalam konteks inilah informasi atau berita yang benar dan hoax bisa teridentifikasi bersama anggota keluarga.

Sikap selektif publik terhadap berita yang bersumber dari berbagai media (terutama media online) menjadi pintu masuk untuk mengeliminasi secara alami eksistensi media online yang hoax. Artinya ketika media online yang tidak bisa diajak kembali ke jalan yang benar lewat tangan kekuasaan (pemerintah), maka media yang bersangkutan akan dieliminasi secara alami keberadaannya oleh masyarakat.

Media tersebut akan ditinggal oleh publik dan menjadi objek hujatan masyarakat, sehingga citra buruk sebagai media online hoax akan semakin masif diketahui publik. Bila cara seperti ini efektif maka publik hanya akan ditemani oleh media-media sehat tanpa unsur hoax.

Publik juga harus bisa mendorong makin kuatnya media-media arus utama untuk dijadikan sebagai referensi publik terhadap setiap isu yang berkembang. Pemerintah juga tidak boleh membiarkan isu terus mengawan-awan tanpa diklarifikasi secepatnya agar ruang hadirnya media online yang hoax dapat ditekan semaksimal mugkin. Semoga. (r8)

Berita Lainnya

Sudah Ikhlaskah Nonpribumi Berindonesia?

Redaksi Lombok Post

Universitas Islam Negeri (UIN) dan Spirit a�?DNAa�? Baru

Redaksi Lombok Post

Selamat Jalan Pengawal Budaya Mbojo

Redaksi Lombok post

Melawan Musuh Bangsa

Redaksi Lombok post

Media Sosial dan Ruang Publik

Redaksi Lombok post

Makna Simbolik Kunjungan Raja Salman

Redaksi Lombok post

Pendidikan Nirkekerasan

Redaksi Lombok post

Kasih Sayang yang Tidak Mengenal Hari

Redaksi Lombok post

Habib Rizieq: Antara Benci dan Rindu

Redaksi Lombok post