Lombok Post
Ekonomi Bisnis Headline

TPID Akhirnya Gelar OP Cabai

OPERASI PASAR: Kepala Divre Bulog NTB H Achmad Ma’mun (dua dari kanan) bersama Wakil Ketua TPID NTB Prijono (tengah), Karo Bidang Perekonomian Setda NTB Manggaukang Raba (kiri) usai melepas operasi pasar cabai rawit di Kantor Bulog Divre NTB kemarin (9/1). NURUL/LOMBOK POST

MATARAM – Semakin tingginya harga cabai rawit di pasaran dikhawatirkan akan berdampak pada inflasi Januari. Karenanya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) NTB menggelar operasi pasar (OP) untuk menekan harga cabai di pasaran.

A�a�?Ini merupakan bentuk sinergis pemerintah dengan TPID dan juga Bulog,a�? kata Kepala Divre Bulog NTB H Achmad Maa��mun usai pelepasan OP cabai di kantornya kemarin (9/1).

Ia menjelaskan, operasi pasar cabai merupakan kebijakan pemerintah pusat yang ditindaklanjuti daerah. Karenanya Bulog NTB pada Minggu (8/1) lalu membeli cabai langsung ke petani di wilayah Lobar dan Lotim.

a�?Saat ini harga cabai di NTB berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu perkilogram. Sementara kami menjual cabai segar dengan harga Rp 90 ribu perkilogram,a�? jelasnya.

Dalam OP ini Bulog NTB tidak mengambil keuntungan, tetapi menghindari terjadinya kerugian. Harga yang didapatkan dari petani hanya tambah biaya angkut dan biaya packing. Penentuan harga operasi pasar cabai melihat hasilnya hari pertama dan fluktuatif harga cabai jam 17.00 Wita setiap harinya.

a�?Stok cabai rawit yang disiapkan hari pertama oleh Bulog NTB mencapai 100 kilogram,a�? ujarnya.

Wakil Ketua TPID NTB Prijono berharap,A� OP ini paling tidak bisa mempengaruhi harga di pasar. Sejauh ini OP yang dilakukan bersama Bulog bisa menekan harga komoditas tertentu seperti halnya gula dan beras. Kondisi ini tentunya diharapkan bisa menurunkan harga cabai rawit yang sudah cukup tinggi.

a�?Kenaikan harga cabai rawit 10 persen saja maka bobot komoditas itu berpotensi menyumbang 0,35 persen dengan impact inflasi 0,03 persen,a�? ujarnya.

OP ini digelar dalam upaya pengendalian inflasi dengan menekan harga cabai rawit . Namun pengendalian yang dilakukan TPID bukan berarti menekan serendah-rendahnya harga cabai yang dapat merugikan petani. Pengendalian harga ini harus tetap menguntungkan petani.

a�?Melihat kondisi sekarang ini kami memperkirakan inflasi Januari 2017 berkisar 1,2 persen, tapi kami berharap tidak lebih dari 1 persen,a�? terangnya.

Sementara itu Kepala Biro Perekonomian Setda NTB Manggaukang Raba mengatakan, Pemprov NTB menyambut baik tindakan TPID dalam menyikapi harga cabai rawit yang saat ini cukup tinggi. Melihat tingginya harga cabai rawit, pemprov langsung berkoordinasi dengan empat pintu keluar masuk barang dan LIA untuk mengecek barang bersangkutan yang keluar. Kalau misalnya harga cabai rawit ini dikarenakan stok menipis maka gubernur bisa menghentikan pengiriman keluar daerah untuk memenuhi stok dalam daerah dulu.

Pemprov NTB juga terus berusaha untuk mencarikan penyelesaian persoalan ini baik jangka pendek, menengah, dan panjang. Yang perlu dilakukan memperluas sebaran penananam cabai rawit salah satunya dengan pemanfaatan lahan pekarangan. Termasuk mencoba menanam di luar musim. Menurutnya yang dilakukan dinas terkait dan Bank Indonesia Perwakilan NTB dalam meningkatkan produksi cabai rawit sudah banyak yang dilakukan.

a�?Tetapi memang hasilnya saja yang belum optimal,a�? tuturnya. (nur/r3) A�A�

Berita Lainnya

SKD Selesai, Formasi CPNS Lowong

Redaksi LombokPost

Jasad Bayi Membusuk di Bukit Korea

Redaksi LombokPost

Polda NTB Berikan Data Penyidikan ke Bareskrim

Redaksi LombokPost

Waspada Banjir Kiriman!

Redaksi LombokPost

Dinas Pendidikan Loteng Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost

Sukiman Ungkap Kekecawaan di Hari Pahlawan

Redaksi LombokPost

Bank Mandiri-Hiswana Migas-Pertamina Jalin Kerjasama

Redaksi Lombok Post