Lombok Post
Metropolis

Dunia Maya Banyak Sampahnya

DISKUSI PUBLIK: Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (kanan) bersama Bloger Matahari Timoer (tengah) dan Damar, seorang pegiat informasi publik berbicara dalam diskusi publik dan bedah film di Taman Budaya NTB, Minggu (15/1). SIRTU/LOMBOK POST

MATARAM – Dunia maya sejatinya merupakan produk kemajuan teknologi komunikasi. Namun kini, semakin banyak dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyebar fitnah, berita bohong atau hoax, ujaran kebencian, saling menjelekkan hingga sikap-sikap intoleran. Hal ini menjadi masalah serius yang berpotensi memecah persatuan bangsa.

a�?Dunia maya sekarang banyak sampahnya,a�? kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara saat diskusi film #Lentera Maya di Taman Budaya NTB, Minggu (15/1).

Ia tidak menafikan, jika berita hoax, konten-konten negatif kini semakin banyak menyesaki dunia maya.A� Seperti perang di media sosial, netizen saling serang satu sama lain. Tidak dalam rangka berkompetisi secara sehat, tapi mereka saling menjelekkan satu sama lain.

Tidak heran, total konten yang diblokir pemerintah mencapai 800 ribu. Konten ini tidak hanya berkaitan dengan hoax, tapi juga konten pornografi yang mendominasi. Sebab, Indonesia punya Undang-undang Pornografi, juga konten yang berkaitan dengan terorisme. Hal ini sesuai UU Anti Terorisme.

Selain itu ada juga konten terkait penipuan, perdagangan, peredaran obat dan sebagainya. A�Menurut Rudiantara, kebebasan yang terjadi di media sosial adalah kebebasan yang tidak diimbangi dengan rasa tanggung jawab. Pengguna media sosial semau-maunya melemparkan konten tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan.

Jadi, yang harus didorong ke depan adalah sikap kebebasan yang bertanggung jawab, baik tanggung jawab secara individu, masyarakat hingga pemerintah atas konten yang dilepas ke jagat maya.

Sebab teknologi internet sifatnya netral, bisaA� dipakai untuk kebaikan tapi bisa juga untuk hal negatif, tergantung orang yang menggunakan. Ibarat mata pisau yang bisa dipakai untuk memasak, tapi bisa juga untuk melukai orang. Demikian juga dengan internet, masyarkat bisa memanfaatkan untuk banyak hal positif, misalnya pengembangan usaha kecil menengah.

Melalui internet mereka bisa memperluas pangsa pasar. Memperbanyak jaringan persahatan dan sebagainya. Untuk itu, ia mendorong seluruh warga menggunakan internet untuk hal yang positif.

Untuk menekan berita hoax, netizen sebaiknya harus memastikan dahulu apakah informasi tersebut benar atau tidak. Kemudian harus ada pertimbangan apakah informasiitu bermanfaat atau tidak, baru dibagi ke teman yang lain. Sebab, di dalam Islam diajarkan jika menyebarkan berita bohong adalah bagian dari fitnah, dan melakukan fitnah hukumnya dosa. Jika tidak bermanfaat maka termasuk menggunjing dan tidak akan mendapat pahala.

Guna menghindari dampak buruk dan kejahatan di dunia maya, pemerintah telah membuat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). DimanaA� setiap orang bisa dijerat bila sembarangan menyebarkan berita fitnah. Tapi ia tidak ingin semakin banyak pengguna internet tersangkut kasus hukum karena UU ini.

Untuk itu, pihaknya akan terus menggencarkan sosialisasi. Bila ada kasus penyelesaian harus sama-sama. Netizen juga harus saling mengingatkan satu sama lain, dan komunitas pengguna internet atau media sosial juga harus memiliki kode etik dalam bermedia sosial.

Kedatangan Rudiantara ke Lombok juga untuk sosialisasi UU ITE tersebut. Lombok dipilih sebagai lokasi pertama karena di sini banyak kasus pelanggaran ITE yang bermunculan. Baru selanjutnya akan dilakukan sosialisasi ke daerah lain. a�?Karena jumlahnya banyak terkait pasal 27 ayat 3 itu (kasusnya) banyak,a�? kata Rudi.

Menurutnya, hal ini bagian dari literasi media bagi masyarakat, datang memberikan pemahaman kepada masyarakat. Data kasus sendiri tidak di Kominfo karena yang menangani masalah pelanggaran pasal-pasal tersebut adalah aparat penegak hukum. Tapi ia berharap, para pihak yang menjadi tersangka dalam kasus pelanggaran UU ITE tidak langsung ditahan, sebaiknya baru setelah vonis dilakukan penahanan.

Sementara itu, Pegiat Informasi Publik Damar mengatakan, obat yang paling ampuh untuk mengobati berita bohong atau hoax adalah jurnalisme. Jika jurnalisme cepat melakukan peliputan menangkap isu, maka ruang berita hoax akan semakin kecil. Kalaupun kepercayaan terhadap media terkadang memudar karena menjadi simpatisan pihak tertentu, tapi tugas jurnalisme tetap. Jurnalis tetap harus dijalankan fungsi persnya untuk menutup ruang hoax menyebar luas di masyarakat.

Baginya, semakin banyaknya konten intoleran di dunia maya adalah ujian bagi demokrasi. Karena cobaan dalam demokrasi adalah ketika berhadapan dengan orang yang tidak demokratis tapi memanfaatkan ruang demokrasi. a�?Mereka selalu mengatasnamakan demokrasi, padahal antidemokrasi,a�? ujarnya. (ili/r5)

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost