Lombok Post
Ekonomi Bisnis

Dorong Perbankan Punya Digital Branch

Ilustrasi

JAKARTA a�� Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengarahkan perbankan yang telah menerapkan layanan perbankan digital untuk membentuk digital branch. Itu merupakan kantor atau unit bank yang secara khusus menyediakan dan melayani transaksi dengan cara digital.

OJK kemarin mengumumkan Panduan Penyelenggaraan Digital Branch oleh Bank Umum melalui surat No S-98/PB.1/2016 yang bertanggal 21 Desember 2016. Panduan tersebut dikeluarkan mengingat tren masyarakat yang semakin sering memanfaatkan layanan e-channel perbankan. Artinya, aktivitas perbankan mandiri semakin disukai sehingga transaksi yang memanfaatkan jasa teller dan customer service terus berkurang.

a�?Kalau kita baca mengenai referensi perbankan dari industri teknologi, sekarang ini kita sudah masuk ke area omnichannel (multi saluran, Red). Jadi, kita cuma datang ke satu aplikasi jika butuh sesuatu. Satu channel bisa dipakai untuk berbagai macam aktivitas, mulai dari pembayaran, setor dan tarik tunai, dan lain-lain,a�? kata Deputi Komisioner Pengawasan Terintegrasi OJK Agus Edy Siregar di Jakarta kemarin (19/1).

Dia menjelaskan, panduan dari OJK itu adalah acuan bagi perbankan, nasabah, auditor, pengawas, dan semua pihak dalam memanfaatkan teknologi digital untuk layanan digital branch oleh bank umum. Digital branch dapat dibedakan menjadi tiga. Yaitu, kantor cabang pembantu (KCP) digital, kantor kas (KK) digital, dan gerai digital. KCP digital dan KK digital adalah digital branch yang setara dengan KCP maupun KK bank, tapi secara fisik terletak terpisah dari kantor konvensional bank. Jadi, cakupan layanan di kantor digital setara dengan layanan di KCP maupun KK.

Sedangkan gerai digital adalah digital branch yang secara fisik menyatu dengan kantor konvensional bank, baik kantor pusat, kantor cabang, KCP, KK, maupun kantor fungsional. Namun, cakupan layanan digitalnya hanya setara dengan layanan di KCP. Nasabah yang datang ke digital branch itu tidak perlu bertemu dengan pegawai bank. Sebab, berbagai keperluan transaksi sudah disediakan lewat e-channel di digital branch tersebut.

Beberapa bank telah menawarkan layanan perbankan yang mirip dengan digital branch. Bahkan, sejumlah bank telah menyiapkan teknologi yang lebih lanjut. Misalnya pendaftaran nasabah baru yang seluruh prosesnya menggunakan media elektronik milik nasabah atau banking anywhere. Bank harus mendapatkan izin dari OJK sebelum menyelenggarakan digital branch. Bank yang bisa mendirikan digital branch minimal berstatus bank umum kelompok usaha (BUKU) 2, sudah mencantumkan digital branch dalam rencana bisnis bank (RBB), dan mampu menunjukkan bukti kesiapan organisasi. Kesiapan itu menyangkut kebijakan dan prosedur, hasil analisis risiko, hasil analisis hukum, hasil audit, draf perjanjian dengan pihak ketiga, dan program perlindungan konsumen.

Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan I OJK Mulya E. Siregar membeberkan, jumlah nasabah pengguna e-banking (SMS banking, phone banking, mobile banking, dan internet banking) meningkat sebesar 270 persen dari 13,6 juta nasabah pada 2012 menjadi 50,4 juta nasabah pada 2016. Sementara itu, frekuensi transaksi penggunaan e-banking meningkat 169 persen dari 150,8 juta transaksi pada 2012 menjadi 405,4 juta transaksi pada 2016.

a�?Ini untuk (pengajuan dan pemrosesan, Red) kredit belum bisa ya. Ke depan harus bisa dilakukan. Untuk sampai ke sana, kita biasakan ubah perilaku masyarakat dulu. Bank harus buka dulu kantor digital. Jadi, di situ kita berhubungannya dengan mesin,a�? paparnya. Meski ditujukan untuk menyederhanakan transaksi, dia menyadari bahwa risiko yang paling tinggi ada pada proses know your customer (KYC). Hal itulah yang menyebabkan aktivitas perbankan yang lebih kompleks belum bisa tertangani di digital branch.

Mulya menjelaskan, pihaknya bersama perbankan masih mengembangkan pemrosesan aktivitas perbankan yang mudah. Misalnya konfirmasi transaksi yang menggunakan data biometrik. Bank juga harus menyediakan card reader untuk membaca data e-KTP. Untuk merekam dan melacak data nasabah, bank bisa memanfaatkan sidik jari ataupun retina mata nasabah. Jika masih membutuhkan kontak langsung, nasabah bisa melakukan video call dengan petugas bank. (rin/c11/sof/JPG/r3)

Berita Lainnya

ILBB-Ancora Foundation Bantu Korban Gempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Bank Mandiri-Hiswana Migas-Pertamina Jalin Kerjasama

Redaksi Lombok Post

Soft Opening Jannah Tour and Travel Meriah

Redaksi LombokPost

Masyarakat Didorong Gunakan Produk Lokal

Redaksi LombokPost

FWD Life Resmi Hadir di Lombok

Redaksi Lombok Post

Golden Palace Hotel Dikunjungi Wakil Duta Besar Australia

Redaksi Lombok Post

BI Sosialisasi Kartu GPN di Kota Bima

Redaksi Lombok Post

Distribusi Kartu Berlogo GPN Dekati Target

Redaksi LombokPost

Avian Brands Peduli Bangun Kembali Lombok

Redaksi Lombok Post