Lombok Post
Ekonomi Bisnis Headline

Grand Madani, Hotel dengan Konsep Syariah

KONSEP SYARIAH: Pegawai Hotel Grand Madani di Jalan Udayana Mataram di loby hotel kemarin (23/1). Hotel Grand Madani merupakan salah satu hotel berbasis syariah di NTB. Edy Gustan/Lombok Post

MATARAM – Grand Madani Hotel merupakan salah satu hotel di Mataram berbasis syariah. Hotel ini dikelola oleh Prasanthi Syariah yang juga mengelola sejumlah hotel ternama di Jakarta.

Hotel yang dimiliki oleh H Nur Fatah Reginata ini baru beroperasi Juni 2016 lalu. Hotel ini dioperasikan dengan mengedepankan ukhuwah Islamiyyah dan menerapkan sistem hunian yang sesuai tuntunan syariah. Seperti luas kamar yang sesuai dengan luas kamar Nabi Muhammad SAW, yakni 19,8 meter persegi, menyediakan perlengkapan salat, Alquran, penunjuk arah kiblat, hingga keran khsusus wudhu.

Manager Hotel Grand Madani Windiana Putra mengatakan, sebagai hotel standard bintang III, pihaknya memberikan pelayanan yang profesional bagi para tamu. Terdapat 56 kamar yakni kamar superior, delux, dan suit.

“Kami juga menyediakan ballroom berkapasitas 2000 orang, tiga ruang pertemuan dengan kapasitas 30 hingga 100 orang. Ada ATM beberapa bank, dan fasilitas parkir 24 jam,” ujar Windiana kepada Lombok Post kemarin (24/1).

Selain itu, pihaknya juga menyediakan fasilitas kolam renang untuk keluarga, restoran dengan kuliner bersertifikat halal dari MUI, serta dua musala. Meskipun hotel ini berlabel syariah, Windiana mengaku tidak sedikit tamu nonmuslim yang menggunakan fasilitas tersebut.

Hotel ini juga menerapkan pola pelayanan khusus bagi wisatawan atau tamu terutama perempuan yang berpakaian minim. Mereka mendapat pelayanan di ruang khusus oleh pihak hotel. Bahkan, untuk menuju ke kamar pun mereka diberikan kain Lombok untuk menutup aurat dan harus melalui rute yang disiapkan.

“Jadi nggak jalan begitu saja di tengah loby bagi tamu yang berpakaian minim. Toh selama ini nggak ada yang komplain dengan pola pelayanan seperti itu,” papar dia.

Sebagai hotel berbasis syariah, pihaknya juga tidak melayani permintaan mark up dana dari instansi manapun. Hal itulah yang disadari sebagai salah satu penyebab hotel tersebut jarang menjadi tempat pelaksanaan kegiatan oleh instansi pemerintah. Padahal, kata WindianaA� di satu sisi NTB sedang mempromosikan pariwisata syariah yang tentunya tidak sekadar konsep tapi harus dipraktikkan.

Dia berharap kondisi tersebut menjadi perhatian dari berbagai elemen masyarakat untuk menjadikan NTB sebagai salah satu daerah berbasis wisata syariah di Indonesia. Saat ini Hotel Grand Madani banyak menerima tamu dari Malaysia. Sedangkan untuk wisatawan nusantara, hotel ini menerima tamu dari Surabaya, Jakarta, Sumatera, dan Bandung.

“Kami juga menerapkan sistem komisi terbuka bagi biro perjalanan,” tandas dia.

Adapun untuk harga kamarnya berkisar antara Rp 450 ribu hingga Rp 1.1 juta. Pihaknya juga menerapkan sistem promosi untuk satu kamar seharga Rp 300 ribu hingga Maret 2017. Meskipun baru beroperasi, tingkat hunian kamar hotelnya mencapai 60 persen per bulan.

Ke depannya dia berencana untuk mengembangkan restoran, mina pendopo, dan menambah sajian kulinernya. Nantinya hotel ini akan menyajikan perpaduan antaraA� kuliner nusantara dengan kuliner Arab. Terlebih pihaknya akan melakukan promosi gratis ke Abudabi yang difasilitasi oleh Pemprov NTB. (tan/r3)

Berita Lainnya

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost