Lombok Post
NTB

Sayonara Mutiara

GERAFIK jpg.

Sebagai penghasil mutiara laut selatan terbaik di Indonesia, nama NTB kini dipertaruhkan. Perlahan, mutiara NTB memasuki fase surut. Banyak perusahaan gulung tikar. Titik-titik pengembangan menyusut. Alam yang tak lagi ramah dan maling yang biadab jadi musabab. Jika reaksi kita biasa-biasa saja, bukan tidak mungkin, kejayaan mutiara NTB tinggal cerita.

***

A�SUNYI membekap Gili Asahan, kala perahu yang kami tumpangi merapat di sisi utara. Kecuali deburan ombak, itu adalah pagi yang hening, Kamis, 12 Januari 2017.

Sebuah gudang tua menyambut di bibir pantai. Tembok gudang itu compang camping. Pintu-pintunya lapuk dimakan rayap. Tapi masih tertutup. Semak belukar meraja di mana-mana. Sementara tanting kayu berserakan tak terjamah.

Tepat di belakang gudang itu, ada bangunan dua lantai. Yang ini terlihat seram. Karena sepi, mungkin dedemit telah menjadikannya sebagai base camp. Soalnya, menatap bangunan itu, entah kenapa darah mendesir. Bulu kuduk juga berdiri. Mungkin juga halusinasi.

Di bagian selatan, 50 meter dari gudang, balai-balai panggung juga kosong melompong. Sisa-sisa kemegahan bangunan-bangunan itu masih terlihat.

Sepintas, rasanya tak ada kegiatan kehidupan di sini. Kecuali jaring bekas yang ditumpuk di salah satu pojok bangunan, pertanda pernah ada aktivitas. Itu bukan jaring biasa. Itu adalah jaring-jaring pengaman kerang mutiara. Kerang penghasil mutiara laut selatan dari golongan Pinctada Maxima. Namun, jaring itu sudah lapuk. Tak kuasa melawan waktu.

Masih ke arah selatan, nun di jarak 100 meter, menjorok ke laut, dari balai panggung, pada sebuah keramba apung akhirnya terlihat seorang yang tengah beraktivitas. Dari jarak dekat, ketahuan orang itu sedang membersihkan kerang mutiara yang membusuk.

Dermaga apung itu, terhubung dengan gudang dan balai panggung dengan dermaga kayu. Satu-satunya akses jalan ke sana. Tapi harus hati-hati, papan dermaga sudah mulai patah-patah di sana sini. Beberapa tiangnya sudah roboh. Beberapa sisi dermaga, bahkan nyaris ambruk.

Di ujung dermaga, masih di atas laut, sebuah tempat mirip rumah jaga berukuran 15 meter persegi dengan dinding kayu, berjendela kaca, dibiarkan tak terurus. Belakangan kami tahu, pada masanya, itu adalah tempat penimbangan mutiara ketika panen. Di sanalah gemerincing rupiah dimulai.

Mendekati keramba, bau amis bercampur anyir menyeruak. Terlihat koloni ulat sedang pesta pora di antara kerang-kerang yang membusuk di keramba yang tak terurus. Sementara di sekitarnya, kulit-kulit kerang yang tajam terserak. Menusuk-nusuk telapak kaki.

Selamat datang di Gili Asahan. Ini adalah pulau penghasil mutiara laut selatan dari NTB yang kesohor hingga ke seluruh dunia. Ini adalah pulau penghasil uang, di mana mutiara nan mahal dibudidayakan perusahaan-perusahaan nasional yang mempekerjakan para ahli-ahli asing terbaik. Hasil budidaya dan olahannya kemudian dijual dengan aneka produk yang harga satuannya bisa tembus ratusan juta.

Tapi, itu dulu. Dan sekarang, pulau berjarak 20 menit penyeberangan dengan perahu mesin tempel dari daratan Pulau Lombok di Kecamatan Sekotong Barat, Lombok Barat itu, adalah pulau mati.

Tak ada lagi gemerlap. Tak ada lagi senda gurau, derai tawa para pekerja. Tak ada lagi aktivitas para ekskutif perusahaan-perusahaan yang dulu berkantor dan tinggal di vila-vila mewah di sana. Tak ada lagi hilir mudik para peneliti terbaik dari Jepang untuk memacu kerang-kerang laut menghasilkan mutiara terbaik. Tidak ada lagi itu semua.

Deretan bangunan angker itu adalah saksi bisu kejayaan mutiara laut selatan di pulau yang masuk wilayah Desa Batu Putih tersebut. Dahulu, bangunan-bangunan itu adalah pusat pengolahan mutiara. Sebagian bagunan dipakai sebagai gudang, kantor, penginapan dan wisma bagi karyawan PT Aneka Mutiara, sebuah perusahaan nasional ternama.

Di awal 1990-an hingga 10 tahun kemudian, Gili Asahan menjadi pulau kecil yang super sibuk. Aktivitas budidaya, pengolahan dan penjualan mutiara membuat pulau yang dihuni 38 kepala keluarga ini benar-benar bergairah kala itu. Pulau ini tak ubahnya semacam surga yang dipenuhi butiran mutiara laut selatan. Dan kesanalah para pengusaha kakap tanah air memburu mutiara-mutiara laut selatan terbaik. Mutiara yang tak akan ditemukan di tempat lain.

Kenangan masa jaya itu masih melekat dalam ingatan warga setempat. Termasuk Nahiq, salah seorang nelayan yang kini banting setir menjadi pengantar wisatawan setelah usaha-usaha mutiara di sana gulung tikar. a�?Di sini dulu hampir tidak pernah sepi,a�? kenang Nahiq, yang kini tinggal di Gili Gede, pulau tetangga Gili Asahan.

Agus Suhadi, ketua RT 06 Gili Asahan menuturkan, kala aktivitas perusahaan sedang jaya, nyaris mereka tak mengenal kesusahan hidup. Tak ada warga yang menganggur. a�?Jangankan yang bekerja di perusahaan. Yang tidak bekerja saja bahkan bisa berkecukupan makan,a�? kenang Agus soal masa kejayaan itu.

Saat itu, makanan dan segala macam kebutuhan bisa didapatkan di perusahaan. Dan itu semua gratis. Meski bukan karyawan, warga setempat tidak pernah dilarang mengambil makanan di sana.

a�?Kalau dulu aih…nasi sampai-sampai dibuang, daging segala macem itu,a�? kata Agus tersenyum.

Ada tiga perusahaan yang beroperasi saat itu. Selain Aneka Mutiara, ada Budaya Mutiara dan Bunapel. Keberadaan perusahaan mutiara ini benar-benar membawa berkah. Setiap tahun warga selalu mendapat jatah sumbangan dari perusahaan, baik berupa beras, gula, minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya. Tiap Hari Raya Idul Adha, warga juga mendapat empat kambing. Dan warga rowah atau berpesta.

Tidak hanya itu, setiap kali panen mutiara, warga tetap mendapat jatah daging kerang. Sebab waktu itu, perusahaan melakukan semua proses produksi di Gili Asahan, mulai dari budidaya, panen hingga pengolahan mutiara. a�?Tapi kalau sekarang, ya seperti ini…,a�? kata Agus merenung.

A�Dari Terang Jadi Gelap

Mardikun, warga setempat yang menjadi salah seorang karyawan menuturkan, ia mulai bekerja sejak perusahaan mulai beroperasi di awal 1990-an. Meski hanya sebagai penjaga malam dan tukang kebun, tapi untuk pekerjaan itu, dia dibayar tinggi. a�?Sebulan pendapatan saya bisa Rp 1 juta,a�? katanya. Uang sebesar itu kala itu sangat banyak. Karena harga beras masih di bawah Rp 500 per kilogram.

Haris, warga lain menuturkan, kampung Gili Asahan kala itu juga adalah kampung yang terang benderang. Perusahaan memasang lampu di mana-mana. Sehingga, kalau malam menjelang, warga masih tetap leluasa beraktivitas. a�?Kalau sekarang justru kondisinya gelap gulita,a�? katanya. Layanan sistrik dari PLN memang belum menjangkau ke pulau ini.

Dan kini, kemewahan-kemewahan itu hanya tinggal kenangan. Kondisi Gili Asahan, berbalik 180 derajat. Tahun 2003, satu per satu perusahan mutiara gulung tikar. Denyut Gili Asahan pun melambat. Berujung sepi, dan kini kembali seperti pulau mati.

Karyawan yang tadinya ramai angkat kaki. Hanya Aneka Mutiara saja yang masih beroperasi dengan nama baru yakni PT Pundi-Pundi II Lumbung Pertiwi. Tapi aktivitasnya tidak seperti dulu lagi. Perusahaan hanya melakukan budidaya kerang mutiara saja di Asahan. Begitu kerang sudah besar, hasilnya dibawa ke Padaguar, Lombok Timur, sampai panen.

Menurut Agus, salah satu alasan perusahaan pindah adalah faktor keamanan. Perusahaan beberapa kali dijarah rampok. Ketika hendak panen, pencuri beraksi. Ratusan bahkan ribuan biji mutiara dijarah garong. Petugas keamanan diikat lalu mereka masuk dan mengambil semua mutiara.

Dan warga setempat tak punya pilihan lain. Ya, hidup kan memang harus tetap berjalan. Dan mereka kembali fokus melaut mencari ikan. Profesi yang ditinggalkan nenek moyang mereka sebelumnya.

Ada juga warga yang tak tahan. Banyak bahkan. Mereka akhirnya memilih eksodus ke luar pulau. Pindah ke Lembar, Gerung, Sekotong, dan daerah lain di sekitar. Aktivitas pendidikan pun ikut sepi, karena banyak anak ikut orang tua. Bangunan sekolah yang dibangun pemerintah di sana kini bahkan hampir ambruk. Tak ada perhatian pada sekolah itu. Guru pun jarang datang karena jumlah siswa sedikit. Apalagi sekolah di Gili Asahan hanya sekolah cabang SDN 4 Batu Putih, sehingga jarang dikunjungi kepala sekolah.

a�?Sekarang murid paling banyak 12 orang. Dulu saya malah hanya enam orang,a�? kata Agus.

Belakangan, seiring dengan menggeliatnya dunia pariwisata NTB, Gili Asahan mulai dilirik. Banyak wisatawan yang ingin berkeliling ke gili-gili, sehingga peluang ini dimanfaatkan nelayan dengan menyewakan perahunya. a�?Yang punya sampan bisa antar tamu ke Gili Gede, Gili Layar untuk snorkeling,a�? kata Agus.

Saat ini, rata-rata sehari warga bisa mendapatkan Rp 100 ribu per hari dari ngojek laut, mengantar ternak maupun wisatawan. Sehingga rata-rata sebulan warga bisa mendapat Rp 3 juta. Bedanya, harga kebutuhan pokok sudah selangit. Sehingga, dengan pendapatan sebesar itu pun, kehidupan warga Gili Asahan tetap kembang kempis.

A�Perusahaan Banyak Kolaps

Matinya Gili Asahan menjadi gambaran betapa industri mutiara di NTB memang sedang memasuki fase surut. Meski terlihat menjanjikan, namun banyak pengusaha mutiara gulung tikar karena tidak mampu bertahan. Data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB menunjukkan dari 14 perusahaan yangA� terdaftar tahun 2013, yang mampu bertahan hingga saat ini hanya delapan perusahaan. Bandingkan dulu, kala tahun 1990-an di kala ada 34 perusahaan di NTB.

Akibatnya, Rumah Mutiara Indonesia yang dibangun pemerintah semenjak 2012 lalu, hingga kini pun tak bisa berfungsi. Padahal bangunan itu begitu mentereng di depan Lombok Internasional Airport. Di sana, bahkan sempat digadang-gadang akan ada pasar lelang mutiara tiap tahun. Nyatanya, hingga kini, tak pernah bisa terwujud. Apa yang hendak dilelang? Produksi perusahaan mana yang akan dilelang?

Mereka yang bertahan sebagian besar merupakan perusahaan yang fokus berbisnis mutiara dengan jaringan pasar yang jelas. Seperti PT Autore Pearl Culture yang beroperasi dari hulu sampai hilir. Juga ditopang modal besar dan memasarkan mutiara Lombok hingga ke Eropa.

Autore, perusahaan asal Australia ini tetap eksis karena membidik pasar ekspor. Berpusat di Australia, Autore memiliki enam cabang di NTB. Ada di Lombok Utara, Lombok Barat, Labuan Pandan dan Tanjung Ringgit Lombok Timur, Taliwang, Sumbawa Barat dan Lape, Sumbawa.

Manajer Autore Lombok Utara Ion Suseno kepada Lombok Post mengungkapkan, di Gumi Dayan Gunung, Autore fokus pada pembenihan dan pembesaran. Sedangkan untuk tahap penanaman inti mutiara kerang akan dibawa ke daerah lain seperti Sekotong dan Lombok Timur.

a�?Kita memang membagi lokasi, ada tempat-tempat khusus tidak bisa di satu lokasi dilakukan dari tahap awal hingga akhir,a�? ujarnya.

Dibutuhkan empat tahun untuk bisa panen mutiara pertama kali. Dua tahun pertama kerang akan dipelihara, kemudian dilakukan proses penanaman inti mutiara. Setelah inti mutiara ditanam, maka dibutuhkan waktu lagi dua tahun sebelum dipanen.

a�?Setelah dipanen, kerang yang hasilnya bagus tidak dibunuh dan diisi inti mutiara sebesar hasil panen. Nanti tinggal nunggu dua tahun lagi,a�? paparnya.

Untuk biaya produksi atau operasional yang dibutuhkan untuk seluruh proses dari awal hingga akhir sedikitnya Rp 2,5 miliar hingga Rp 3 miliar sebulan. a�?Dalam setahun kita punya target produksi 300 ribu butir,a�? katanya.

Jarang target meleset. Kecuali ada kendala besar terkait cuaca. Dan target produksi terus meningkat. a�?300 ribu butir itu sekitar 200 kilogram. Dalam setahun pemasukan puluhan miliar,a�? ungkapnya.

Hasil panen mutiara dari NTB dibawa ke kantor pusat di Australia. Selanjutnya dari Australia diekspor ke sejumlah negara seperti Eropa, Jepang, dan Hongkong. Untuk mutiara yang sudah diproses menjadi perhiasan akan dikirim langsung dari Australia. a�?Tinggal kita minta di sini kebutuhannya perhiasan apa saja dari pusat langsung mengirim,a�? katanya.

Seno menjelaskan, mutiara yang dihasilkan dari grade A hingga C. Dimana grade A merupakan grade yang paling tinggi mutunya. Untuk harga mutiara yang dijual berkisar antara Rp 300 ribu hingga puluhan juta. a�?Kalau yang sudah diproses jadi perhiasan ada yang sampai Rp 180 juta,a�? katanya.

Lebih lanjut, Seno menilai kebanyakan pengusaha mutiara gulung tikar dikarenakan kekurangan modal. Proses dari awal hingga akhir sangat membutuhkan dana yang besar. Belum lagi apabila kerang kondisinya tidak bagus dan rusak sehingga tidak menghasilkan mutiara. a�?Di sini saja kalau ada kerang yang tidak berkembang harus membeli dari pihak lain,a�? ungkapnya.

Perusahaan Kecil Nekat

Sementara perusahaan kecil-kecil yang bertahan adalah perusahaan lokal dengan produksi dan omzet yang tak besar. Kondisi mereka kadang manis. Tapi banyak pahitnya juga.

Seperti Muharar, salah seorang pengusaha mutiara di Sekarbela yang memiliki industri kecil menengah (IKM) mutiara dengan nama Ragenda Mop. Ia mengaku bertahan dengan susah payah karena ingin mempertahankan eksistensi mutiara NTB yang masih baik. a�?Sayang kan. Kita sudah punya nama yang cukup bagus,a�? katanya.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat pengusaha kolaps. Di antaranya ongkos produksi cukup besar, terutama dengan kenaikan harga bahan bakar minyak. Selain itu, kerawanan tingkat kehidupan bibit mutiara juga sangat rentan. Dia ambil contoh. Bila menurunkan larva sebanyak 500, belum tentu semuanya bisa hidup. a�?Kalau hidup 100 sudah alhamdulillah. Hanya 20 persen yang bertahan,a�? katanya.

Ketersediaan induk mutiara yang bagus juga menjadi masalah bagi para pengusaha. Sebab, untuk mendapatkan bibit tiram atau larva yang baik, maka dibutuhkan induk kerang yang bagus. Selain itu, kondisi alam juga berpengaruh terhadap penurunan produksi mutiara. Dan kata Muharar, kondisi ini terjadi di seluruh Indonesia.

Salah satu cara ia bisa bertahan adalah harus mengolah bisnis mutiara dari hulu ke hilir. Sebab, jika hanya menjual mutiara saja, maka akan sulit mereka bisa bertahan lama. Untuk itu, selain menjual mutiara, Ragenda Mop juga melakukan budidaya. Mulai dari pembibitan, pembesaran, panen, pengolahan hingga penjualan mutiara.

Tidak berhenti sampai di situ, ia pun kembali mengolah kerang bekas mutiara menjadi berbagai macam perhiasan, cendera mata dan sebagainya. Sehingga memiliki nilai tambah dan mendatangkan keuntungan.

a�?Tidak bisa kita jual mutiara saja, tapi limbahnya pun harus kita manfaatkan,a�? katanya.

Bila tidak menggunakan pola ini, ia tidak yakin bisa bertahan. Sebab, dalam bisnis mutiara, perusahaan juga membutuhkan bahan baku. Bila bergantung pada pihak lain, maka suatu saat akan kesulitan mendapatkan bahan baku.

Untuk menghasilkan satu butir mutiara dibutuhkan waktu sekitar 2-3 tahun. Satu kerang bisa dipakai maksimal tiga kali produksi untuk kualitas yang terjaga. Setelah itu, kualitas mutiara yang dihasilkan kian menurun.

Secara umum, untuk menghasilkan satu butir mutiara, dibutuhkan biaya sedikitnya Rp 80 ribu mulai dari awal hingga panen. Hanya saja, lantaran memelihara mutiara sepenuhnya bergantung pada alam, saat panen, belum tentu balik modal.

Sebab, jika kualitas mutiara yang dihasilkan jelek, maka paling banter harga satu butir mutiara hanya Rp 10 ribu. Sehingga potensi rugi bisa mencapai Rp 70 ribu per satu kerang. Kecuali kalau sedang untung dengan kualitas bagus, satu butir mutiara bisa laku dijual Rp 100 hingga Rp 150 ribu. a�?Inilah tantangan besarnya,a�? kata dia.

Karena itu, kalau tak ingin rugi, pembudidaya mutiara haruslah telaten. Perawatan adalah keharusan. Karang baru disuntikkan nukleus saat berumur satu tahun. Tapi perawatan seperti pembersihan tak boleh terhenti selama 1-2 tahun.

A�Diserbu Mutiara Cina

Di kala pamor mutiara laut selatan meredup, NTB justru diserbu mutiara dari China. Katanya, itu adalah mutiara air tawar. Ada pula mutiara buatan yang disebut shell.a�?Mutiara air tawar itu dari luar. Biasanya Cina,a�? kata Indah Purwanti, owner Indah Mutiara Lombok (IML) yang ada di Jalan Bung Karno, Mataram.

Secara kualitas, jelas mutiara air laut nomer wahid. Mutiara ini memiliki cahaya yang beda dengan pesaingnya, dengan aneka warna yang juga snagat indah, bentuk yang kokoh, namun tetap sangat natural alias alami.

Jika dihadap-hadapkan, satu mutiara air laut bisa seharga tiga bahkan lima mutiara air tawar. a�?Kkalau yang air laut itu sangat simple karena memang mahal,a�? ujarnya.

Untuk mutiara air tawar, ia biasa menjual pada kisaran ratusan ribu hingga beberapa juta saja. Sedangkan untuk mutiara air laut, salah satu kalung yang dipajang di showroom-nya dibanderol Rp 25 juta.

Lantas bagaimana dengan mutiara buatan shell? Jenis yang satu ini adalah yang paling murah. Namun, karena buatan, banyak kekurangan. Misalnya bisa tergores, tak seperti mutiara air tawar atau air laut yang anti gores. Karena buatan manusia, mutiara shell juga cenderung terlalu sempurna. Bentuknya bisa sangat bulat dengan warna yang sangat bersinar dan memesona. a�?Beberapa konsumen yang tak jeli, ada juga yang tertipu,a�? sambung Indah.

Rini Andarstuti, owner Citra Mutiara di Jalan Sultan Kaharudin, Sekarbela mengatakan, belakangan ini dirinya agak aneh dengan reseller dan pembeli-pembeli baru yang mencari mutiara shell padanya. a�?Katanya murah meriah,a�? Rini menirukan.

Hal itu ada benarnya, namun yang tak banyak diketahui konsumen adalah, apa itu shell sebenarnya. Ada yang menjawab mutiara air tawar, sebagian lain tidak terlalu paham, bahkan ada yang mengatakan mutiara kerang dan mulus.

Mutiara shell adalah mutiara murni olahan manusia yang berasal dari bubuk kulit kerang bekas yg sudah tidak terpakai. Barang itu lantas dipadatkan berbentuk bola, kemudian dilapisi kutek berwarna-warni sehingga tampak mulus dan berkilau. Mutiara shell bisa didapat dengan harga Rp 20-50 ribu saja perbiji. Mutiara jenis ini sangat mudah tergores. Namanya juga buatan.

Perajin mutiara lain, H Muchlis atau karib dipanggil Rony salah satu pedagang mutiara di kawasan sentra mutira dan emas Sekarbela mengaku, betapa saat ini usaha mutiara sedang meredup.

A�a�?Saat itu masih sepi. Hanya saya sendiri yang jualan mutiara,a�? kata Rony yang sudah menggeluti usaha ini 18 tahun.

Tapi bagi dia, turunnya jumlah pembeli mutiara semata-mata karena jumlah penjual mutiara memang yang sudah menjamur. Dinilainya tidak ada pengaruh dengan masuknya produk mutiara plastik dari China.

a�?Segmentasi pasar mutiara asli dan palsu ini beda. Orang kalau mau cari yang laut (mutiara asli) ya berapapun harganya pasti mau. Tapi kalau ndak mampu mereka pasti cari yang murah,a�? terangnya.

Ia bahkan menganggap mutiara air laut dan mutiara buatan itu, justru menambah varian. Dulu, kenangnya lagi, ketika hanya ada mutiara laut, kalau uang pembeli tidak cukup membeli mutiara asli, biasanya langsung pergi. a�?Tapi kalau ada pilihan yang murah bisa beli yang Rp 75 ribuan, sampai modalnya cukup,a�? sambungnya.

Masa jaya permintaan mutiara air laut pernah terjadi pada 2001 sampai tahun 2005. a�?Di tahun itu, saya tidak tahu apa penyebabnya, permintaan mutiara laut cukup tinggi,a�? ungkapnya.

A�Secercah Harapan

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Lalu Hamdi mengatakan, dari sekian banyak perusahaan, mereka terseleksi secara alam dan sekarang yang aktif hanya delapan perusahaan.

Tapi kini ada secercah harapan. Ada permintaan penambahan lokasi budidaya Autore di Sekotong dan Sumbawa, dan satu lagi perusahaan baru berencana akan membuka usaha di Lombok Utara. Dengan kondisi ini ia berharap pada tahun berikutnya perkembangan usaha mutiara akan kembali bergairah.

Menurutnya, banyak hal yang menyebabkan mereka tutup seperti manajemen perusahaan, jaringan pasar dan juga faktor alam. Sebab, ada tiga hal yang memengaruhi produksi mutiara, yakni dari kualitas induk dan benih. Kedua dari SDM dan ketiga kondisi alam. Meski demikian, potensi mutiara di NTB masih cukup besar sehingga terus dilakukan promosi. Produksi tahun 2016 mencapai 536A� kilogram (kg), ada peningkatan dari tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, potensi ruang laut untuk budidaya di NTB seluas 54 ribu hektare, 25 persen di antaranya untuk mutiara, sisanya untuk budidaya rumput laut dan ikan. Bahkan potensi ruang laut ini bisa bertambah menjadi 74 ribu hektare seiring adanya 380 pulau baru potensial di NTB.

Untuk mendorong agar investasi di sektor mutiara kembali menggeliat, pemerintah berupaya memberikan kemudahan informasi terkait lokasi yang cocok untuk budidaya mutiara. Sementara terhadap masyarakat, dinas kelautan juga sedang mendorong mereka terlibat dalam budidaya mutiara, khususnya dalam penyiapan benihnya.

Mereka dibina menjadi kolektor, memelihara di laut selama delapan bulan sudah bisa mendapatkan benih berukuran 7-8 cm, setelah itu baru disalurkan kepada pengusaha pembudidaya mutiara untuk dilanjutkan sampai dengan panen. Pembinaan ini sudah dilakukan terhadap beberapa kelompok masyarakat di LombokA� dan Sumbawa.

a�?Ini akan mensuport bibit yang dibutuhkan perusahaan,a�? katanya.

Dengan dipeliharanya benih oleh perusahaan, maka benih tersebut akan lebih terjamin tetap hidup. Sebab, perusahaan sudah memiliki struktur manajemen, mulai dari petugas keamanan, buruh, manajer dan sebagainya sehingga benih mutiara akan dipelihara dengan baik. Pihaknya belum bisa memberikan masyarakat untuk budidaya dari awal sampai akhir karena tidak mudah, apalagi tidak ditunjang dengan SDM yang memadai. a�?Lama, sulit dan mahal,a�? tandasnya. (ili/yuk/zad/r8)

Berita Lainnya

Pajabat Daerah Bisa Lebih “Kebal”?

Redaksi LombokPost

Perang saat Ini Adalah Melawan Kemiskinan

Redaksi LombokPost

DKP Klaim Tidak Terlibat Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Kapal Nelayan

Redaksi LombokPost

Petakan Daerah Rawan ISPA dan Diare

Redaksi LombokPost

Baru Satu Kabupaten Ajukan UMK

Redaksi LombokPost

Sejumlah Tokoh Berpeluang Menyusul Maulana Syeikh

Redaksi LombokPost

ASN Tuntut Perbaikan Kesejahteraan

Redaksi LombokPost

Satu Juta Ton Hilang, BPS Jamin KSA Lebih Akurat

Redaksi LombokPost

Pajabat Daerah Bisa Lebih “Kebal”?

Redaksi LombokPost