Lombok Post
Metropolis

Eksekusi Cilinaya, Tura Menghadap Pusat

PERLU SOLUSI: Deretan bangunan yang menyalahi aturan di kawasan Cilinaya, kemarin (29/1). Pemkot Mataram tengah menggodok solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Ivan/Lombok Post

MATARAM – Lama terkatung-katung tanpa kejelasan, 36 bangunan yang menyalahi aturan di kawasan Cilinaya segera teratasi. Pemkot Mataram yang semula tampak kebingungan, kini memiliki formulasi penyelesaian.

a�?Sudah ada solusi, segera kami menghadap pusat,a�? kata Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Mahmuddin Tura.

Pihaknya harus menghadap pusat lantaran masalah tersebut sudah melibatkan pemerintah pusat. Akhir tahun lalu, sejumlah utusan khusus datang ke Mataram untuk mengecek bangunan-bangunan pedagang yang menyalahi aturan. Plang larangan berjualan di pasang, karena bangunan berjajar sejauh beberapa ratus meter itu ada tepat di atas saluran air.

a�?Ini salah, tak boleh dibiarkan,a�? kata Kasubdit Penertiban Pemanfaatan Ruang Wilayah IV Kementerian Agraria dan Tata Ruang M Darmun saat berkunjung akhir tahun lalu.

Dia menegaskan, Pemkot Mataram tak boleh tinggal diam. Pemerintah menurutnya punya kewenangan dan wajib menindak setiap pelanggar. Semua itu semata untuk ketetiban kota. Terlebih bangunan yang ada di atas saluran itu terbukti mengurangi kemampuan saluran untuk menampung dan mengalirkan air, lubang-lubang pemeriksaan juga tertutup rapat.

a�?Ini bentuk dukungan pusat pada daerah,a�? katanya.

Saat menghadap pusat, Tura bakal membawa sejumlah opsi penyelesaian. Rencana pertama mendorong bangunan tersebut ke area Pura Dalam Karang Jangkong yang berada tepat di belakang tempat berdagang saat ini. Selanjutnya memasukkan 36 pedagang tersebut ke dalam area Mataram Mall yang ada di seberang jalan. Opsi lainnya adalah dengan merubah dan menata ulang saluran drainase yang ditutupi. Rencananya saluran dibuat di bagian depan pedagang, selanjutnya pedagang didorong agak muncur beberapa meter. Opsi terakhir adalah bongkar total alias penggusuran paksa.

a�?Tapi opsi keempat ini agak sulit, sejarah Mataram juga tak terbiasa main gusur-gusur itu,a�? ujarnya.

Sedangkan untuk opsi pertama dan kedua, pedagang diyakini kesulitan memenuhi biaya sewa jika jadi dipindah ke Pura Dalam atau Mataram Mall. Bahkan ada kemungkinan penolakan dari pihak pura yang hingga kini belum disurati resmi. Hal itu berkaca kasus serupa terhadap rencana sebuah hotel meminjam halaman pusar untuk lokasi parkir belum lama ini.

Sehingga, opsi paling memungkinkan adalah mengatur ulang saluran yang tertutup, merekayasa sedemikian rupa hingga tak ada lagi bangunan di atas saluran. Dengan demikian, pedagang tetap bisa berjualan, saluran kembali normal, dan paling penting tak ada lagi pelanggaran di area itu. a�?Condongnya kita pada opsi itu, saya akan sampaikan dulu ke pusat,a�? tukasnya. (yuk/r3)

Berita Lainnya

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Pol PP Mengeluh Lagi

Redaksi LombokPost

Evi: Kasihan Pak Sudenom

Redaksi LombokPost

Yang Lolos TKD Jangan Senang Dulu!

Redaksi LombokPost

Sekolah Sesak, ABK Terdesak

Redaksi LombokPost