Lombok Post
Giri Menang Headline

Susahnya Bisa Sekolah di Gili

DEMI ILMU: Deden Faisalman, siswa SMKN 2 Pelangan saat pulang ke rumahnya di Dusun Orong Bukal, Desa Gili Gede Indah, Jumat (28/1) lalu. Karena di gili tidak ada sekolah menengah, setiap hari ia harus pulang pergi ke sekolah menggunakan sampan kecilnya yang berjarak puluhan kilometer. SIRTU/LOMBOK POST

GIRI MENANG – Terbatasnya akses pendidikan masih menjadi masalah serius bagi warga yang tinggal di gili-gili di NTB. Para siswa harus berjuang keras untuk bisa mendapatkan hak pendidikan. Tidak jarang mereka harus menantang maut demi mendapatkan ilmu.

Seperti yang dialami para siswa di Desa Gili Gede Indah, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Satu-satunya sekolah di sini hanya SDN 1 Gili Gede Indah, atau SDN SMPN satu atap 2 Sekotong. Dengan fasilitas sangat terbatas seperti ruang kelas, buku bacaan, dan tanpa listrik para siswa belajar seadanya.

Tidak hanya itu, bagi mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah, mereka harus siap-siap keluar dari pulau, setiap hari harus bolak balik menyeberangi lautan. Bila cuaca ekstrem, mereka kadang tidak bisa berangkat sekolah, tapi mereka yang bersemangat tetap berangkat demi menuntut ilmu.

Seperti Deden Faisalman, salah seorang siswa SMKN 2 Pelangan. Setiap hari, ia harus bolak balik menyeberangi lautan menggunakan sampan kecil miliknya. Berangkat pagi dari Dusun Orong Bukal, Desa Gili Gede Indah dan pulang siang, bila ombak besar ia harus ekstra hati-hati agar tidak tenggelam.

Tapi, karena sudah terbiasa hidup di laut, ia mengaku tidak terlalu khawatir. Hebatnya, siswa jurusan perhotelan ini membuat desain perahunya sendiri yang khusus digunakan sebagai kendaraan ke sekolah.

Anak sulung dari dua bersaudara ini mengaku sudah biasa melawan gelombang. Tapi demi ilmu, baginya tidak masalah walau harus menantang maut. Sebab putra Amaq Armi dan Inaq Sumi ini mengaku ingin menuntut ilmu agar bisa sukses kelak.

Dengan mengambil jurusan perhotelan, ia berharap bisa mengembangkan pariwisata di kampungnya.

Kondisi lebih parah juga dialami para siswa di Gili Asahan. Gili ini hanya memiliki sebuah sekolah cabang, yakni sekolah cabang SDN 4 Batu Putih. Karena hanya sekolah cabang, para siswa yang belajar di tempat ini kerap diabaikan. Karena sangat jarang ada guru yang mau datang mengajar di sini. Bahkan kepala sekolah pun hampir tidak pernah datang melihat kondisi para siswa.

a�?Kami tidak menuntut harus datang setiap hari, tapi minimal sekali seminggu, tapi kepala sekolahnya tidak pernah mau datang,a�? keluh Agus Suhadi, ketua RT 06 Gili Asahan.

Karena jarang diperhatikan, bangunan sekolah pun hampir ambruk. Menurut Agus, guru dan kepala sekolah mungkin malas datang karena murid di kampungnya tidak pernah banyak. Maksimal hanya 12 orang. Kadang murdinya hanya enam atau lima orang.

Meski demikian, anak-anak di kampungnya juga membutuhkan pendidikan yang layak agar mereka tumbuh menjadi manusia pintar. (ili/r5)

 

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Harga Kedelai dan Kacang Tanah Melonjak

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Tiga Desa dan Dua Sekolah Diaudit Khusus

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost