Kriminal

Penggeledahan Rumah Gatot Dinilai Tak Sesuai Prosedur

MATARAM – Terdakwa penyalahgunaan narkoba Gatot Brajamusti menjalani sidang ketujuh di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, kemarin (30/1). Sidang kali ini, tim kuasa hukum terdakwa menyoroti proses penggeledahan yang dinilai tidak sesuai prosedur.

Juru bicara tim penasihat hukum (PH) terdakwa, Irfan Suryadinata mengatakan, hukum pidana tidak saja menjunjung tinggi asas pembuktian materiil pada persidangan, tetapi juga prosedural. Menurut dia, dalam setiap proses yang dilakukan aparat harus sesuai ketentuan hukum.

Untuk perkara kliennya, tim kuasa hukum menilai polisi tidak menjalani prosedur yang tepat. Terutama saat melakukan penggeledahan di kediaman Gatot di Jakarta Selatan.

Irfan melanjutkan, penggeledahan tersebut dilakukan hanya berdasarkan perintah atasan. Sedangkan surat izin penggeledahan dari pengadilan, dikantongi polisi usai dilakukan penggeledahan.

Seharusnya, kata dia, polisi mengantongi surat izin dari pengadilan sebelum menggeledah kediaman Gatot di Jakarta Selatan. a�?Kita beracara sesuai dengan KUHAP, itu ada aturannya. Kita mau masuk ke rumah orang untuk menggeledah, harus ada izinnya,a�? kata dia.

Menurut Irfan, surat dari pengadilan dianggap penting bagi tim kuasa hukum Gatot. Sebab, posisi saat penggeledahan itu, bukan dalam keadaan mendesak. Di mana penggeledahan bisa dilakukan lebih dulu tanpa mengantongi surat izin penggeledahan.

a�?Bisa menggeledah tanpa surat izin kalau mendesak. Tapi posisi saat itu kan tidak begitu,a�? ujarnya.

a�?Kekhawatiran jika klien kami bisa menghilangkan barang bukti juga tidak masuk akal, sebab Gatot bersama keluarga saat itu berada di Mataram,a�? tambah dia.

Lebih lanjut, Irfan mengatakan, ketiadaan surat izin dalam penggeledahan akan dimanfaatkan tim kuasa hukum untuk meringankan hukuman Gatot. a�?Ini bisa jadi celah untuk meringankan,a�? ujar dia.

Selain itu, dalam keterangan saksi dari kepolisian Polres Jakarta Selatan, mereka menyatakan tidak mengetahui apakah barang bukti yang ditemukan itu positif narkotika jenis sabu atau tidak. Sebab, saat proses tersebut mereka hanya bertugas untuk mengamankan barang bukti yang ditemukan.

a�?Saat pengecekan di laboratorim, mereka tidak mengikuti. Jadi tidak tahu apakah itu benar sabu yang diamankan atau tidak,a�? beber dia.

Terlepas dari itu, Irfan mengaku tak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan terkait hasil perkara kliennya. Yang pasti, sambung dia, mereka hanya ingin kebenaran dalam proses perkara Gatot terbuka di pengadilan.

a�?Kita mencari seluruh kebenaran. Tidak bisa sebagian aspek saja yang benar, tapi yang lainnya menyalahi prosedur,a�? tandasnya.

Sementara itu, jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejati NTB Ginung Pratidina mengatakan, terdapat dua kali penggeledahan yang dilakukan di kediaman terdakwa. Yakni, penggeledahan di kamar tidur dan brangkas milik terdakwa.

Pada penggeledahan pertama di kamar tidur, merupakan penggeledahan dan penyitaan secara umum. Namun, beberapa barang yang di sita, rupanya tidak memiliki kecenderungan dengan tindak pidana yang dilakukan terdakwa.

a�?Tetapi penyidik patut menduga bahwa barang-barang itu dijadikan fasilitas untuk mengkonsumsi narkoba. Jadi semua barang yang patut diduga itu diamankan,a�? ujarnya.

Untuk penggeledahan kedua, lanjut dia, disebut Ginung telah memenuhi prosedur. Sebab saat itu, terdakwa didampingi kuasa hukumnya, termasuk kehadiran penyidik dari kepolisian NTB.

a�?Itu dihadiri juga terdakwa dengan kuasa hukumnya,a�? pungkas dia. (dit/r10)

Related posts

Hadeha��Suami Istri Kompak Maling Motor

Iklan Lombok Post

Polisi Cek Fisik Tanggul

Redaksi Lombok post

Kapan Selesai Ngitungnya?

Iklan Lombok Post