Lombok Post
Feature

Punya Lima Panti, Semua Tak Layak Huni

Panti: Kondisi panti asuhan Tunas bangsa yang tak layak Namun Tetap Berfungsi yang Berlokasi di Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru Jumat 27-1-2017 foto Sakiman / Riau Pos

Kasus meninggalnya anak balita M. Zikli, 18 bulan, di Panti Asuhan Tunas Bangsa Pekanbaru, Riau, menyeret sang pemilik, Hj Lili Rachmawati. Perempuan yang dikenal sebagai ratu panti sosial itu ditetapkan sebagai tersangka kasus tersebut.

***

SEOLAH tak merasa bersalah, Lili Rachmawati terlihat tegar saat Selasa dini hari kemarin (31/1) polisi menetapkannya sebagai tersangka dan menjemputnya. Dia dijerat pasal tindak kekerasan hingga menghilangkan nyawa seseorang.

a��a��Saya diancam. Keluarga (korban) meminta Rp 50 juta kepada saya. Tapi, saya tidak membunuhnya,a��a�� tutur Lili menjawab pertanyaan wartawan saat digiring ke sel tahanan Polresta Pekanbaru. Ekspresinya dingin. Tak terlihat penyesalan pada dirinya.

Menurut ketua Yayasan Tunas Bangsa itu, dirinya tidak melakukan tindakan seperti yang dituduhkan polisi. Korban M. Zikli meninggal karena sakit. a��a��Dia demam tinggi dan diare. Kalau dianiaya, tidak ada,a��a�� tegas Lili.

Zikli dititipkan orang tuanya ke panti asuhan milik Lili sekitar 10 bulan silam. Sejak Zikli dititipkan itu, ujar Lili, orang tuanya tidak pernah mengunjungi korban lagi. a��a��Orang tuanya tidak pernah melihat dia di sana. Mereka tidak tahu bila anaknya sakit,a��a�� dalih Lili.

Dari penelusuran koran ini, yayasan yang dikelola Lili memiliki lima panti asuhan. Karena itu, oleh sebagian warga Pekanbaru, Lili dijuluki ratu panti asuhan.

Sayang, kondisi lima panti itu sangat memprihatinkan. Tidak layak huni. Bahkan, ada yang mirip penjara untuk menampung orang-orang kurang waras (gila).

Panti pertama terletak di Jalan Bukit Rahayu. Di sanalah awal mula Lili menapakkan karirnya sebagai pekerja sosial. Di panti itu juga M Zikli balita 1 tahun 6 bulan tinggal sebelum akhirnya tewas.

Bangunan panti kedua masih terletak di Jalan Bukit Rahayu Rukun Warga (RW) 3. Di sana ada satu bangunan bertingkat dua. Dicat warna kuning hijau. Bangunan tersebut kondisinya kurang lebih sama dengan seluruh panti yang dimiliki Lili. Seolah menjadi cirikas, sejumlah pakaian bekas juga ditemukan berserakan.

Kaca dan jendela bangunan beberapa sudah ada yang pecah. Tapi tetap ada kesan menyeramkan. Karena ada pintu besi dengan teralis besi. Saat Riau Pos mendatangi panti itu, terlihat sudah tidak berpenghuni. Namun menurut keterangan beberapa warga sekitar sepekan sebelum koran ini ke sana ada beberapa anak beraktifitas di gedung itu.

Bangunan panti ke 3 terletak di Jalan Cendrawasih Gang Nuri, Kecamatan Marpoyan Damai. Dari sana Dinas Sosial Riau bersama LPAI berhasil melakukan eksekusi terhadap 10 orang lansia dan 3 orang anak-anak. Total keseluruhan yang ada di sana sewaktu dieksekusi ada 13 orang.

Bangunan Panti ke-4 terletak di Jalan Lintas Timur Pekanbaru KM 13, Kecamatan Tenayan Raya. Luas areal bangunannya cukup luas. Termasuk model bangunan yang bertingkat. Warna Hijau Kuning tampaknya menjadi cirikas panti milik Lili. Karena disana bangunan yang tampak kosong itu juga berwarna senada.

Bangunan Panti ke-5 terletak di lokasi yang cukup jauh. Yakni di KM 19 Jalan Lintas Timur Pekanbaru. Dari jalan besar, lokasi Panti Sosial milik Hj Lili itu terletak di dalam lokasi rimba. Yang sangat jauh dari pemukiman. Luas areal bangunannya juga cukup luas. Dari sana Dinsos dan LPAI berhasil membawa 19 orang lansia yang saat ini dirawat intensif di Rumah Sakit Jiawa (RSJ) Tampan.

Jika dilihat aset tanah dan bangunan milik Lili cukup banyak. Belum lagi kendaraan yang dimiliki olehnya. Dari penelusuran Riau Pos, setidaknya Lili memiliki 4 Mobil. 2 Mobil terparkir di Panti Asuhan Jalan Bukit Rahayu. 1 mobil merek Kijang Krista berwarna biru. 1 mobil jenis carry lama. 1 mobil jenis pick up. Sedangkan yang sering ditungganginya adalah mobil jenis double cabin merek Mitsubishi Strada. Ini diketahui Riau Pos saat berbincang dengan salah seorang warga di KM 19, yakni Jay.

Kata Jay, Lili terakhir datang ke Panti yang terletak di KM 19 Kamis (27/1). Ia datang bersama seseorang yang tidak dikenalnya dengan mobil Mitsubishi Strada. Dari keterangannya, di panti jompo dan penitipan orang gila miliknya ada seorang penjaga bernama Pina. Sehari-hari, selain menjaga Panti Pina juga kerap terlihat meminta-minta di kawasan Tenayan Raya.

Pada saat di datangi oleh tim eksekutor, Pina langsung kabur dan menghilang. Tidak satupun orang yang tau keberadaannya sampai saat ini.

Cerita lebih jelas tentang pundi pemasukan Lili juga diungkapkan oleh Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Provinsi Riau Ester Yuliana. Ia menceritakan pada saat eksekusi di Panti Jalan Cendrawasih sebanyak 2 orang lansia mengaku disuruh meminta-minta oleh Lili.

a�?Dari pengakuan 2 orang ibu-ibu itu dia bisa berpenghasilan sampai Rp 300 ribu dalam satu hari. Dari hasil itu sebagian besar diserahkan ke Lili ini,”kata Ester dalam sebuah perbincangan dengan Riau Pos. Uang Rp 300 ribu yang dihasilkan sebanyak Rp 200 ribu diberikan ke Lili. Sedangkan sisanya bisa diperoleh lansia itu.

Ada juga penghuni panti yang membayar sebesar Rp 45 juta kepada Lili. Hal itu dikatakan Ester terungkap setelah seorang penghuni panti bernama Andi menceritakan semuanya.”Jadi awalnya si Andi ga mau cerita sama saya. Akhirnya saya bujuk akhirnya mau. Katanya dia tinggal di Panti itu sudah 10 tahun lalu,”ungkap Ester bercerita.

Andi dititipkan lantaran orang tuanya tidak sanggup lagi mengurusi Andi yang pecandu narkoba. Andi sendiri berasal dari Bengkalis. Keturunan Tionghoa. Pada saat dititipkan, dari pengakuan Andi kepada Ester orang tuanya membayar sebesar Rp 45 juta. Untuk biaya penitipan Andi. Harga itu tidak bis nego dan sudah dipatok.

“Jika orang tua Andi tidak mau membayar, silahkan cari panti sosial lain,”sebut Ester menceritakan. Akan tetapi pada kenyataannya Andi tidak mendapat perlakuan layak. Padahal orang tuanya sudah membayar Rp 45 juta.

Lain cerita Ester, lain pula cerita Wati. Warga Jalan Bukit Rahayu itu mengatakan bahwa Panti Asuhan Lili kerap menjual hasil sumbangan dari donatur. Ia mengatakan bahwa Lili kerap menjual hasil sumbangan seperti beras, minyak, makanan dan lainnya di sebuah warung grosir yang teletak di Jalan Singgalang.

Biasanya, ia melakukan transaksi jual beli saat tengah malam. Riau Pos pun mencoba mendatangi warung grosir tersebut. Namun sayang, sewaktu didatangi warung tersebut tutup. Sedangkan kata salah seorang penjaga warnet yang berada di sebelah ruko itu, warung tersebut tutup sejak malam hari. Bahkan setelah ia bukak hari itu juga masih tutup.

Soal peminjaman anak komplek Wati juga pernah bercerita. Kejadian tersebut terjadi saat bulan ramadhan tahun lalu. Saat itu belasan anak di undang ke Panti milik Lili. Ternyata pada saat itu ada seorang donatur yang hendak menyerahkan bantuan.”Jadi satu anak diberi uang Rp 5 ribu. Padahal aturannya dikasi Rp 50 ribu untuk satu anak. Jadi saat itu dia (Lili) bilang kalau anak-anak komplek yang datang saat itu merupakan anak yatim asuhannya,”katanya.

Masih diceritakan Wati, soal bantuan yang didapatkan Panti Asuhan Jalan Bukit Rahayu memang kerap didatangi tamu. Mulai dari pejabat hingga pengusaha. Bahkan pada saat tertentu pengunjung Panti tersebut sangatlah ramai. Mobil yang parkir bisa mencapai belasan. Kebanyakan pengunjung yang datang adalah pengusaha cina. (JPG/r8)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post