Lombok Post
Metropolis

Banjir dan Longsor Kepung NTB

HINDARI LONGSOR: Seorang warga berlari menghindari bebatuan longsor dari tebing yang jatuh ke jalan raya di Desa Labuan Tereng, Lembar Lombok Barat, Rabu (1/2). SIRTU/LOMBOK POST

MATARAM – Provinsi NTB dikepung bencana setelah hujan deras tiada henti lebih dari 24 jam. Banjir dan longsor terjadi di Lombok Barat, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Sumbawa, dan Kabupaten Bima. Banjir telah merendam permukiman warga, pusat pelayanan kesehatan, sekolah, pertokoan dan kantor polisi.

Pantauan Lombok Post, di Dusun Kebun Talo, Desa Labuan Tereng, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, banjir merendam rumah warga sejak Selasa malam (31/1). Air sempat naik setinggi lutut orang dewasa. Beberapa warga pun mengungsi ke masjid dan rumah saudara yang lebih aman.

Saat Lombok Post mendatangi lokasi pada Rabu (1/2), banjir setinggi betis masih menggenangi permukiman warga. Listi, salah seorang warga memasang tanggul pasir di depan rumahnya. Sementara kondisi banjir dan hujan membuat mereka kedinginan sepanjang hari.

Tidak hanya permukiman, sekolah juga lumpuh. Antara lain SDN 1 Labuan Tereng. Para siswa terpaksa dipulangkan karena semua ruang kelas dan ruang guru terendam banjir. Hingga siang kemarin, para guru dan kepala sekolah sibuk menyelamatkan buku dan dokumen-dokumen penting sekolah.

Seperti Suharti, salah seorang guru di SDN tersebut menaikkan semua berkas dan dokumen sekolah ke atas bangku. Semua dokumen tersebut sudah basah. Seperti raport siswa, lembar tugas, hingga laporan keuangan sekolah, termasuk laporan pertanggungjawaban penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS). A�a�?Ini semua dokumen penting,a�? katanya pasrah.A�A�A� A�

Muhammad Tohri, kepala SDN 1 Labuan Tereng mengatakan, para siswa tidak diliburkan tetapi diminta belajar di rumah masing-masing. Sebab, sekolah tidak mungkin dipakai belajar. Air setinggi betis orang dewasa merendam sekolah. a�?Kalau sudah surut airnya, siswa kita kembali masuk,a�? ujarnya.

Masih di Lombok Barat, banjir juga merendam Desa Sekotong Tengah. Kepala Desa Sekotong Tengah L Sarapudin kepada Lombok Post menjelaskan, bencana banjir terjadi di delapan dusun. Antara lain Dusun Sekotong II, Sekotong I, Mekarsari, Suredadi, Telaga Lebur Kebon, Loang Baloq, dan Guning Anyar.

Dusun yang paling parah terkena banjir adalah Sekotong II dimana terdapat 500 KK yang terdampak. Sedangkan di Dusun Telaga Lebur Kebon, 70 KK, Dusun Sekotong I 190 KK, Dusun Mekarsari 80 KK, Dusun Suredadi 70 KK, Dusun Loang Balok 130 KK, dan Dusun Gunung Anyar 50 KK. a�?Di Dusun Telaga Lebur, tanggul embung sepanjang 3 meter ambruk akibat banjir. Ditambah lagi akses jalan tertimbun longsor,a�? katanya.

Dikatakan sebanyak 1.090 KK atau 3.416 jiwa terkena dampak bencana banjir tersebut. A�Kerugian banjir belum bisa ditaksir. Kemarin baru hanya ada laporan kerusakan tembok pembatas salah satu rumah warganya yang mengalami rusak ringan. Selebihnya masih aman.

Selain banjir, longsor juga terjadi di sana. Warga yang melintasi jalur bawah menuju Sekotong harus ekstra hati-hati. Sebab, bebatuan tebing di sepanjang jalan rawan longsor. Dari pantauan Lombok Post longsor terjadi di beberapa titik. Bebatuan berukuran besar, sedang dan kecil berjatuhan dari atas tebing ke jalan raya. Kondisi ini sangat membahayakan pengguna jalan. Sementara jika melalui jalur atas, juga rawan oleh pohon tumbang.

Lalu Sarfin, salah seorang anggota Tagana Lombok Barat mengatakan, pada Selasa (31/1) malam sekitar pukul 23.00 Wita, batu-batu longsor tersebut belum ada. Tetapi saat kembali melintasi jalan tersebut tengah malam, bebatuan lonsgor berserakan di jalan. a�?Beruntungnya saat malam tidak ada kendaraan lewat sini,a�? kata dia.

Ia mengatakan, jalur tersebut memang cukup rawan longsor karena tebing-tebing tidak ditopang pohon besar, sehingga konstruksi tanah menjadi labil. Air dari wilayah pegunungan mengalir dengan deras karena tidak akar pohon yang menahan. Kondisi ini membuat wilayah tersebut rawan longsor.

Longsor juga terjadi di Dusun Gumese Utara, Desa Giri Tembesi, Kecamatan Gerung. Jalan aspal yang ada di tanjakan ambles sepanjang 10 meter. Beruntung tidak menimpa rumah warga, tapi sangat membahayakan pengguna jalan terutama pada malam hari. Jalan dengan kontur menanjak dan menurun dengan tikungan tajam ini sepi dan tanpa lampu pada malam hari, membuat longsor tidak terlihat.

a�?Mudahan tidak ada yang jadi korban,a�? kata Rusli salah seorang staf desa setempat.

Kepala Pelaksana BPBD Lobar H Mohammad Najib mengatakan, pihaknya telah menerjunkan satu regu tim BPBD ke Sekotong Tengah. Pihaknya juga sudah mendroping bantuan logistik berupa mie instan, beras 2 kuintal, air mineral 120 duz, dan makanan siap saji 80 duz.

a�?Besok kita drop lagi, tapi jumlahnya tergantung kondisi besok (hari ini),a�? ungkapnya.

Sementara banjir di Desa Cendimanik kata dia, menerjang dua dusun. Yakni Dusun Madak Beleq dan Dusun Padak. Banjir ini menyebabkan 300 KK terkena dampak atau 920 jiwa.

Kepala Desa Cendimanik Marne menuturkan, banjir yang terjadi di daerahnya nyaris menyebabkan seorang bocah terjebak banjir. Karena orang tuanya menyelamatkan diri lebih dulu.

Selain itu, di terangkan akibat banjir tersebut, akses jalan sepanjang 500 meter yang dibuka beberapa waktu lalu terputus. a�?Tapi kalau rumah rusak belum ada laporan,a�? akunya.

Marne mengatakan, banjir juga merendam puluhan hektare lahan pertanian warga. Tambak warga seluas 50 sampai 60 hektare juga terandam air. Karena itu, ia berharap pemerintah segera melakukan penanganan. Terutama perbaikan terhadap fasilitas yang rusak.

Laporan bencana juga datang dari Dusun Songkang, Kecamatan Lembar, Lombok Barat. Di sana, banjir merendam rumah milik 200 KK. Warga bahkan nyaris tak bisa tidur semalaman, berjaga-jaga lantaran takut ketinggian air akan bertambah. Banjir akibat tanggul tepian sungai jebol. Meskipun sudah berangsur surut, namun warga hawatir bencana tersebut akan menjadi bencana rutin jika tidak cepat ditangani.

a�?Itu sungai kan tepiannya jadi tipis karena digali terus sama yang buat batu bata, jadi jebol,a�? kata Kadus Songkang Awaludin. Warga menduga, galian pasir yang dilakukan oleh pembuat batu bata di salah satu sisi sungai di desa mereka sudah semakin tidak terkontrol. Sehingga tepian sungai jebol dan akhirnya merendam permukiman.

Menurut Awaludin, galian pasir di tempat tersebut memang tergolong parah. Mengingat letaknya berada di tengah perkampungan, dan lagi letak galian yang cukup mepet dengan sungai. Sehingga dinilai warga Songkang, aktivitas galian tersebut perlu dibatasi agar tidak berimbas padaA� masyarakat sekitar. Padahal beberapa kali warga sempat memberi peringatan kepada penambang, namun tidak diindahkan.

Hingga semalam, 267 KK atau 833 jiwa di sana masih menunggu bantuan dari pemerintah. a�?Tagana dan SAR sudah datang, BPBD hanya lewat saja kemarin belum turun,a�? sindir Awaludin.

Sementara itu, Bupati Lobar H Fauzan Khalid kemarin telah mengunjungi langsung sejumlah desa yang terkena bencana. Dia mengharapkan warga yang terkena dampak agar tetap waspada. Karena kondisi cuaca, banjir sewaktu-waktu bisa kembali terjadi. a�?Kita siapkan pelayanan kesehatan dan kedaruratan 24 jam, termasuk pemberian logistik,a�? tandasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Muhammad Rum mengatakan, banjir di Lombok Barat terjadi karena luapan Sungai Cengok di Kecamatan Sekotong akibat intensitas hujan yang cukup tinggi disertai pasangnya air laut sejak pukul 19.30 Wita Selasa (31/1).

Hal ini mengakibatkan dua desa di Kecamatan Sekotong yaitu Desa Sekotong Tengah dan Desa Cendi Manik terendam banjir setinggi 70 centi meter (cm). Warga saat ini masih mengungsi di musala-musala. Belum ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun dampak banjir terberat dirasakan 300 kepala keluarga (KK) dengan 920 jiwa. Sementara itu warga yang terkena dampak banjir di Desa Sekotong Tengah masih dalam pendataan.

Sementara itu, di Lombok Tengah banjir menerjang menyusul hujan lebat selama 12 jam pada Selasa (31/1). Hal ini menyebabkan banjir dan menggenangi rumah penduduk di Desa Kuta dan Desa Sengkol , Kecamatan Pujut. Di Desa Kuta sebanyak empat dusun terdampak banjir dengan 500 KK di Dusun Kuta I, 40 KK di Dusun Rangkep I, 35 KK di Dusun Ujung Daye, dan 117 KK di Dusun Ujung Lauq. Sementara Desa Sengkol hanya dua Dusun yang terdampak banjir yaitu Dusun Kadus Bangah dengan 25 KK dan Dusun Gerupuk Daye 40 KK.

Dan kemarin, terjadi banjir rob di Kekadusan Pasung Desa Bukit Parak Kecamatan Pujut dengan terdampak banjir sebanyak 120 KK. Di Kekadusan Peras Desa Kidang Kecamatan Praya Timur, juga tercatat 80 KK yang terdampak banjir.

BPBD NTB telah mengirimkan sejumlah bantuan logistik berupa lauk pauk sebanyak 20 paket, tambahan gizi 12 paket, selimut 20 lembar dan kidsware 6 paket dan 50 dus air mineral ke Desa Kuta.

Sementara itu, banjir di Kabupaten Sumbawa Barat juga terjadi akibat intensitas hujan yang cukup tinggi sejak Selasa (31/1). Banjir mengakibatkan enam kelurahan dan dua desa di Kecamatan Taliwang dan satu desa di Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat, terendam banjir setinggi 35 sampai 100 cm.

Hingga Rabu pagi, hujan masih turun namun dengan intensitas rendah. Wilayah terdampak banjir yang terjadi pada pukul 02.10 Wita tersebut di antaranya, Kecamatan Taliwang, Kelurahan Bugis 1.328 kk atau 4.838 jiwa, Kelurahan Arab Kenangan 798 kk atau 4.838 jiwa, Kelurahan Kuang 1.854 KK atau 6.416 jiwa, Kelurahan Menala 1.882 kk atau 6.554 jiwa, Kelurahan Sampir 1.252 kk atau 4.266 jiwa, Kelurahan Dalam 1.216 kk atau 4477 jiwa, Desa Sermong 328 kk atau 1.078 jiwa, dan Desa Temekan 335 kk atau 1.107 jiwa.

Di Kecamatan Brang Rea yaitu di Desa Sapugara sebanyak 965 kk atau 3344 jiwa. Bahkan jalan di Desa Sapugara ini masih belum dapat dilalui karena ketinggian air mencapi 100 cm.

Pantauan tim BPBD, TNI, Polri dan masyarakat menyebutkan tidak ada korban jiwa dan pengungsian warga. Ketinggian air masih bervariasi di sejulah wilayah berkisar antara 35-100 cm.

Banjir serupa terjadi di Kabupaten Sumbawa. Intensitas hujan yang cukup tinggi pada hari Senin (29/1) mengakibatkan Sungai Pamulung Meluap dan merendam tiga Kecamatan di Sumbawa. Banjir yang terjadi sejak pukul 15.30 Wita tersebut merendam rumah warga di Kecamatan Sumbawa, Kecamatan Unter Iwes dan Kecamatan Labuhan Badas denganA� ketinggian air berkisar antara 50 -100 cm. Total sebanyak 929 kk atau 3.276 jiwa mengalami dampak banjir.

Di Kecamatan Sumbawa, sebanyak 7 kepala keluarga rumahnya terendam banjir setinggi 50 cm. Sementara di Kecamatan Unter Iwes sebanyak 201 kepala keluarga yang tersebar di 2 Desa yaitu Desa Nijang sebanyak 190 kk dengan 680 jiwa dan Desa Kerato sebanyak 11 kk terendam banjir setinggi 50-100 cm.

Banjir setinggi 70 a�� 120 cm merendam dua desa di Kecamatan Labuhan Badas yaitu Desa Karang Dima dan Desa Labuhan Sumbawa.A� Di Desa Karang Dima sebanyak tiga dusun terkena dampak banjir yaitu Dusun Sumer Payung sebanyak 305 KK atau 1.100 jiwa, Dusun Tanjung Pengamas sebanyak 194 KK atau 597 jiwa dan Dusun Buin Pandan sebanyak 83 KK atau 383 jiwa. Sementara sebanyak 22 kk atau 84 jiwa di Dusun Olat Rarang Kampung Muhajirin dan 81 KK atau 242 jiwa di Dusun Pasir Desa Labuhan Sumbawa juga terkena dampak banjir.

Tidak hanya merendam dan merusak rumah warga, sejumlah fasilitas umum juga mengalami kerusakan. Di antaranya jembatan penghubung (limpas) sepanjang 15 meter, jembatan antar desa di Dusun Kayangan, talut saluran irigasi, talut tebing kali, dan tanggul pelindung banjir.

Terakhir, bencana banjir juga terjadi di Kabupaten Bima. Lima desa di Kecamatan Woha Kabupaten Bima tergenang banjir pada Selasa (31/1), sekitar pukul 10.30 Wita. Air setinggi 50 cm menggenangi 2 dusun di Desa Naru yaitu Dusun Sinar dan Dusun Perintis. Di Desa Nisa, air sudah memasuki pemukiman warga dan meluap ke gang-gang dan diperkirakan volume air masih terus meningkat.

Sejumlah areal persawahan di Desa Waduwani tergenang air dan diperkirakan akan menyebabkan gagal panen. Sebanyak tiga rumah di Desa Talabui tergenangA� air hingga setinggi teras depan. Sementara di Desa Penapali banjir melewati jalan raya dan mulai meluap kepemukiman warga.

Pada Rabu kemarin, seluruh anggota Koramil Woha turun membantu membersihkan rumah warga yang terkena dampak banjir di Dusun Tekad Makur Desa Nisa dan Desa Naru, dan warga di kedua desa yang sempat mengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing. (ili/zen/van/r8)

Berita Lainnya

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost