Lombok Post
Metropolis

Orang Sakit Jiwa di NTB Meningkat

BERBINCANG: Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi menyapa Sejumlah pasien sakit jiwa di RSJ Mutiara Sukma NTB, Selasa (31/1). SIRTU/LOMBOK POST

MATARAM – Ada yang menarik saat Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi berkeliling meninjau kondisi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma NTB, Selasa (31/1). Orang nomor satu di NTB ini memeriksa fasilitas dan penataan gedung baru RSJ. Sampai di salah satu kamar ruang rawat inap, beberapa orang pasien menyapa dari balik terali jendela. Gubernur pun turun menyalami mereka.

Dari balik jendela Sahman, salah seorang pasien berbicara cukup lancar di hadapan gubernur. Mereka mengaku berada di dalam ruang perawatan karena menjadi korban orang gila di luar sana. Baik mereka yang gila harta maupun yang gila jabatan.

Para pasien ini nampak ceria dan bisa berbicara secara normal dengan orang lain. Dalam perbincangan itu, Sahman pun mendokan TGB bisa menjadi presiden suatu saat nanti, ia kemudian mengangkat tangan berdoa. a�?Semoga bapak besok sampai menjadi presiden,a�? katanya disambut kata amin dari rombongan pejabat bersama gubernur.

Sementara itu, TGB Zainul Majdi mengatakan, RSJ Mutiara Sukma kini telah bertransformasi menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan.

Dahulu Selagalas identik sebagai tempat yang menyeramkan, tidak seorang pun ingin berkunjung ke sana. Tapi mulai saat ini, bisa dibuktikan bahwa RSJ Mutiara Sukma memiliki penataan yang tidak hanya bersifat fisik tetapi pelayanan yang lahir dari ketulusan.

RSJ Mutiara Sukma telah banyak menorehkan prestasi-prestasi, salah satunya adalah akreditasi paripurna. Akreditasi ini harus dimaknakan sebagai titik awal yang perlu terus dijaga dengan cara meningkatkan pelayanan yang lahir dari hati yang ikhlas.

TGB menekankan pentingnya melaksanakan sesuatu dengan komitmen agar dapat menghasilkan sesuatu yang dapat dirasakan masyarakat. Ia juga mengajak untuk menghapus anggapan bahwa orang yang dirawat di RSJ ini adalah orang yang berbeda. Menurutnya, merekaA� yang mengalami gangguan jiwa adalah makhluk normal.

Tapi karena suatu dan lain hal harus menerima perawatan di rumah sakit. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban memberikan pelayanan yang baik, berkualitas dan bermutu agar mereka bisa sembuh.

Sementara itu, Direktur RSJ Mutiara Sukma dr. Elly Rosila Wijaya SpKj mengatakan, beberapa pencapaian yang telah dilakukan RSJ Mutiara Sukma antara lain, membangun gedung poliklinik, instalasi rehabilitasi psikiatrik/psikososial dan instalasi gizi, klinik memori, dan membuat logo rumah sakit.

Pada Oktober 2016 RSJ Mutiara Sukma berhasil meraih akreditasi paripurna atau predikat bintang lima dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

Pada tahun 2017 ini RSJ Mutiara Sukma juga turut membangun komitmen dengan ikut serta dalam pencanangan pilot project zona integritas menuju wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih melayani, serta green hospital.

Pihaknya terus berikhtiar untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Oleh karena itu, tema yang diangkat dalam memperingati HUT ke-27 tahun ini adalah RSJ Mutiara Sukma BERSERI yakni Bersih, Elok, Rapi, Santun, Empati, Ramah, dan Inovatif.

Salah satu yang menarik perhatian adalah klinik memori, yaitu pusat layanan kesehatan yang berfokus pada pasien dengan gangguan daya ingat.

Klinik tersebut melayani skrining, evaluasi dan penatalaksanaan gangguan fungsi kognitif, dan neurodegeneratif lainnya. Contohnya pada pasien stroke, epilepsi, HIV/Aids. Layanan ini dibuka dari hari Senin sampai Sabtu pukul 08.00-12.00 Wita.

Ia menyebutkan, terjadi peningkatan jumlah pasienA� gangguan jiwa yang melakukan rawat jalan yakni 150-200 orang dalam sehari. Sebelumnya hanya sekitar 40-an orang yang datang dirawat.Mereka yang datang konsultasi bukan saja gangguan jiwa berat, tetapi juga mereka yang mengalami gangguan jiwa ringan, ada keluhan jantung, cemas yang berlebihan sampai merasa mau mati.

Karena mereka menyadari itu adalah gangguan jiwa maka mereka datang berobat. a�?Karena kalau tidak dituntaskan dari akar masalahnya bisa menjadi masalah di kemudian hari,a�? ujarnya.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa kesadaran warga untuk memeriksa kesehatan jiwa meningkat. Saat ini 100 tempat tidur tetap terisi, bahkan banyak yang antre. Mereka terus mendapat perawatan dan pemberdayaan agar bisa kembali hidup normal di tengah masyarakat. (ili/r7)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost