Lombok Post
Kriminal

Cari Anak Kabur, Hingga Gantikan Peran Orang Tua

BERMAIN: Anak-anak penghuni panti menghabiskan waktu sorenya dengan bermain bola di lapangan upacara PANTI Sosial Paramita, di Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, kemarin (5/2). DIDIT/LOMBOK POST

Kondisi jiwa anak yang labil, ditambah dengan faktor latar belakang sebagian anak A�yang berurusan dengan hukum (ABH), membuat pekerja sosial di Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Paramita Mataram, menangani mereka dengan hati-hati. Jika tidak, perubahan karakter yang diharapkan, tidak mungkin terjadi.

Muhammad Afani, salah seorang pengasuh di Panti Sosial Paramita, nampak terburu-buru. Mukanya penuh peluh. Siang itu, dia sibuk mencari anak yang keluar tembok (kabur, Red) dari Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Paramita.

Panti Sosial Paramita yang terletak di Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, memang diperuntukkan bagi anak-anak yang bermasalah. Di tempat ini, anak-anak dibina untuk menjadi lebih baik. Disinilah tugas A�Fani a��sapaan akrab Muhammad Afani- menjadi pengasuh bagi anak-anak yang baru masuk ke Panti Sosial Paramita.

Siapa pun mereka. Mau anak yang telah ditangkap polisi, kejaksaan, putusan hakim hingga yang diamankan aparat lingkungan. Semua diterima di sini. Setiap anak dianggap masih punya masa depan yang harus diselamatkan. Itulah ide dasar sosialnya.

Di sini yang dihadapi adalah anak yang melewati batas. Mereka, rendah dari segi moral. Terbiasa melakukan tindakan pidana. Dari pencurian, perkelahian hingga pencabulan. Karena itu dapat dibayangkan bagaimana tugas berat para pengurus panti. Mengubah watak anak-anak bermasalahA� ini tidak semudah membalik telapak tangan.

Kaburnya salah anak penghuni panti hari itu, tentu merepotkan para pengasuh. Padahal, Panti Sosial Paramita bukan penjara bagi anak. A�Tetapi serupa padepokan tempat menempa diri. Mengubah karakter anak menjadi lebih baik lagi.

Namun jika anak sudah terlanjur kabur, maka menjadi tugasnya untuk mencari keberadaan anak tersebut. Biasanya Fani akan langsung menghubungi orang tua anak. Mengecek apakah yang bersangkutan pulang kembali ke rumahnya.

a�?Langkah pertama tentu menghubungi orang tua, alhamdulillah anaknya ketemu,a�? kata Fani.

Persoalan kaburnya anak-anak dari panti, bukan satu-satunya masalah yang dihadapi Fani. Perbedaan karakter anak yang masuk, ditambah dengan kasus yang melatarbelakanginya, kerap menimbulkan konflik diantara mereka. Karena itu tak jarang para pengasuh kerepotan melerai A�anak-anak penghuni panti yang berkelahi.

Fani bahkan pernah menemukan a�?senjataa�� di dalam kamar karantina. Senjata tersebut terbuat dari gir motor yang dibentuk sedemikian rupa.

a�?Kejadiannya sudah lama, sekitar 2015, akhirnya saya sita. Tapi setelah itu tidak ada lagi,a�? ujarnya.

Jika Fani harus bekerja keras menjaga anak-anak, berbeda dengan Sarifudin Ali. Posisinya di Panti Paramita sama dengan Fani. Bedanya, dia hanya mengurusi anak-anak yang telah mulai berkelakuan baik.

Ada 18 anak yang diasuh Ali. Karena telah berkelakuan baik, mereka biasanya bebas melakukan kegiatan. Termasuk bermain bola di lapangan upacara saat sore menjelang.

Selain olahraga, anak-anak ini juga diberikan pemahaman agama yang lebih mendalam. Mereka diajak untuk salat lima waktu.

a�?Kita ajarkan juga cara bertanggungjawab, kalau melanggar, hukumannya tidak terlalu berat. Biasanya disuruh untuk membersihkan musala,a�? katanya.

Terpisah, psikolog Herlin Wahyuni Hidayat mengatakan, banyak faktor yang melatarbelakangi anak masuk ke Panti Sosial Paramita. Salah satunya adalah faktor lingkungan. Banyak anak, yang karena ketidaktahuan dan ketidakberdayaan mereka, diperdaya orang dewasa.

a�?Mereka terjebak di sana, karena diajak orang dewasa atau temannya akhirnya melakukan hal yang menyimpang,a�? kata dia.

Karena itu, menjadi tugas Panti Sosial untuk melakukan penyadaran tindakan menyimpang tersebut. Pendekatannya pun tidak sembarangan. Harus dari hati ke hati. Sehingga perubahan karakter yang diharapkan, bisa terwujud.

a�?Masuk ke alam bawah sadar mereka. Terkadang ada penolakan, tapi kita berusaha agar anak yang masuk ke sini, ketika keluar bisa menjadi lebih baik lagi,a�? bebernya.

Lebih lanjut, alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengatakan, masalah yang dihadapi dari setiap anak akan berbeda. Apalagi tidak semua penghuni merupakan ABH. Ada pula anak yang dibawa orang tuanya atau rekomendasi dari desa, untuk dilakukan pembinaan di Panti Sosial Paramita

a�?Tidak semua anak merupakan ABH,a�? kata dia.

Peran pengasuh maupun psikolog di Panti Sosial Paramita, serupa dengan orang tua. Berusaha memberikan rasa nyaman dan mengajarkan rasa tanggung jawab. a�?Posisi kami, itu bisa menggantikan orang tua, selama mereka berada di sini,a�? tandasnya.(Wahidi Akbar Sirinawa/r2)

Berita Lainnya

Buron Pembegalan Wisatawan Tertangkap di Sekotong

Redaksi LombokPost

Lagi, Pelajar di Lombok Tengah Terseret Kasus Narkoba

Redaksi LombokPost

Ombudsman RI Pantau Kasus Buku Kemenag

Redaksi LombokPost

Dana Rehabilitasi Sekolah Melonjak Rp 1,2 Miliar

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Gubernur Yakin Kemampuan Brimob

Redaksi LombokPost

Polda Kantongi Data Baru Kasus Pengadaan Buku Madrasah

Redaksi LombokPost

Berkas Banding Merger BPR Dilimpahkan

Redaksi LombokPost

Utamakan Langkah Preventif

Redaksi LombokPost