Lombok Post
Kriminal

Siti Aisyah Berpeluang Jadi Tersangka

Kabidhumas Polda NTB AKBP Tri Budi Pangastuti. DIDIT/LOMBOK POST

MATARAM – Polisi menaikkan status perkara dugaan penistaan agama yang dilakukan Siti Aisyah pengelola Rumah Mengenal Alquran (RMA), dari penyelidikan ke penyidikan. Meski naik ke penyidikan, belum ada tersangka yang ditetapkan polisi dalam perkara tersebut.

Kabidhumas Polda NTB AKBP Tri Budi Pangastuti mengatakan, belum adanya tersangka pada kasus tersebut, dikarenakan polisi masih memerlukan pendalaman. Dia juga membantah polisi menemui hambatan dalam penetapan tersangka.

a�?Tidak ada yang menghambat, secepatnya akan kita selesaikan, termasuk untuk penetapan tersangka,a�? kata Tri Budi usai melakukan gelar perkara dugaan penistaan Siti Aisyah, kemarin (6/2).

Tri Budi menjelaskan, naiknya status perkara ke penyidikan, karena polisi telah mengantongi dua alat bukti. Ini ditambah dengan keterangan dari saksi ahli pidana dan bahasa, saat gelar perkara kemarin.

Meski naiknya status perkara tidak disertai penetapan tersangka, namun polisi telah membidik satu orang calon tersangka. Dari keterangan Tri Budi, polisi mengisyaratkan akan menetapkan Siti Aisyah sebagai tersangka pada kasus tersebut.

Hanya saja, sebelum penetapan tersebut, polisi akan lebih dulu melakukan kajian mendalam. Termasuk kembali memeriksa Siti Aisyah, yang kini masih berstatus terlapor terkait perannya di RMA.

a�?Tidak menutup kemungkinan ketika nanti diperiksa, statusnya (Siti Aisyah, Red) bisa berubah. Termasuk anaknya juga,a�? bebernya.

Pada gelar perkara kemarin, terlapor diduga melanggar pasal 156 huruf a KUHP tentang penistaan agama. Pelanggaran tersebut membuat Siti Aisyah terancam masuk bui selama lima tahun.

Dalam kasus ini sedikitnya, polisi telah meminta keterangan 11 saksi antara lain ahli pidana, ahli bahasa, MUI, masyarakat, dan siswa yang pernah datang ke RMA.

Berdasarkan keterangan ahli bahasa, yang melakukan kajian terhadap selebaran berupa pamflet dan brosur dari RMA, terlihat Siti Aisyah berusaha melakukan upaya penyimpangan. Menganjurkan masyarakat untuk tidak mengakui ulama.

a�?Keterangan dari ahli bahasa seperti itu,a�? kata dia.

Selain agenda penetapan tersangka nantinya, polisi juga akan mendalami keterlibatan oknum lainnya. a�?Kemungkinan itu masih terbuka lebar, nanti dalam penyidikan kan bisa berkembang ke arah sana,a�? tandasnya.(dit/r2)

Berita Lainnya

Buron Pembegalan Wisatawan Tertangkap di Sekotong

Redaksi LombokPost

Lagi, Pelajar di Lombok Tengah Terseret Kasus Narkoba

Redaksi LombokPost

Ombudsman RI Pantau Kasus Buku Kemenag

Redaksi LombokPost

Dana Rehabilitasi Sekolah Melonjak Rp 1,2 Miliar

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Gubernur Yakin Kemampuan Brimob

Redaksi LombokPost

Polda Kantongi Data Baru Kasus Pengadaan Buku Madrasah

Redaksi LombokPost

Berkas Banding Merger BPR Dilimpahkan

Redaksi LombokPost

Utamakan Langkah Preventif

Redaksi LombokPost