Lombok Post
Feature

Kesetiaan Edi Dipuji, Motif Bunuh Diri Misteri

Ahmad Haidir. FOTO: DOKUMEN PRIBADI

Banyak yang menyayangkan keputusan Erni mengakhiri hidup dengan cara tragis. Hanya kata a�?maafa�? yang sempat terucap.

***

MOTIF kematian Erni, tetap menjadi misteri. Semua orang bertanya-tanya. Bahkan orang tua dan sang kekasih, Ahmad Haidir, dibuat penasaran. Mereka hanya tahu dia meminum racun rumput sebelum mengembuskan napas terakhir.

a�?Saat dibawa ke Puskesmas dia hanya mengucap maaf telah berbuat hilaf. Setelah itu dia tak pernah lagi sadarkan diri hingga meninggal,a�? kisah sang ibu, Wati kepada koran ini, Minggu, 5 Februari.

Wati mengaku tak habis pikir mengapa putri keduanya itu memutuskan memilih cara tersebut untuk mengakhiri hidupnya. Padahal, sehari-sehari wanita yang baru saja menamatkan pendidikan di STIKES Baramuli ini dikenal periang. Setahu orang terdekatnya, dia tak ada masalah dengan siapapun.

Herni yang alumni sekolah kesehatan itu, justru sering memperingatkan keluarganya agar tidak sembarangan menyimpang benda-benda beracun. Maklum, orang tuanya seorang petani, kerap menggunakan pestisida.

a�?Jangankan racun. Saat kami akan meminum obat, dia selalu berpesan agar mengikuti petunjuk dokter. Makanya kami heran mengapa terjadi seperti ini,a�? tutur Wati.

Keluarga korban juga sempat meminta penjelasan kepada Edi, sapaan Ahmad Haidir, terkait hubungan mereka selama ini. Menurut pengakuan sang kekasih, seperti ditirukan ibu korban, sejak mereka berkenalan hingga pacaran, tak pernah ada pertengkaran.

a�?Berjalan biasa saja, tak ada yang ditutup-tutupi,a�? aku Edi pada Wati.

Baik Wati maupun suaminya, La Juma, serta keluarga besar mereka, mengaku tak pernah menghalangi niat keduanya untuk menikah. Sejak Erni memperkenalkan Edi, tak pernah ada kata penolakan telontar.

a�?Asalkan mereka bahagia, kami setuju-setuju saja,a�? tutur Wati.

Demikian pula dari pihak keluarga Edi di Nias, Sumatera Utara. Lewat telepon, dia mampu meyakinkan orang tuanya untuk memberikan restu. Termasuk merelakan sang putra menjadi mualaf jelang pertunangan. Kedua belah pihak sudah sepakat pernikahan akan dilangsungkan pada Oktober mendatang dengan mahar Rp 40 juta.

Menurut Husban, kakek korban, sudah beberapa kali Edi datang menemui mereka. Menyatakan keseriusan dan keinginan menjadikan Erni sebagai istri.

a�?Asalkan saling suka kami pun memberi restu,a�? akunya.

Upaya koran ini mendapat konfirmasi langsung dari Edi, tak membuahkan hasil. Setelah meladeni wawancara singkat pada Minggu malam, 5 Februari, pria yang kini bekerja di Enrekang tersebut seolah menutup diri. Nomor ponselnya tak lagi aktif.

Yang jelas, cintanya pada Herni memang begitu dalam. a�?Dia istri saya dan akan selamanya menjadi istri saya,a�? sebutnya, Minggu, 5 Februari.

Di akun Facebook-nya, Edi bahkan masih meng-upload foto-foto Herni jelang kematiannya. Terakhir di-upload pada Kamis, 2 Februari pukul 18.50 Wita.

Kisah cinta yang berakhir tragis ini pun langsung menuai reaksi banyak pihak. Di media sosial, tak sedikit yang mengagumi kesetiaan Edi. Namun, sejumlah pihak juga menyayangkan digelarnya pernikahan dengan mayat yang dianggap tak lazim. Dalam Islam, tak bisa dianggap sah jika salah satu rukun nikah tak terpenuhi.

Menanggapi hal ini, pihak keluarga yang diwakili oleh Syamsuddin, paman korban, mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada Jumat, 3 Februari sebelum pemakaman Erni.

a�?Saya ada di tempat waktu itu. Kami mengundang imam kampung untuk mengurus jenazah, bukan untuk menikahkan,a�? elaknya.

Kepala KUA Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Firman, mengaku tidak tahu persis masalah itu. Yang jelas, tidak ada berkas administrasi yang mereka terima. Hanya saja, akunya, Edi memang pernah datang ke KUA. Dia minta dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat.

a�?Dia bilang akan menikahi wanita muslim di wilayah kami. Hanya itu. Kalau administrasi nikahnya kami tidak terima,a�? jelasnya.

Tak Lazim

Jika ulama menilai pernikahan dengan mayat tak bisa disahkan, hal senada diungkapkan oleh budayawan. Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Prof Nurhayati Rahman, istilah perkawinan dalam suku Bugis juga bisa disebut a�?Mabinnea�?. Artinya menanam benih. Maksudnya menanam benih dalam rumah tangga.

a�?Tetapi dalam budaya Bugis menikah dengan mayat itu tidak ada. Bahkan dalam naskah I La Galigo tidak dijelaskan hal itu,a�?A� jelas Prof Nurhayati.

Dalam naskah I La Galigo, Prof Nurhayati membeberkan, tertera ada pernikahan yang disebut dengan Botting Langi. Pernikahan ini terjadi pada dunia atas atau dunia langit. a�?Budaya itu tetap berdasarkan logika dan pengalaman,a�? katanya.

Terpisah, Dosen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Muhlis Hadrawi menambahkan, hal ini sangat tidak lazim dalam budaya Bugis Makassar. Menurutnya, dalam naskah a�?Assikalibinenga�? ada dua keutamaan pernikahan.

Pertama, pernikahan untuk membangun hubungan masa depan dengan cinta dan kebersamaan dalam mahligai cinta. Kedua, untuk mendapatkan keturunan. a�?Dari landasan iniA� saja, pernikahan dengan mayat tidak termasuk,a�? katanya. (RUSMAN NASAR-FARISAL, BarruJPG/r8)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post