Lombok Post
NASIONAL

Nelayan Minta Ahok Minta Maaf

AKRAB: Bupati Lotim Ali BD (kanan) saat berdiskusi dengan Gubernur Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu. (Sumber Foto : Facebook Semeton Ali BD)

JAKARTA – Sidang kesembilan kasus dugaan penistaan agama bergulir kemarin. Salah satu saksi fakta, Jaenudin alias Panel yang berprofesi sebagai nelayan sama sekali tidak memahami Surat Al Maidah 51. Namun, dia meminta agar Ahok meminta maaf karena kejadian tersebut.

Sidang kontroversial ini dimulai sekitar pukul 09.00 kemarin di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Jaenudin menjadi saksi pertama yang dihadirkan. Dia merupakan saksi fakta yang ikut berada dalam acara budidaya ikan kerapu di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Dalam kesaksiannya, Jaenudin mengaku bahwa saat acara sama sekali tidak mengetahui bahwa Basuki Tjahaja Purnama berbicara terkait Al Maidah 51. a�?Saat itu saya tidak mengetahui detil pidatonya,a�? tuturnya.

Bahkan, Jaenudin yang mengaku hadir dalam acara tersebut bersama beberapa temannya juga sempat bertanya pada teman-temannya tersebut. a�?Teman saya juga tidak tahu kalau bicara soal Al Maidah,a�? ungkapnya.

Namun begitu, Jaenudin mengatakan bahwa seharusnya Ahok meminta maaf karena bicara soal Al Maidah 51. a�?Kalau sebut Al Maidah 51 ya minta maaflah,a�? ujarnya pada hakim.

Saat itu, Hakim Ketua Dwiarso Budi mempertanyakan, dari mana Jaenudin bisa mengetahui adanya dugaan penistaan agama tersebut. Jaelanudin menjawab bahwa mengetahuinya setelah dipanggil kepolisian. a�?Setelah diperiksa kepolisian, saya baru menonton dari televisi,a�? ungkapnya.

Dwiarso kemudian mendalami pemahaman Jaenudin terkait surat Al Maidah 51. Jawaban Jaenudin sangat lugu. Dia mengatakan bahwa tidak mengetahui bahwa Al Maidah 51 itu ada merupakan ayat Al Quran. a�?Saya juga tidak paham isinya,a�? tuturnya.

Sementara saksi fakta lainnya, Sahbudin mengaku saat acara tersebut jaraknya sekitar enam meter dari Ahok yang sedang berpidato. Namun, dia tidak mengetahui bahwa cagub tersebut berbicara soal Al Maidah. a�?Saya tidak mengetahuinya,a�? ungkapnya.

Dia mengaku, paham adanya dugaan penistaan agama setelah melihat ceramah dari AA Gym di televisi. Selanjutnya, dia juga melihat ulang video tersebut dari Facebook. a�?Ya saya lihat videonya,a�? ujarnya.

Saat ditanya soal tanggapannya atas Ahok yang menyebut Al Maidah 51, Sahbudin mengaku kecewa atas tindakan Ahok tersebut. a�?Kecewa saja saya Pak,a�? tuturnya polos.

Dalam persidangan itu juga mendengarkan kesaksian saksi ahli anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Hamdan Rasyid. Rasyid menyebutkan bahwa pendapat MUI itu merupakan hasil musyawarah semua anggota MUI. a�?Itu hasil tabbayun,a�? ungkapnya.

Dia mengatakan, pihaknya independen dalam mengeluarkan pendapat MUI tersebut. Bahkan, dia bersumpah atas kesaksiannya tersebut. a�?Demi Allat SWT, saya independen,a�? ungkapnya.

Namun, Kuasa Hukum Ahok Humprey Jemat menolak untuk mengakui bahwa Hamdan merupakan saksi ahli. Dia menuturkan, independensi dari Hamdan dipertanyakan. a�?Kami tidak mengakui dia saksi ahli,a�? ujarnya.

Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Mukartono menjelaskan, mengakui atau tidak itu haknya kuasa hukum. Tapi, semua yang menentukan itu majelis hakim. a�?Apa yang majelis hakim putuskan tidak bisa ditolak,a�? ungkapnya.

Selain itu, Ali juga berkomentar terkait banyaknya saksi yang dilaporkan pihak Ahok. Menurutnya, laporan itu merupakan hak masing-masing. a�?Silahkan saja dilaporkan, itu hak masing-masing,a�? ujarnya.

Tapi, lanjutnya, keterangan dalam persidangan itu seharusnya tidak bisa dilaporkan. a�?Tidak bisa ya menurut saya, ini persidangan,a�? ujarnya ditemui di komplek gedung Kementan Ragunan. (idr/JPG/r8)

Berita Lainnya

Lion Air JT 610 Bermasalah di Bali, Jatuh di Karawang

Redaksi LombokPost

16 Instansi Belum Umumkan Seleksi Administrasi CPNS

Redaksi Lombok Post

Jokowi Beri Sinyal Subsidi BPJS Kesehatan

Redaksi LombokPost

Tes CPNS Baru untuk Instansi Pusat

Redaksi LombokPost

Pendaftar CPNS Segera Lapor Dukcapil Kalau Data NIK Tidak Muncul Saat Daftar

Redaksi Lombok Post

Separo Kuota CPNS untuk Pendidik

Redaksi Lombok Post

Sampai Jumpa di Guangzhou 2022

Redaksi Lombok Post

Tiga Jamaah Haji NTB Meninggal di Tanah Suci

Redaksi Lombok Post

Busana Adat Warnai Peringatan HUT RI di Istana

Redaksi Lombok Post