Lombok Post
Metropolis

Bencana Kian Merajalela

TERENDAM: Area sawah para petani di Desa Dara Kunci Kecamatan Sambelia Lombok Timur yang terendam banjir Kamis (9/2) lalu. IVAN/LOMBOK POST

MATARAMA�– Provinsi NTB belum bisa tenang. Susul menyusul bencana terus terjadi. Di tengah intensitas hujan yang masih meninggi banjir datang silih berganti. Paling parah di Sambelia, Lombok Timur dan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Sumbawa. Tiga hari berturut-turut banjir menerjang di sana. Lebih dari 29 ribu jiwa hidup penuh rasa was-was, dan kini mengharap bantuan.

Kemarin, untuk kali ketiga semenjak Selasa (7/2), banjir menerjang Sambelia,A� kawasan di timur gugusan pegunungan Rinjani. Banjir kali ini memorak-porandakan sejumlah fasilitas umum. Selain merendam rumah warga, banjir juga menyebabkan jembatan dan jalan rusak parah. Tercatat hingga tadi malam, masyarakat yang bermukim di dua dusun terisolasi.

Dusun terisolasi tersebut yakni Batu Sela dan Tekalok di Dara Kunci. Dua dusun itu tak bisa dijangkau bantuan. Padahal, warga setempat mulai kekurangan air bersih dan pasokan makanan.

Total ada enam desa di Sambelia yang diterjang banjir. Selain Desa Dara Kunci, banjir juga menerjang Desa Belanting, Sugian, Labuhan Pandan, Sambelia, dan Desa Dadap.

Infrastruktur yang rusak parah akibat banjir tersebut, di antaranyaA� jembatan di Desa Sambelia. Jembatan yang menjadi jalur utama akses masyarakat di Kecamatan Sambelia tersebut runtuh lebih dari setengahnya. Akibatnya, arus lalu lintas terganggu. Air sungai yang deras perlahan membuat kondisi jembatan semakin parah. Garis polisi telah dipasang di jembatan tersebut, sehingga warga harus berhati-hati.

Selain jembatan, banjir juga memutus beberapa jembatan sebagai akses penghubung antardesa. Di antaranya akses jalan menuju Dusun Batu Sela di Desa Dara Kunci. Dua jalan penghubung menuju dusun ini juga terputus. Sehingga sekitar 115 KK atau 368jiwa terisolasi.

a�?Kami sudah menyalurkan logistik bersama BPBD Provinsi menggunakan tali. Dua dusun itu sudah berhasil kami jangkau dengan bantuan air bersih dan makanan,a�? kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur H Napsi, kemarin. Dengan model penyaluran seperti itu, bantuan yang berhasil disalurkan memang masih terbatas.

Dia mengatakan, sebetulnya sudah semenjak dua pekan lalu BPBD Lotim telah bersiaga di Sambelia. Lantaran kondisi cuaca di wilayah ini cukup ekstrem. Banjir parah melanda kawasan ini 2013 silam. Sejumlah infrastruktur jembatan juga kala itu runtuh.

Sementara untuk pekan ini, hujan disertai angin kencang mengguyur wilayah ini selama beberapa hari. Bahkan dua malam sebelumnya, BPBD Lotim telah mengevakuasi warga yang ada di Batu Sela dan Tekalok. Selain merusak infrastruktur, bajirA� telah merusak sejumlah area pertanian masyarakat.

Kepala BPBD NTB H Muhammad Rum secara terpisah menambahkan, banjir menerjang Sambelia semenjak Selasa (7/2) sekitar pukul 19.00 Wita. Banjir terjadi akibat hujan deras disertai angin kencang. Pada saat itu, daerah yang terendam yakni Dusun Penjarum, Desa Sugian. Sebanyak 11 rumah terendam air setinggi setengah meter, Dusun Sendang Desa Dara Kunci, Dusun Batu Sele Desa Dara Kunci dengan 115 kk atau 368 jiwa.

Pada Rabu (8/2), banjir kembali menerjang sehingga menyebabkan Dusun Batu Sela terisolasi karena satu-satunya jembatan di Dusun Menanga Reak terkikis dan 2 jalan penghubung ke Dusun Batu Sela terputus. Akibatnya kata Rum, aktivitas warga dan anak-anak sekolah lumpuh total. Kendaraan baik roda dua maupun roda empat tidak dapat menuju dua dusun tersebut. a�?Warga sangat membutuhkan air bersih (air mineral), bahan pokok, obat-obatan dan tenaga medis,a�? katanya.

Rum mengatakan, beberapa langkah-langkah yang sudah dilakukan di antaranya, BPBD Lombok Timur, Basarnar, Tagana, PMI dan Tim Reaksi Cepat terus berkoordinasi dan memonitoring kondisi di lapangan. Menghimbau warga untuk tetap waspada dan mengambil tindakan penyelamatan. Sementara BPBD NTB telah mengirimkan bantuan logistik berupa 250 dus mie instan dan 250 dus air mineral.

Sementara itu, Bupati Lotim Ali BD kemarin meninjau kondisi warga. Ia mengerahkan tim dari SKPD Lotim untuk langsung merespons cepat kondisi banjir ini. Mulai dari menurunkan alat berat ekskavator hingga mendistribusikan air bersih yang sangat dibutuhkan warga.

a�?Lotim memang merupakan daerah rawan bencana. Bukan hanya bencana darat tetapi rawan bencana laut,a�? kata dia kepada wartawan.

Namun, Ali BD menyayangkan sejumlah infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak merupakan jembatan dan jalan yang sebelumnya juga telah rusak akibat banjir beberapa tahun lalu. Sehingga, ia menuding perbaikan yang dilakukan terhadap jembatan ini dilakukan dengan teknik yang sangat buruk.

a�?Baik itu jalan nasional, provinsi, maupun kabupten. Perbaikan maupun pebangunannya tidak mengantisipasi apa saja yang berkaitan dengan bencana. Kualitas bangunan kita sangat rendah,a�? kesalnya.

Ia mendugaA� perbaikan yang dilakukanA� hanya berorientasi pada proyek semata. Sehingga kerusakan akibat bencana terus terjadi berulang-ulang.

a�?Lihat saja sendiri itu, jembatannya tidak menggunakan beton hanya menggunakan tanah uruk. Biar besok mereka dapat proyek lagi. Ini menguntungkan pemborong,a�? ucapnya menunjuk arah jembatan Sambelia yang rusak.

Namun Ali BD mengaku bersyukur bencana kali ini tidak memberi dampak langsung terhadap warga. Dalam artian, banjir tidak merusak rumah tempat tinggal warga ataupun menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Banjir hanya merusak sejumlah infrastruktur saja. Namu, ia menginstruksikan infrastruktur yang rusak untuk segera direspon cepat.

a�?Karena jalan dan jembatan yang rusak ini akan menyebabkan kelumpuhan ekonomi. Kadis PU jangan pulang sampai jalan dan jembatan ini selesai diperbaiki,a�? ujarnya ke Kepala Dinas PU dan BPBD Lotim yang turut meninjau lokasi banjir di Sambelia.

Dengan potensi Lotim sebagai daerah rawan bencana, Ali BD mengaku telah menganggarkan dana tak terduga sebesar Rp 15 miliar untuk penanganan bencana tahun ini. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang haanya Rp 10 miliar.

Banjir Sumbawa

A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A� Di Tana Samawa, banjir juga menerjang semenjak Selasa (7/2) dan belum kunjung surut hingga kemarin. Di tengah intensitas hujan terus meningkat, banjir juga membawa bencana lain berupa tanah longsor dan angin puting beliung.

Sejauh ini tidak ada laporan terkait korban jiwa. Namun sebanyak 6.253 kepala keluarga atau 21.243 jiwa terdampak akibat bencana banjir tersebut. Di antaranya ada di Kelurahan Brangbara sebanyak 214 kk atau 584 jiwa. Ketinggian air di sana mencapai satu meter. Hal serupa terjadi di Kelurahan Brang Biji dengan 72 kk atau 288 jiwa terdampak.

Di Kelurahan Pekat, sebanyak 35 kk atau 135 jiwa juga terdampak, disusul Kelurahan Bugis 207 kk atau 966 jiwa. Rumah-rumah warga di sepanjang aliran sungai Brang Bara yang membelah Kota Sumbawa Besar terendam hingga satu meter.

Semenatra di Desa Labuhan Sumbawa, Kecamatan Labuhan Badas, ketinggian air setengah meter. Merendam rumah milik 560 kk atau 2075 jiwa, disusul kemudian di Dusun Pasir 578 kk atau 2261 jiwa, Dusun Padak 1.552 kk atau 5.715 Jiwa. Sementara di Kecamatan Empang 1.885 kk atau 4.342 jiwa dengan ketinggian air mencapai satu meter. Sedangkan Kecamatan Tarano terdapat rumah milik 1.471 kk atau 5884 jiwa yang terendam air juga dengan ketinggian satu meter.

Pada hari Selasa itu, angin puting beliung melanda pemukiman warga di Desa Kelungkung Kecamatan Batulanteh. Sejumlah rumah warga rusak. Sementara sepanjang ruas jalan Setonggo menuju Batu Dulang di Kecamatan Batulanteh terjadi longsor di delapan titik.

Kepala BPBD NTB H Muhammad Rum mengatakan, tim reaksi cepat Kabupaten Sumbawa bersama TNI/POLRI masyarakat dan BPBD NTB diturunkan ke titik-titik lokasi bencana. Namun, masih mengalami kendala karena minimnya sarana dan prasarana, terbatasnya dana dan terbatasnya personel. BPBD NTB sendiri telah mengirimkan bantuan logistik berupa 250 dus air mineral dan 300 dus mie instan.

Pada Rabu (8/2), banjir kembali menerjang sekitar pukul 09.00 Wita. Antara lain di Kecamatan Tarano dengan merendam rumah milik 1.812 kk atau 7.248 jiwa dan di Kecamagan Empang 1.085 kk atau 4.340 jiwa. Dan bajir kembali terjadi pada Kamis (9/2), sekitar jam 09.00 Wita di Kecamatan Moyo Utara dan Moyo Hilir sebanyak 1.372 kk atau 5.518 jiwa rumahnya terendam.

Secara khusus, untuk di Kecamatan Moyo Utara, sawah yang baru ditanam padi terendam banjir hingga 175 hektare. (ton/ili/r2/r8)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost