Lombok Post
Metropolis

Pansel: Itu Fitnah!

Ketua Pansel Kota Mataram Sekaligus Sekda Kota Mataram Effendi Eko Saswito. Lalu Mohammad/Lombok Post

MATARAM – Isu tak sedap seputar Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) melibatkan uang dan sex,A� ditegaskan hanya fitnah belaka. Itu diduga dilempar oleh orang-orang yang merasa kecewa karena tidak berhasil meraih simpati kepala daerah untuk dipilih menempati jabatan a�?sexya�� dalam birokrasi pemerintah.

Sikap keukuh Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh selama ini untuk memilih pejabat yang harus direkomendasikan melalui mekanisme pansel, ternyata membuat orang-orang yang merasa diri pantas. Mereka kemudian berusaha mengganggu keputusan wali kota dengan cara yang tidak sehat.

a�?Iya pak wali itu orang yang profesional, beliau ingin mensukseskan seluruh program pembangunannya. Karena itu dipilihlah orang-orang yang benar-benar teruji,a�? tepis salah satu anggota Panitia Seleksi (Pansel) JPTP Kota Mataram Iwan Harsono.

Tetapi, sikap tanpa kompromi Wali Kota, ternyata membuat banyak pejabat akhirnya memainkan isu. Tidak hanya menyerang Wali Kota, namun juga berusaha merong-rong kewibawaan dan profesionalisme Pansel.

a�?Kami merasakan sendiri arahan beliau (Wali Kota) bagaimana agar rekomendasi pejabat yang terpilih mampu mengejawentahkan misi mewujudkan Kota Mataram yang Maju, Berbudaya dan Religius,a�? sambungnya.

Ia berharap, semua orang tidak mudah termakan isu murahan seperti itu. Sebab, fitnah bisa diarahkan pada siapa saja. Karena alasan kepentingan golongan atau kelompok mereka tidak terakomodir.

Padahal, lanjut Iwan, misi Wali Kota jauh lebih besar dari hanya kepentingan satu dua orang saja. “Dan kami (pansel) sudah bekerja dengan profesional. Masa kami mau tergoda oleh hal-hal murahan seperti itu. Jadi saya tegaskan, itu fitnah!a�? tukasnya.

Lebih jauh, Iwan lalu menejelaskan kredibilitas dan profesionalisme kerja yang selama ini ia lakukan. Mulai dari keterlibatan pemilihan komisioner KPU, Pansel di tingkat Pemerintah Provinsi NTB dan beberapa kabupaten/kota.

“Hingga soal penilaian Adipura saya juga terlibat. Kalau memang kami mudah dibayar, tentu kota sudah meraih Adipura. Tetapi realitanya, kita tetap profesional bekerja. Saat kota dianggap tidak layak meraih itu karena standar kebersihan belum bisa terpenuhi, ya bisa lihat buktinya (Kota Mataram tidak meraih Adipura),a�? tegasnya.

“Ya posisi kami adalah korban (fitnah) dan kami harus menyampaikan kebenarannya,a�? tandasnya.

Terpisah, Ketua Pansel Kota Mataram Sekaligus Sekda Kota Mataram Effendi Eko Saswito hanya menjelaskan tentang permintaan Wali Kota untuk segera melakukan pelantikan. Nama-nama yang ada saat ini masih dalam proses penyusunan posisi jabatan sesuai dengan hasil pansel dan assessment.

“Kemungkinan besok (hari ini, Red). Kata pak Wali, lebih cepat lebih baik,a�? kata Eko.

Keinginan wali kota ini lanjut Eko didasari kepincangan organisasi yang selama ini dirasakan. Karena tidak adanya pejabat definitif di sejumlah SKPD.

Sore kemarin (9/2), pembahasan dilanjutkan dengan pertemuan dengan Baperjakat. Guna mempertimbangkan siapa pejabat yang layak menempati pos yang lowong saat ini. Baru kemudian di sodorkan pada Kepala Daerah. “Mungkin saja ada koreksi,a�? lanjut dia.

Sementara itu, gerbong mutasi yang diperkirakan Februari ini, juga tidak hanya untuk promosi JPTP atau Eselon II. Tetapi juga, untuk posisi Eselon III.

a�?Otomatis dia (mutasi dan promosi) bergerak secara keseluruhan (mengisi pos-pos kosong),a�? tandasnya.

Terpisah Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana saatA� coba dikonfirmasi terkait isu yang beredar enggan menawab apapun. Mohan juga menampakan ekspresi ketidak sukaanya dengan adanya isu tak sedap menerpa pemkot kali ini. “Nggak mau jawab!a�? jawab Mohan singkat. (zad/r5)

Berita Lainnya

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost